Dia sudah menanti hari ini selama ratusan tahun, menunggu dengan jemu tanpa ada seorang pun yang bertamu atau sekadar menyapa via whatsapp. Ah, tapi ia segera ingat jika kini dirinya berada di tempat yang asing, jauh dari jangkauan manusia dan sinyal satelit, lagi pula gadget-nya telah raib dirampas maling saat ia megap-megap menghadap takdir. Di hari penantiannya, ia digiring ke sebuah padang yang sangat luas, lebih luas daripada daratan mana pun yang pernah dikunjunginya sewaktu plesiran memakai uang rakyat. Sepanjang mata memandang, didapati manusia berjejal bagai ikan sarden dalam kaleng. Tidak, kondisinya lebih sesak lagi.


Dia dipaksa berbaris oleh malaikat-malaikat bertampang sangar, tapi ini kesangaran yang baru pertama kali dilihatnya. Jangan membayangkan tampang sangar berupa tubuh tinggi tegap berotot dengan wajah berkumis dan berjambang kasar, bukan, pokoknya jangan membayangkan seperti penampakan sangar manusia. Ini sungguh berbeda, dia pun merasa takjub melihatnya. Di tengah ketakjuban akan semua peristiwa yang sedang dijalaninya, rasa ngeri mendatangi saat dilihatnya matahari hanya berjarak sejengkal jari. Oh, sungguh panas tak tertahankan, dirogohnya sapu tangan yang biasanya selalu ada di saku jas sebelah kiri, tapi betapa kagetnya ia saat mengetahui bahwa dirinya tak berbusana. Sejak kapan kah?


Masih dengan kekagetan atas kondisi yang terjadi, berkelilinglah matanya menyapu penjuru dan dilihatnya pula hal yang sama. Semua manusia yang berjejal bagai ikan sarden ini pun tak berbusana, anehnya ia tak merasa bergairah saat melihat wanita-wanita memamerkan tubuhnya. Bukankah ini yang selalu ia cari di majalah dewasa yang saban bulan jadi santapannya? Tak habis pikir ia dengan ini semua, yang ia tahu hanyalah ini adalah hari yang dinanti karena di hari ini ia bisa bebas dari ruangan sempit dan gelap yang selama ratusan tahun ditinggali. Itu saja.


Tak berapa lama kemudian, suara berat menggema entah berasal dari mana, berbarengan dengan itu sebuah layar besar muncul, dan dari segala arah buku-buku berhamburan ke tangan-tangan manusia yang berjejal—tidak semua, beberapa dari mereka mendapatkan buku dari para malaikat yang tersenyum ramah. Menurutmu, dia mendapatkan buku dengan cara seperti apa? Baiklah, jangan dulu dijawab, kelanjutan ceritanya masih panjang, jauh lebih terasa panjang daripada penantian cinta yang berakhir sia-sia.


Benar saja, ia sudah kembali merasa bosan karena kini waktu dihabiskan untuk menonton video setiap orang yang sama sekali tak dikenalnya. Tapi, jauh di balik kebosanan itu, ada rasa resah yang menghinggapi, resah memikirkan bahwa akan tiba saatnya video hidupnyalah yang akan diputar. Sungguh memalukan jika seluruh manusia ini melihat detail kesehariannya. Maka, tanpa berlama-lama, ia bergegas menghampiri setiap malaikat dan bercakap-cakap sok akrab dengan mereka. Ternyata, jurus sok kenal berakhir sia-sia karena para malaikat ini tak mempan dengan persuasi yang dulu selalu manjur digunakannya untuk memenangkan kasus-kasus penting, hingga bertemulah ia dengan malaikat muda.


Berbekal kepiawaian berbicara, ia berhasil membujuk agar malaikat muda itu mengubah video hidupnya. Berkat itu, berjalanlah ia menuju pintu surga yang bersinar terang bak mercusuar yang menerangi lautan. Saat kakinya melangkah, bunga-bunga indah tumbuh dan menguarkan bau semerbak. Di kiri dan kanan berjejer bangunan-bangunan indah layaknya istana, berhias zamrud, rubi, dan azurea, juga topas yang dijadikan lantai untuk diinjak manusia. Betapa agungnya bangunan ini? Pekiknya dengan mata menyala.


Di belakangnya, malaikat menyapa ramah dan menunjukkan bangunan yang menjadi tempat tinggalnya. Bangunan itu sederhana, sangat tidak sebanding dengan bangunan yang dilihatnya di dekat gerbang tadi. Maka tanpa melihat-lihat dulu ke dalam bangunannya, berlarilah ia ke bangunan yang paling megah di antara bangunan-bangunan megah. Ia pun berbicara kepada pemilik bangunan itu dan berhasil menukar bangunan sederhana miliknya dengan bangunan nan megah ini. Sungguh ia sangat bersuka cita.


