BANDUNG. Institut Teknologi Bandung (ITB) memiliki banyak sudut kampus yang diisi berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Salah satunya adalah UKM rumpun kesenian, Marching Band Waditra Ganesha (MBWG). Nama MBWG berasal dari bahasa Sansekerta. Waditra berarti penabuh atau pemusik, dan Ganesha sang gajah yang dipakai sebagai logo ITB adalah dewa ilmu pengetahuan.  Konon MBWG yang berdiri pada 17 Mei 1971 ini merupakan marching band pertama di Indonesia.  Tak ayal UKM yang menggerakkan hampir seratus orang dalam sekali tampil ini menjadi unit yang populer di ITB. “Dari awal yang daftar itu ada 200 orang, cuma yang benar-benar pengen lanjut itu 60 orang,” ungkap ketua umum MBWG, Muhammad Nazar Qodri.

 

Menurut Nazar, MBWG terbagi menjadi empat kategori alat atau yang biasa disebut fraksi. Pertama adalah Battery, alat pukul ini dinamakan battery karena menjadi sumber energi dan pengatur tempo dari sebuah marching band. Fraksi ini berisi alat pukul seperti snare dan bass drum. Selanjutnya ada Percussion in Tone (PIT), kategori ini juga berisi alat pukul seperti battery namun memiliki nada seperti marimba. Fraksi ketiga adalah Brass, fraksi ini berisi alat musik tiup yang menjadi pemegang melodi dari marching band seperti terompet. Nama brass sendiri merupakan sebutan dari material sejenis logam yang digunakan dalam pembuatannya. Terakhir yang menjadi pusat daya tarik visual dari marching band adalah color guard dengan alat bendera warna-warninya atau koreografi.


Sebagai UKM yang cukup besar, Nazar mengaku MBWG memiliki Rencana Umum Kaderisasi (RUK) tersendiri. RUK ini memegang nilai-nilai yang menjadi prinsip dari MBWG yakni disiplin, manajemen diri, loyalitas dan kebersamaan. Demi menjaga berjalannya pinsip tersebut, MBWG menjadi cukup berbeda dari marching band pada umumnya. Bukan sekedar ekstrakurikuler yang dipadati dengan latihan belaka, MBWG merupakan sebuah organisasi intrakampus yang memiliki banyak program kerja di luar latihan. Tak lain, dibentuknya organisasi ini dimaksudkan untuk memfasilitasi anggota yang berjumlah lebih dari 100 orang untuk belajar dan melatih soft skill di tengah masyarakat. “Kalo di ITB itu kebanyakan anak Ilmu Pengetahun Alam (IPA), yang isinya tugas, paper, praktikum tapi mereka masih bisa bertahan di sini. Kalo marching band lain itu kebanyakan anak Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), jadi ngga sepadat kita,” jelas Nazar.


Dalam program latihan, MBWG membaginya menjadi dua jenis yakni latihan kompetisi dan latihan Program Integrasi dan Kaderisasi Anggota (PINKA). Sesuai dengan namanya, latihan kompetisi diadakan sebagai persiapan menghadapi perlombaan. MBWG memiliki beberapa kompetisi tahunan yang biasa diikuti antara lain Grand Prix Marching Band (GPMB) dan Bandung Marching Band Championship (BMBC). Kedua kompetisi ini diadakan pada bulan November setiap tahun. MBWG yang langganan memboyong tropi ini biasa mempersiapkan kompetisi tersebut dengan latihan rutin dua kali dalam seminggu. Latihan ini dilakukan mulai pertengahan Maret secara intensif. Tak jarang MBWG menggelar latihan panjang pada akhir pekan tertentu. “Menginap Sabtu-Minggu, amanya Training Camp (TC), kalau bulan tersebut dirasa perlu peningkatan progress ya kita lakuin,” ujar mahasiswa Geofisika angkatan 2014 tersebut.


Sedangkan PINKA merupakan program latihan yang dikhususkan bagi anggota baru. Program ini merupakan latihan dasar untuk menstandarkan skill anggota yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Idealnya latihan kompetisi menjadi tahap lanjutan dari PINKA, atau bisa disebut anggota baru yang belum lulus PINKA tidak diperkenankan mengikuti kompetisi. “Tapi kalo ada mahasiswa baru (maba) yang punya skill yang excellent ya bisa juga ikut latihan kompetisi,” tambah Nazar.

 

Di samping dua jenis latihan tersebut, sebagai sebuah organisasi MBWG memiliki program lain yakni latihan gabungan dan study banding. Untuk latihan gabungan, komunitas marching band Bandung biasa mengadakan tiap tahun. Acara yang dipanitiai oleh anggota beberapa marching band di Bandung ini menjadi ajang bertemunya marching band dari Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat,marching band Lokomotif (PT. Kereta Api Indonesia), serta marching band kampus seperti Sadaluhung Padjadjaran Drum Corps (SPDC) Universitas Padjadjaran (UNPAD).

 

Untuk study banding, Nazar mengaku sering melakukannya dengan beberapa marching band kampus lain. Mada Bahana Universitas Indonesia (MBUI) merupakan salah satu yang paling sering dikunjungi dengan berbagai alasan. Selain karena Depok yang tidak terlalu jauh dari Bandung, MBUI dan MBWG rupanya memiliki hubungan yang sangat baik. MBUI tak jarang ‘meminjam’ anggota MBWG untuk latihan di sana, sedangkan MBWG sering meminjam peralatan marching band dari MBUI saat belum memiliki peralatan yang cukup. “Alumni MBUI sangat mendukung dan jaringannya sangat luas,” Ungkap mahasiswa asal Bangka ini.

 

Di akhir wawancaranya dengan Retorika Kampus, Nazar menceritakan beberapa hal unik yang dialaminya sejak menjadi anggota hingga kini menjabat sebagai ketua umum di MBWG. Di antaranya adalah pengalaman buruk yang ia sebut datang dari haters MBWG yang merasa terganggu dengan kebisingan yang ditimbulkan. Selain itu, banyakya massa yang terlibat saat latihan membuat MBWG membutuhkan ruang berlatih yang luas.  Tak jarang, saat mereka berlatih suaranya terdengar hingga Masjid Salman ITB sehingga kebisingan tersebut disebut ‘ibadah’nya MBWG. Bahkan sebelum memulai latihan, saat lari mengelilingi lapangan basket sebagai pemanasan MBWG sering diejek seperti tukang siomay karena bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh pengatur temponya. “Sebelum lomba kita adain upacara pelepasan di lapangan basket dan ngundang semua massa kampus. Nah itu kita buktikan bahwa selama ini kita mempersiapkan ini,” sanggah Nazar.

 

Meskipun mengaku banyak haters, MBWG juga memiliki banyak penggemar di Kampus Gajah ini. Mereka yang mengagumi MBWG selalu menanti saat MBWG latihan karena mampu menghidupkan suasana kampus yang hening di malam hari. Dukungan inilah yang menjadikan MBWG tetap berkarya dan optimis memandang jauh ke depan. “Pengennya orang-orang yang dengar MBWG bisa merasa ini marching band bagus nih, megah. Seperti saat tampil di Opening Ceremony Sea Games tahun 1977 dulu dimana selapangan Gelora Bung Karno itu isinya anak ITB semua,” pungkas Nazar, ketua umum MBWG yang akan serah terima jabatan pada Maret 2018 ini. 


Reporter: Nisaul Kamila