Karya: Kedung Dharma Romansha

 

1

Kebanyakan orang pergi karena ingin menemukan jalan pulang. Begitu sebaliknya, yang tidak pernah pergi tidak akan menemukan jalan pulang. Lalu bagaimana jika yang pergi tidak pernah menemukan jalan pulang?

Baik, cerita ini akan aku mulai dari pos ronda yang persis berada di bahu jalan, samping gang yang masuk ke arah rumahku. Kamu tahu kalau pos ronda itu digunakan sebagai tempat jaga warga untuk keamanan kampung. Secara formal seharusnya begitu. Tapi bagaimana jika pos ronda ini tidak pernah kamu temukan di belahan dunia manapun. Pos ronda ini akan membuatmu mempunyai interpretasi lain tentang dunia yang sampai saat ini kamu anggap seperti kebanyakan. Bahwa kamu melihat dunia dari kaca matamu, atau dari bisikan orang serba tahu. Tapi kamu sendiri tak benar-benar melihatnya. Dari cerita di pos ronda inilah kamu belajar bagaimana sesungguhnya dunia bekerja.

Pos ronda ini, sepanjang usianya mempunyai kentongan hanya sekali. Sekarang kentongan itu hilang, bukan hilang, tapi menjadi asbak sebelum akhirnya dibakar bersama singkong tanah. Pos ronda ini tidak mempunyai jadwal ronda. Dan ini berlaku untuk semua pos ronda di kampungku. Lalu kenapa orang-orang membuat pos ronda? Mungkin untuk menjaga malam.

Pos ronda ini tidak pernah sepi, dan yang datang pun tidak berubah. Jika jam menunjukan pukul 11.00-12.00, yang datang adalah Dodi, pencuri kelas wahid di kampungku. Apalagi menjelang lebaran seperti ini. Tentu pengeluaran mesti sebanding dengan penghasilan. Kalau tidak, mesti mencari jalan keluar. Jalan keluarnya kemana tentu tergantung siapa yang memainkannya.

Dodi pernah dipenjara gara-gara mencuri mesin air dan hampir dibakar massa. Tubuhnya pernah diseret motor keliling kampung tapi tidak lecet segarispun. Maka kekesalan warga pun makin menjadi, tubuh Dodi disiram bensin dan menyeretnya ke tengah sawah dan menaruhnya di atas tumpukan jerami mirip orang-orangan sawah. Tapi sebelum aksi pembakaran dimulai, polisi datang untuk mengamankan Dodi. Mirip polisi di film-film India. Meskipun di India belum tentu ada polisi semacam ini. Akhirnya Dodi selamat, dan mengulanginya kembali setelah keluar dari penjara.

Selain pencurian, musim begal juga mendadak viral menjelang lebaran. Aku kira persoalan begal menjelang lebaran itu milik setiap daerah. Namun menariknya di kampungku, para bandit ini janjian di pos ronda ajaib ini. Pos ronda yang menjaga malam.

Selain kumpulnya para begajul jahanam, pos ronda ini juga tempatnya judi kartu dan remaja mabuk kasmaran. Terutama malam selasa. Kamu pasti bingung kenapa tidak malam minggu? Karena malam selasa itu harinya pasar malam Selasaan di kampungku. Malam minggu tinggal sepi dan menyimpan kesepian. Kecuali setelah musim panen. Kamu akan menemukan hiburan setiap harinya. Aku sendiri biasa berburu organ tunggal bersama teman baikku, Yusup namanya, yang wajahnya tidak tampan seperti Nabi Yusup. Maka dia dipanggil Kriting. Kenapa Kriting? Karena itulah yang paling mewakili dari dirinya. Dan sialnya dia selalu gagal soal asmara.

Malam ini, di pos ronda ini, aku menunggunya bersama para begundal bajingan kampung.

“Aku pusing…kirik!”

Casta mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Anakku minta baju lebaran,” lanjutnya kemudian.

“Mau operasi?[1]” usul Kartam.

“Di mana?”

“Tetangga desa saja.”

“Tetangga desa resikonya lebih besar.”

“Resiko itu ada di mana-mana. Memangnya kita mau mancing?!”

“Kalau tahu pekerjaan ini beresiko kenapa kita ngelakuin?”

“Karena kita tidak punya pekerjaan goblok!”

“Kirik!”

Mereka diam. Seperti menunggu sesuatu. Entah apa. Aku pura-pura melamun, agar tak dianggap menguping pembicaraan mereka. Aku sadar kalau keberadaanku mengganggu mereka. Mereka berbicara dengan setengah berbisik. Sesekali salah satu di antara mereka menatapku, dan aku pura-pura tak melihatnya.

