Selamat pagi, Ibu

Telah kurangkumkan matahari untukmu

Namun, mengapa ada sembab dalam sebab tergantung pada manikmu?

Masihkah tadi malam engkau merintikan tangis yang merindu kejayaan masa lalu?

 

Pagi itu, engkau hadirkan tanya padaku, “Masihkah engkau di sini?”

Meskipun daun menggugur tak kuasa menahan guntur

Ataupun ilalang meranggas sebab hijaunya meluntur

Di sini, di tempat yang engkau peroleh dengan tempur

Di sini, di tanah ladang petani yang subur

 

Wahai Ibu yang namanya titisan bahasa Sansekerta

Tanyamu ialah sebuah retorika

Lupakah engkau tentang sejarah akan tutur bijaknya?

Sebelum panji Palapa berkibar oleh patih yang namanya serupa Ganesha

Sebelum ada bocah bernama Airlangga naik tahta

Bahkan sebelum Ken Arok dan Ken Dedes bercinta

Hingga kini, ketika kolonialis imperialis dan reformasi idealis tak berbeda

Aku tetap ada, sebagai pemuda

 

 

Selamat siang, Ibu

Aku tengah beristirahat dari ladang yang sehangat mentari dan berbau kompos tai

Angin berkabar bahwa padi kita masih bisa terbuai olehnya dan menari

Walau tak tahu mungkin besok ia bisa jadi mati

 

Ibu, Masihkah engkau meragu terhadapku?

Aku yang percaya harapan yang terselip pada pohon yang tak bermusim

Aku yang percaya masa depan hanya gelap bukanlah kelam

Aku yang percaya bisa menjadi lilin walau hanya temaram

 

Jangan kau bertanya akan perih yang menggantung di pundakku

Yang menunduk terhujam terik matahari jam satu

Karena ku tak peduli walau rasanya mati kaku

Untuk tanamkan benih telanjang satu-satu

 

Seseorang bernama Dilan berkata, “Jangan rindu, itu berat.”

Benar Ibu, itu berat bagimu karena masa lalumu yang kau rindu

Namun aku merindu kejayaan masa depan yang bercermin masa lalu

Ku tak akan malu apalagi berlalu

 

Selamat sore, Ibu

Ada senja yang berjalan tanpa permisi

Tanahmu memang gemah ripah loh jinawi 

Sayangnya itu hanya kontradiksi

Karena masih ada pengemis di negeri sendiri

Tapi jangan risau, karena aku masih di sini

 

Jika masih meragu kepadaku sungguh terlalu engkau, wahai Ibu Pertiwi

Kutawarkan diriku padamu sebagai sebuah janji

Akan dirimu juga anak-anakmu

Janji yang memegang lestarinya hidupmu juga redupnya matimu

Janji yang memegang urusan sejengkal pada perut anak-anakmu

 

Ku tak peduli akan mengkilap sepatu atau merah gincu

Tak peduli pula akan politisi yang bercerita reformasi disambung kini demokrasi

Bahkan ku tak peduli akan Tuhan yang tersenyum mengujiku

Ibu, aku tak akan ragu

Kupastikan engkau tak akan mengemis pada liberalis apalagi komunis

 

Beri saja aku segenggam benih dan sebuah bajak

Maka, Tangan ini tak akan lelah bekerja

Kaki ini tak akan tak berhenti berjalan

Badan ini akan rela berkeringat

Dan dirimu akan berujar bangga akan birunya laut, putihnya awan, dan hijaunya sawahmu

 

Selamat malam, Ibu

Bintang gemintang telah datang menghias kanvas langit malam

Walau bulan telah terang kita tahu matahari tak pernah padam

 

Ibu, besok aku kembali

Bekerja memandikan tanaman pada binar matahari

Walau rinai hujan sudah malas untuk menghampiri

Atau gemericik air telah menyepi 

Aku ada tuk pastikan kehidupan mengalir pada anak-anak di negerimu ini

 

Ibu, aku tetap di sini

Menyusuri elegi anak-anak negeri

Untuk menjaga janji yang telah aku buat

Untuk tunaikan janji yang engkau pinta jadikan

Di sawah ladang para petani

 

 

Sabila Trie Utami

Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor