BANDUNG. Institut Teknologi Bandung (ITB) tidak dapat dilepaskan dengan Masjid Salman yang menjadi pusat pengembangan dan pendidikan Agama Islamnya. Salman, sebuah nama yang disematkan oleh bapak proklamator Indonesia ini terinspirasi dari sahabat Nabi Muhammad  bernama Salman Al Farisi, seorang teknokrat yang mengusulkan pembuatan parit sebagai strategi dalam perang Khandaq. Pada awal didirikannya Masjid Salman adalah laboratorium rohani yang akan melakukan praktikum-praktikum sehingga mahasiswanya kuat. Harapannya mahasiswa bukan hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tapi juga unggul secara psikologi dan spiritual. “Sehingga lahir pemimpin bangsa yang berkualitas baik. Seperti Hatta Rajasa, Pak Muhammad Nuh, Pak Zulkifli Hasan,” ungkap Ketua Pembina Masjid Salman ITB, Dr. Suparno Satira.


Masjid Salman ITB merupakan masjid unik yang tidak lazim seperti masjid-masjid pada umumnya. Keunikan ini terutama terletak pada kubahnya. Pak Nu’man sebagai arsitektur Masjid Salman ITB menjelaskan filosofinya. Kubah Masjid Salman yang berbentuk seperti mangkok  memiliki arti bahwa Salman adalah tempat meminta kepada yang satu. Sedangkan bangunan di sekeliling Salman atapnya berbentuk kubah yang artinya Salman akan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan nilai dasar Salman yang pertama yakni Tauhid.


Sedikit banyak Masjid Salman ITB ikut mengawal perjalanan Islam di Indonesia, khususnya di Kota Bandung. Suparno mengatakan, adanya fenomena orang shalat tanpa menggunakan kain sarung (hanya menggunakan celana panjang) dan tanpa menggunakan kopiah pertama kali terjadi di Salman. Dapat dikatakan, Salman menjadi pelopor untuk menyadarkan masyarakat bahwa kain sarung dan kopiah bukanlah syarat wajib diterimanya shalat. Prinsip dasar kepeloporan ini juga dapat dilihat dari alumninya. Salman berhasil melahirkan Ahmad Sadali, pelopor pelukis modern Indonesia. Selain itu Sulaiman yang saat berdirinya masjid Salman masih berstatus sebagai mahasiswa ITB, pada masa tuanya menjadi pelopor masuknya humaniora, dan masih banyak tokoh yang lain. “Baitul Maal Wattamwil (BMT) itu juga awalnya dari Salman, sebelum ada Bank Muammalat. Semakin banyak manusia yang interaksi, yang dibutuhkan bukan hukum atau polisi tetapi internal control” tutur Suparno.