Sebetulnya keberadaanku di Pos Ronda ini tak lain hanya untuk menunggu Kriting pulang dari Jakarta—lebih tepatnya Bekasi. Tapi orang kampungku lebih suka mengatakan dari Jakarta ketimbang Bekasi. Sama halnya kebanyakan orang lebih bangga mengatakan dari Cirebon ketimbang Indramayu, kampungnya sendiri. Mungkin itulah kenapa orang di sini sering berhalusinasi.

Sudah dua tahun aku tidak bertemu dengan Kriting. Lebaran tahun kemarin dia di Kalimantan. Katanya ada pekerjaan di sana, aku tidak tahu persisnya. Tapi untuk lebaran kali ini aku yakin dia pasti pulang.

Malam makin larut. Hanya ada Casta dan Kartam di sini. Artinya hanya kami bertiga di pos ronda reot ini. Aku merasa kamilah yang sebenarnya menjaga pos ronda ini.

“Kalau aku kaya, tidak mungkin aku dengan kalian di sini. Sial!” ujar Casta sambil memandang ke arahku. “An, kira-kira lulus SMP bisa langsung kuliah tidak?” Lanjutnya, ia sengaja bertanya ngawur.

“Bisa, kalau orangtuamu yang punya universitas,” jawabku.

“Enak, ya, jadi orang kaya.”

Suaranya luruh seperti layangan putus. Wajahnya mendongak ke atas sambil menyemburkan asap rokok dari mulutnya.

Dari arah barat sebuah truk berwarna coklat—dengan tarub terpal biru di atasnya—mendekat ke arah kami. Dan berhenti persis di depan pos ronda. “Pasti ini dia,” gumamku berharap. Kedua temanku pun menyangka ini pasti Kriting. Kami tunggu sampai benar-benar mobil itu berhenti.

“Bukan,” ujar Casta kembali melemas.

“Itu siapa?”

“Pemulung yang pulang dari Jakarta.”

“Pemulung?”

Dia hanya menatapku. Lalu berbalik ke arah Kartam.

“Minum oplosan gagal lagi,” katanya kemudian.

Kuamati wajah mereka. Wajah yang lelah. Segala macam barang-barang di turunkan: tas, karung—yang entah apa isinya, VCD player, Tape, dan entah apa lagi. Kemudian mereka lekas pergi seperti angin, dan jalanan kembali sepi. Jam 02:17 dini hari.

Aku masih menunggunya bersama Casta dan Kartam. Aku berdiri di tepi jalan sambil menatap ke arah barat. Gelap. Gerimis mulai menitik. Sebentar lagi musim tandur. Aku melihat langit. Hitam. Tak ada cerita lagi yang mesti kusampaikan pada kamu di sini. Semula saya berpikir akan ada banyak cerita dari Kriting. Tapi tidak malam ini, mungkin esok atau mungkin persis ketika malam lebaran tiba. Sebentar lagi Casta dan Kartam akan beroperasi, sebab harapan satu-satunya tidak juga datang malam ini. Malam yang mungkin akan cepat dilupakan setiap orang yang sedang putus asa.

 

2

Aku ingin pulang ke rumah. Apalagi lebaran, aku tidak ingin melewatkannya seperti tahun-tahun yang sudah. Aku tidak akan melewatkan memakai baju baru, celana baru, dan jam tangan palsu baru. Orang-orang kampung akan mengira aku sukses di Jakarta. Aku akan pulang akhir menjelang lebaran saja, aku ingin mencari tambahan uang dari sampah-sampah ini. Sampah yang selama ini menghidupiku. Tapi entah dari mana mulanya, aku seperti mencium bau sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Mendadak tubuhku lemas dan tiba-tiba gelap.

Aku mendengar suara orang takbiran lamat-lamat. Seakan-akan jauh tapi seperti dekat. Kadang juga terdengar suara petasan persis berada di atasku. Dan aku baru menyadari kalau aku berada di sebuah tempat yang sempit dan dingin. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Seakan-akan aku tidak punya daya untuk keluar dari tempat sialan ini. Aku tidak bisa menggerakan tubuhku, tapi aku menyadari keberadaanku. Sendi-sendiku seperti dikunci. Aku mendengar suara orang membuka pintu lalu masuk ruangan. Orang itu seperti mendorong sesuatu, seperti terdengar bunyi roda. Tapi aku tidak tahu itu apa. Mereka tertawa. Mereka berbicara.

