Suara tangis terdengar dari sel khusus yang terletak di sudut lorong panjang. Cahaya matahari pagi masuk melalui rongga udara, setelah sebelumnya memaksa menyusup dari celah dedaunan. Ternyata bukan hanya cahaya matahari yang memaksa menjadi bagian ruangan sempit itu, seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari sana pun berusaha mencuri pandang dan menajamkan pendengaran.


Seolah menjadi tuan rumah yang baik, Mira menenangkan para kerabatnya yang sejak awal sudah meneteskan air mata dan menyayangkan apa yang akan dialami wanita berusia enam puluh tahun ini. Ia bukannya tidak sedih atau tegang, tapi kedua hal itu sudah mendarah daging dalam dirinya dan menjelma menjadi sesuatu hal yang lumrah. Peluh menetes di kening pemuda yang sejak tadi berdiri mengamati sel tahanan Mira. Sebuah foto lusuh tetap berada di genggamannya, menampilkan seorang anak yang tersenyum ceria dalam gendongan hangat seorang wanita.


Ia menunduk lesu, seharusnya ia pun berada di ruangan itu, bersama-sama dengan yang lain memberikan dukungan moril pada wanita tua yang beberapa jam lagi akan menghadapi para juru tembak. Mira memandangi satu per satu kerabatnya yang hadir. Adik-adiknya lengkap, begitu pula keponakan yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya. Di antara banyak kerabat yang hadir, matanya tetap bergerak liar. Seorang bocah kecil melintas dalam benaknya. Anak semata wayang yang dua puluh tahun lalu sengaja ia tinggalkan sebelum memulai aksi mengerikan. Sebuah danau terbentuk di mata Mira. Ia tidak menyangka akan serindu ini pada buah hatinya.


Dua puluh menit yang berasa dua puluh detik pun berlalu. Rombongan kerabat mulai meninggalkan ruangan. Mira tua kembali merenung sendiri, ditemani semilir angin yang malah menambah sepi. Undangan bertemu Tuhan yang dua puluh tahun lalu seolah mimpi kini tiba saatnya untuk dipenuhi. Dalam pandangan samar, ia melihat sosok yang menarik perhatiannya. Mira beranjak menuju pintu, ingin melihat sosok itu lebih dekat, namun secepat kilat wajah familier itu menghilang di balik lorong gelap. Setelah menghilang di balik lorong, pemuda itu menarik napas panjang dan kembali bergabung dengan anggota regu penembak lainnya.


Sebuah senapan laras panjang bergetar dalam genggamannya. Senjata yang sudah seperti teman baiknya kini terasa asing dan menyeramkan. Berbeda dengan tiga bulan lalu, eksekusi mati kali ini sungguh membuatnya tidak tenang. Seolah jiwanyalah yang akan melayang meninggalkan raga. Butuh keberanian yang besar untuk melaksanakan tugas negara ini, dengan mengabaikan romansa pilu yang membelenggu dan hanya melihat fakta bahwa wanita tua di balik tembok sana adalah seorang pendosa. Dan sebagai abdi negara, ia wajib taat setiap saat.


***


Suara kunci borgol yang terbuka terasa memekakkan telinga Mira, keheningan malam ini sungguh tak biasa. Di tengah cahaya bulan purnama yang bersinar hangat, embusan napas Sang Rohaniawan yang menyapu kulit wajahnya terasa lebih hangat lagi. Tiga menit yang sesungguhnya berlalu dengan cepat, berusaha ia maknai lebih dalam. Tiga menit untuk selamanya, jika kata ‘selamanya' masih bisa ia gunakan. Sang Rohaniawan menepuk pundak Mira sambil memberikan doa dan semangat.


Walau di tengah gulita, ia sangat yakin baru saja melihat setetes air mata mengalir di pipi orang baik hati yang setia mendampingi manusia hina penghuni jeruji besi ini. “Jangan menangis. Sebentar lagi saya akan berada di pelukan Tuhan, bukan?” Sang Rohaniawan mengangguk tanpa kata. “Ternyata butuh waktu dua puluh tahun untuk mencapai sebuah keberanian seperti ini. Saya benar-benar sudah siap, hanya butuh sedikit waktu saja untuk menyusun kembali kalimat permintaan maaf bagi mereka.” Embusan napas hangat Sang Rohaniawan berganti dengan tangan dingin para petugas yang dengan cekatan menutup matanya dengan kain hitam dan mengikat tangan mungilnya ke tiang penyangga.


Sangat teduh, Mira berkata dalam hati. Saat dokter membuat tanda hitam tepat di dada Mira, ia merasakan gejolak yang sangat hebat. Mata Mira sejatinya telah tertutup kain hitam, tapi ia merasa untuk pertama kalinya dapat melihat dengan sangat jelas. Juga mendengar dengan lebih tajam, dan merasakan dengan kesungguhan. Masih di bawah purnama, masih dengan raga tersandera tiang penyangga, pikirannya melayang menembus dimensi waktu. Saat garis-garis halus di wajahnya belum tampak dan saat warna rambutnya masih hitam sempurna.


Pada saat itu, ia berhasil membuat beberapa orang tetap mempertahankan kekencangan kulit wajah dan kemilau hitam rambut untuk selamanya. Orang-orang itu telah abadi di sana, di suatu tempat yang akan segera dikunjunginya. Dengan kelu, sambil menahan perih akibat tali yang terikat terlalu kencang, ia menggumamkan kata-kata yang telah lama dipersiapkannya. Permintaan maaf pada orang-orang yang telah ia antarkan ke dunia sana, dan untuk sosok agung yang sudah terlalu lama ia campakkan.


Tepat sepuluh meter dari tempat Mira berdiri, dua belas orang pria bertubuh tegap bersiap mengambil posisi. Di tangan mereka masing-masing, sepucuk senjata laras panjang menatap angkuh santapan manisnya. Saat seorang pria lain menyentakkan pedang ke bawah dengan cepat, dua belas peluru meluncur ke satu titik yang sama, menembus gumpalan berwarna merah, menjalarkan nyeri yang tak terkira.


“Demi Engkau, aku masih berusaha tersenyum di tengah nyeri.Cukup romantis, kah? Dan aku pun tetap menghampiri walau yakin akan dipunggungi. Sungguh sebuah keberanian, bukan? Mencabik langit pun aku siap demi dapat bersimpuh langsung di hadapan-Mu dan memohon ampun pada kalian.” Mira tergesa mengeluarkan suaranya, berlomba dengan nyawa yang juga hendak melewati kerongkongan. Namun, suara itu tersendat, tetap bersemayam di ingatan.


Sang dokter segera memeriksa kondisi Mira, memastikan bahwa nyawa telah terpisah dari raganya. Di tengah pekerjaannya, ia tercekat melihat bibir sang terpidana mati melengkung dengan sempurna. Sepuluh meter dari sana, keterkejutan lain terjadi, seorang anggota regu penembak tumbang. Senapan laras panjang yang beberapa detik lalu dengan angkuh mengeksekusi Mira, kini terdampar di tanah bersama tuannya, beserta selembar foto yang terbalik oleh angin, menutup kenangan yang telah kalah oleh waktu. 

Vivi Prilianti