ia hanyalah wanita yang berselimut perasaan

yang langkah kakinya menuju ke mana saja hati mengarahkan

dan baginya, ketercapaian tidaklah lebih penting daripada keharmonisan

 

ialah wanita itu

yang matanya selalu basah jika angin barat berhembus ke timur

atau saat dedaunan memuntahkan sinar mentari dari kotak pati

 

akulah wanita itu

yang mengeluarkan otak dari batok kepalaku

membiarkannya dihinggapi lalat demi memastikan puding coklat di atas meja tetap bersih dan enak

 

aku juga pelakunya

yang melubangi pembuluh darah

dan membiarkan cairan merah menyirami hamparan ladang jagung di sana

menghadirkan senyum dan ucap syukur mereka

yang saban hari berdoa meminta hujan

saat Tuhan mentakdirkan baginya kekeringan

 

aku sudah mengaku sekarang

ia itu aku

yang melakukan itu

lalu mereka ramai-ramai menjulukiku,

“si bodoh” katanya

kumendengar, tapi sulit berpikir karena otakku telah lama jadi tumbal puding

tapi rasanya sakit

apakah, menjadi bodoh adalah sebuah kebodohan?