Seperti biasa, setiap petang menjelang, tibalah waktunya untukku bercengkrama denganmu, Adinda. Semoga kamu belum lama menunggu, karena hari ini aku cukup kerepotan. Bukan karena mahasiswa-mahasiswa yang nakal, tapi perkara kedua putri kita yang menginjak remaja. Sebelum memulai cerita, aku harap kamu tidak bosan, karena lagi-lagi topik yang bisa kuangkat hanya tentang kedua putri kita. Harap maklum, karena dunia pria lapuk ini hanya sebatas Melodi dan Simfoni.  


Telah kusiapkan teh hangat serta panekuk stroberi kesukaanmu, tentunya dengan takaran gula yang super minimalis. Walaupun sudah menginjak kepala empat, kamu tetap ingin terlihat langsing, bukan? Padahal, aku sama sekali tidak keberatan walaupun tubuhmu penuh gelambir. Sebentar, sepertinya kita harus berpindah tempat. Kulihat kedua putri kita beranjak ke taman belakang. Tolong bawa panekuk stroberi itu, Adinda, teh hangat biar aku yang bawa. Bunga-bunga yang bermekaran indah di halaman tetap tak dapat menandingi keelokan kedua putri kita.


Lihat, apakah kamu sudah bisa membedakan Melodi dan Simfoni hanya dengan melihat punggung mereka? Baiklah, akan kujelaskan sekali lagi. Simpan dulu piring panekuk itu, dan mari kita perhatikan punggung kedua putri kita. Walaupun terlahir dengan kesamaan rupa, tapi sungguh, mereka adalah dua pribadi yang berbeda. Yang di sebelah kiri pastilah Simfoni. Si adik jahil yang tak pernah bisa menegakkan punggungnya jika sedang duduk. Ia lebih suka membungkuk sambil bertopang dagu, berbeda dengan Melodi yang duduk anggun dengan bahu tegak dan dagu terangkat.


Kamu dengar itu, senar gitar mulai dipetik dan tubuh Simfoni berangsur tegak. Sebentar lagi, kita akan mendengarkan merdunya getaran pita suara Melodi. Kamu harus lebih sering duduk di taman belakang jika petang datang, karena kedua putri kita selalu unjuk kebolehannya di sini. Sebenarnya bukan unjuk kebolehan, tapi itulah cara mereka berkomunikasi satu sama lain. Karena Melodi hanya dapat mengetahui kehadiran Simfoni saat anak itu memetik gitarnya, dan Simfoni pun merasa mendapat tanggapan jika Melodi sudah mengalunkan suaranya—walau hanya mampu melihat gerak panjang dari bibir saudaranya.


Adinda, aku selalu merasa takjub dengan kedua putri kita. Bolehlah orang-orang berkata jika mereka itu cacat, tapi tidak bagiku. Toh, apakah mungkin Tuhan Yang Maha Agung menciptakan sesuatu yang cacat? Tentu tidak, ciptaan Tuhan selalu sempurna tanpa cela. Tidak bisa dipungkiri bahwa si menawan Simfoni tidak mengenal suara selayaknya kita, dan si jelita Melodi seumur hidup terkurung dalam dunia gelap gulita. Namun apa salahnya? Mereka yang terlahir dengan pemberian seperti itu, yang tidak pernah merasakan merdunya getaran pita suara dan indahnya goresan tangan Tuhan, tetap merasa sebagai manusia sempurna. Yah, mereka memang terlahir dengan sempurna. Apakah kita masih akan berdebat tentang definisi sempurna versi Tuhan? Sungguh, itu tidak akan ada titik temunya.


Terkadang, aku ingin punya kemampuan untuk masuk dalam pikiran mereka. Mengetahui bagaimana bentuk dunia tanpa suara yang ditinggali Simfoni, juga dunia tanpa cahaya milik Melodi. Bahkan, keinginan itu semakin membuncah jika sudah berhadapan dengan suara-suara penuh tipu daya dan pemandangan berselimut pura-pura. Dunia penuh kata-kata dan cahaya adalah surganya para pendusta. Dunia orang-orang yang dulu kamu temui setiap hari. Tapi tenang Adinda, kini kamu sudah terbebas dari semuanya.


Benar, yang kumaksud adalah mereka, pria-pria berjas hitam dan berdasi serasi yang memenuhi kolom surat kabar setiap hari. Jangan tanyakan padaku siapa mereka, karena pastilah kamu lebih mengetahuinya, Adindaku tersayang. Terlebih seorang pria paruh baya yang baru saja memasuki halaman rumah kita. Ia tetap saja berkunjung saban pekan meskipun sudah kuusir kadang dengan sikap lancang.


Kedatangannya selalu menghancurkan petang indah kita, dan aku selalu bingung memikirkan jamuan macam apa yang harus kusuguhkan pada orang yang mengganggu waktu sakral menjelang senja yang selalu kita idamkan. Entah kejutan apa lagi yang akan ia berikan hari ini, setelah kejutan tak terkira yang ia berikan bertahun-tahun lalu. Janjinya untuk membuatmu tenang ternyata diaktualisasikan dengan cara yang tak kusangka. Sungguh tepat bahwa Adindaku menjadi tenang dan tidak dipusingkan dengan kedatangan para pencari fakta, namun bukan seperti ini seharusnya.


Ia menjadikanmu tenang semata agar harta kekayaannya yang terlarang tak disita, atau masuk bui karena ketahuan korupsi. Oh, Adindaku yang malang. Sudah jelas dirundung petaka pun kamu tetap tak berdaya, pencari keadilan hanya mengatakan bahwa mobil yang kamu tumpangi terguling tak terkendali. Mereka tutup mata bahwa ada orang yang sengaja mengakali. Siapa orangnya? Tak perlu lagi kusebutkan, karena kamu, Adindaku tersayang, lebih paham pastinya.


Dan, Adinda. Tak terasa, petang sudah menjelma menjadi senja yang datang tiba-tiba. Setelah selesai mengutarakan maksud hati, pria tua itu berangsur pergi dan kedua putri cantik kita pun telah berlarian riang ke kamarnya lagi. Berarti ini pula waktunya untuk kita menutup gorden yang terbuka. Senja hanya datang sementara, pastinya setelah ini gelap malam akan segera melanda. Dinaungi cahaya terang purnama, kilau matamu tetap menjadi juara. Karena hanya itu satu-satunya yang tersisa dari Adindaku sayang, setelah Tuhan mengambil titipan akal dan kelincahannya. Masih dengan kilau mata yang memukau, tubuh Adindaku bergoyang akibat roda yang berputar. Sebuah harga yang harus dibayar akibat menjadi saksi yang ingin menguak konspirasi.


Dari balik pintu kaca, kulihat Melodi dan Simfoni tersenyum bahagia. Rasa lega merasuk saat kusadari bahwa pastinya kemalangan yang menimpa ibundanya tidak akan terjadi pada mereka. Mereka akan terhindar dari para pemain kata dan lakon drama yang menyembunyikan fakta, karena bagi Melodi dan Simfoni, hanya penglihatan dan pendengaran Tuhan-lah yang selalu mereka selami.


Vivi Prilianti