“Eh, tahu nggak kalau dr. Ramli itu suka sama elo?”

“Masa sih? Bukanya dia sudah punya istri, ya? Nggak usah gosip, deh.”

“Eh, kok gosip sih? Beneran kali. Coba aja lo perhatiin cara dia lihat elo?”

“Mana gua perhatiin? Lagian elo perhatian banget sih sampai tahu gitu? Jangan-jangan elo lagi yang suka sama dia. Hayooo…”

“Ihhh… apaan sih. Ngawur lo.”

Aku mendengar mereka meletakan sesuatu. Entah apa. Aku tidak tahu.

“Habis lebaran clubing, yuk?”

“Males ah, seminggu yang lalu baru aja clubing. Duit lagi cekak nih.”

“Duit tinggal minta ortu aja. Ayolah! Nggak asik banget sih. Ajak Bang Jem. Dia hot juga, loh.”

“Masa?”

Mereka tertawa. Aku tidak tahu siapa mereka dan ruangan apa ini sebenarnya? Aku ingin keluar tapi tidak bisa. Aku ingin pulang dengan membawa baju baru, celana baru, dan jam tangan palsu yang baru. Aku ingin menemui emak dan bapakku. Aku sangat merindukan mereka, dan sekarang pasti mereka menungguku datang di akhir menjelang lebaran seperti ini. Mereka menungguku dengan cemas. Setiap harinya. Aku rindu senyum mereka yang mengembang ketika melihatku datang, anak semata wayangnya. Tapi di sini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sendi-sendiku seperti dikunci. Dan sebenarnya aku berada dimana? Kenapa aku sampai di tempat sialan ini.

Aku kembali mendengar mereka bicara, dan tidak tahu apa saja yang mereka lakukan.

“Mayat no 11 sudah teridentifikasi?”

“Nggak tahu. Kayaknya belum, tuh.”

“Calon kadaver[2], nih.”

“Cowok apa cewek, sih?”

“Cowok.

“Hmmm… besar kali ya itunya…”

Mereka tertawa. Aku tidak tahu apa yang mereka maksudkan. Kemudian aku mendengar suara sepatu mereka yang semakin menjauh. Aku mendengar suara pintu ditutup. Lalu kembali sepi. Aku kedinginan. Aku ingin keluar dari sini. Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu dengan bapak dan emakku. Aku ingin bertemu dengan teman-temanku.

Hampir setahun aku tidak bertemu dengan mereka. Terutama teman masa kecilku, Aan. Selain Beki dan Govar, aku salah seorang yang sering mengajaknya ke tempat-tempat hiburan jika musim tanggapan. Organ tunggal paporit kami tentu saja organ tunggal Langlang Buana dengan artis dangdut kenamaan Diva Fiesta.

Govar pernah bercerita tentang Safitri alias Diva. Ia juga menceritakan tentang Mang Kaslan, sopir kepercayaan Safitri. Sampai kemudian aku dengar Safitri menghilang. Aku tahu Mang Kaslan banyak menyimpan rahasia mengenai Safitri. Maka sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku sempatkan mencari Mang Kaslan di Argolis. Aku sempat bertemu dengannya, tapi dia tidak banyak bercerita mengenai Safitri. Ia hanya ingin bercerita jika Safitri mengijinkannya. Akhirnya aku pamit untuk langsung berangkat ke Jakarta. Aku diantar Mang Kaslan sampai Patrol. Dia tersenyum kepadaku ketika bis Luragung berhenti tepat di depanku. Itu pertemuan pertama dan terakhirku dengan Mang Kaslan.

Pada kesempatan lebaran ini sebetulnya aku berniat ingin menceritakan pertemuanku dengan Mang Kaslan. Barangkali hal ini bisa mengobati rasa penasaran Aan mengenai Safitri. Tapi sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa di tempat yang gelap seperti ini, di dalam ruang sedingin ini, sesempit ini. Tapi aku ingin pulang. Aku ingin lebaran bersama mereka di kampung halaman. ***

 

Sumber: lakonhidup.com

Cerpen ini pernah dimuat di koran Jawa Pos pada 2 Juni 2019

 

Catatan:

[1] Operasi adalah istilah (mereka) untuk mencari sasaran rumah yang akan dicuri.

[2] Mayat yang digunakan untuk praktikum mahasiswa kedokteran.

Kedung Darma Romansha lahir di Indramayu, 25 Februari 1984. Ia dikenal sebagai pemain teater, sastrawan, dan pemain film.