BANDUNG. Salah satu buku rekomendasi saya minggu ini adalah Blink (Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir) yang ditulis oleh Malcolm Gladwell. Buku terbitan Gramedia ini merupakan bestseller internasional dan telah mencapai cetakan ketigabelas pada Januari 2015 setelah diterbitkan pertama kali pada Juni 2005. Blink adalah sebuah buku yang mengungkap kemampuan manusia dalam melakukan snap judgment atau penilaian singkat dalam dua detik pertama.


Seperti karya-karya Malcolm Gladwell lainnya, buku ini berisi kisah-kisah serta penelitian-penelitian yang menguatkan teori-teori yang ingin dipaparkan oleh Gladwell. Gladwell selalu punya cara unik untuk menyajikan teorinya yang seringkali tak lumrah dan sebenarnya kompleks dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca.


Buku setebal 316 halaman ini dimulai dengan sebuah cerita pembuka yang sangat seru berjudul Patung yang Tampak Kurang Pas. Pendahuluan itu menceritakan konflik yang terjadi pada tahun 1983 di California, Amerika Serikat (AS) terkait pembelian sebuah patung antik dari batu pualam yang berasal dari abad keenam Sebelum Masehi. Dengan harga kurang lebih 10 juta dolar, patung tersebut hampir dibeli oleh sebuah museum setelah melalui empat belas bulan penelitian tentang keaslian patung tersebut. Berita tentang patung tersebut pun dimuat dalam headline New York Times. Namun saat pengelola museum tersebut mengundang para pakar patung Yunani tanggapan para pakar saat pertama kali melihat patung tersebut sungguh aneh. Salah satunya Thomas Hoving, kata pertama yang muncul dalam benaknya saat melihat patung tersebut adalah ‘fresh’. Kata ini tentu aneh jika disandingkan dengan sebuah barang antik. Penolakan intuitif ini akhirnya menjadi awal mula penelitian lebih jauh terkait keaslian patung tersebut dan benar saja. Patung tersebut ternyata palsu, banyak dokumen dokumen yang dipalsukan. Kemampuan membaca secara singkat itulah yang dibahas secara mendalam pada bab bab berikutnya.


Gladwell tampaknya ingin bersikap objektif dalam buku tersebut dengan memaparkan beberapa kemungkinan kesalahan dalam pembacaan singkat tersebut. Bagi saya sah-sah saja, meskipun menurut saya pada bagian tersebut justru terkesan sedikit membosankan. Seperti saat ia menceritakan bagaimana Warren Harding yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat hanya karena penampilan fisiknya yang tampan dan menyenangkan. Namun pada akhirnya setelah 2 tahun menjabat, banyak sejarawan yang menyatakan Harding adalah presiden terburuk dalam sejarah AS. Pemaparan bahaya snap judgment tersebut menurut saya sedikit prematur. Dengan menceritakan beberapa kelemahan snap judgment atau pembacaan sekilas itu membuat kita sedikit resisten untuk mempelajari trik-trik pengamatan sekilas yang dibahas di bab-bab berikutnya. Meskipun sebenarnya pada bab-bab berikutnya dibahas pula kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan pembacaan sekilas itu salah. Misalnya, Gladwell mencontohkan adanya stereotip yang buruk terhadap warga kulit hitam di AS sehingga saat dilakukan tes mencocokan sifat seseorang dan sebuah foto wajah seseorang maka didapatkan hasil bahwa hampir setiap sifat baik berada di bawah foto wajah berkulit putih dan sifat buruk berada di bawah foto wajah berkulit hitam.


Namun secara keseluruhan buku ini mampu membawa kita untuk meyakini bahwa kita memiliki potensi luar biasa yang jarang kita sadari, yaitu kemampuan alam bawah sadar kita. Dan kemampuan ini bukan sesuatu yang magis dan hanya dimiliki segelintir orang. Kemampuan ini adalah sesuatu yang dapat dilatih dan dikembangkan, dikendalikan dan disempurnakan. Melalui buku ini Gladwell kembali berhasil mengungkapkan sebuah gagasan fenomenal dalam kisah-kisah yang menarik dan patut untuk direnungkan. Wajar jika buku ini menjadi bestseller internasional.