Setelah tidur sejenak untuk melepas lelah, ia memutuskan untuk berkeliling menyusuri seantero wilayah surga, mengamati sumberdaya yang ada dan mengkalkulasi jika semua itu diberdayakan untuk kesejahteraan dirinya. Tanpa menunggu pagi menjelang—karena ia pun bingung tentang sistem kerja dunia yang kini ditinggalinya—ia menebang pohon-pohon dan mengeruk sungai. Permata-permata bergeletakan bagaikan kerikil, oh, ini adalah surga yang sebenar-benarnya. Tanpa memerlukan waktu yang lama—begitulah yang dirasakannya—ia sudah menumpuk berbagai hal berharga di taman belakang istananya.


Namun, kesenangannya tidak bertahan lama. Daripada berbahagia, ia lebih sering merasa jemu karena kehidupan di surga sangat monoton. Manusia-manusia yang ia temui di sini adalah manusia kaku yang tidak bisa diajak menikmati indahnya hidup. Keseharian mereka hanyalah bertasbih mengagungkan sesuatu yang abstrak, tak terlihat. Betapa hal seperti itu lebih diagungkan daripada permata-permata yang sudah jelas memancarkan kilau berharga, pantaskah? Dengan kecerdikan otaknya, ia pun menyusun rencana agar dapat kembali ke dunia, dan mengabarkan kepada kawan-kawannya jika surga yang selalu mereka rindukan adalah sebuah tempat yang membosankan.


Seluruh wilayah surga sudah ia jelajahi, tapi tak satu pun ia temukan sebuah pintu untuk keluar. Ia menengadah, berpikir apakah ada angkasa di atas sana, atau dapatkah ia membuat pesawat dan menembus cahaya menyilaukan itu, juga mungkinkah ia harus mencuri sayap-sayap indah malaikat? Saat pikirannya masih berkecamuk, kakinya melangkah tak tentu arah dan menabrak seorang wanita jelita. Dia tidak dapat menggambarkan detail wajah si wanita, hanya satu kata ‘sempurna’ yang mampu digumamkannya.


Buah-buah yang terihat ranum berjatuhan dari keranjang yang dibawa si wanita, dia langsung membantu dengan cekatan sambil mengambil kesempatan untuk menyentuh tangan halus sang jelita.


“Buah-buah ini terlihat lezat, bolehkah saya meminta satu?” Ia berbasa-basi sekadar untuk mengulur waktu.


“Wahai anakku, sungguh pun buah ini terlihat lezat, tapi jangan sekali-kali kamu memakannya jika tidak ingin terkena bala.” Suara wanita itu lembut tapi tegas, dia semakin terpesona dibuatnya.


“Tolong jelaskan lagi maksudnya, saya tidak mengerti.” Kini ia benar-benar tertarik, bukan trik untuk mengulur waktu.


“Buah ini dapat membuatmu terusir dari surga,” Ia berkata lirih sambil berjalan pergi, namun beberapa detik kemudian berhenti dan menoleh kembali “itulah yang terjadi padaku dan suamiku. Dahulu.”


Bola matanya membulat, ia tak menyangka dapat bertemu seorang wanita yang melegenda, terlebih dengan informasi penting yang dibawanya. Berlarilah ia menuju pohon-pohon buah terlarang, buah khuldi yang membawa petaka bagi pendahulunya. Diamatinya setiap pohon, namun tak satu pun buah yang menggantung. Ia kalah cepat, tapi tak patah semangat. Dengan sabar ia menunggu hingga pohon itu berbuah kembali sambil mengumpulkan perbekalan untuk kembali ke dunia.


Pada hari yang cerah—seperti biasanya—buah-buah khuldi mulai masak dan dia pun sibuk mengisi penuh keranjang-keranjangnya. Diperasnya sari buah khuldi lalu dioleskannya pada setiap benda yang akan dibawanya, ia mengira itu adalah ramuan ajaib yang dapat membuat segala sesuatu dari surga pindah ke dunia. Setelah selesai, dengan mantap ia pun menyantap buah yang paling masak.


Satu tidak berhasil, dirinya masih tetap berada di surga, maka dilahapnya buah yang ketiga, keempat, kelima, hingga entah sudah keranjang ke berapa yang ia kosongkan. Mengapa tidak berhasil? Nyalinya mulia menciut. Betapa susahnya keluar dari tempat ini? padahal dahulu, ia dapat dengan bebas keluar masuk jeruji besi walaupun mata-mata penegak hukum mengawasi. Baginya, dulu, tak ada lawan politik yang tidak dapat diatasi. Di hadapannya, semua orang berakhir dengan bertekuk lutut dan rela mati.


Tepat pada saat tubuhnya rubuh karena kekenyangan memakan buah khuldi, sebuah suara berat menggema dengan cahaya menyilaukan yang menyakitkan mata. Dari segala penjuru, dilihatnya angin bertiup kencang membentuk pusaran, melahap tubuh kecilnya hingga melayang bagaikan kapas-kapas yang dihempas. Pusaran itu bergerak cepat, tak memberikan celah padanya untuk mengintip barang sebentar. Yang ia tahu hanyalah, kini, ia telah berhasil keluar dari surga yang menjemukan, tapi mengapa malah berakhir di tengah jilatan lidah api yang menusuk tulang? Ia menjerit sekeras-kerasnya, meronta sebisanya dan mengutuk segala hal yang diingatnya. Dalam hatinya ia berkata, apakah kali ini aku telah salah memilih lawan?


Vivi Prilianti