Judul asli         : Taeksi Woonjunsa (Korea)

Sutradara         : Jang Hoon

Penulis             : Eom Yu-na

Genre               : Action, Histori, Drama

Pemain             : Song Kang-ho, Thomas Kretschman, Ryu Jun-yeol, Yoo Hae-jin.

Durasi              : 137 menit

A Taxi Driver dirilis pada tanggal 2 Agustus 2017. Memecahkan rekor box office Korea Selatan tahun 2017 dengan lebih dari 12 juta penonton. Pada penayangan hari ke-6 telah berhasil menutup biaya produksi dan keuntungan total dari film ini mencapai 89 juta dolar. A Taxi Driver berhasil meraih 3 penghargaan pada ajang Asian world film festival.

sumber: http://www.google.co.id

***

Film ini dimulai dengan adegan seorang sopir taksi bernama Kim Man Seob (Song Kang Ho) yang tengah kebingungan karena memiliki masalah ekonomi. Hal tersebut membuat pak Kim harus segera mendapatkan uang untuk membayar sewa rumah kontrakan dan membelikan sepatu untuk anak semata wayangnya yang telah kehilangan seorang ibu. Di sisi lain, Jurgen Hinzpeter (diperankan Thomas Kretschnann) seorang jurnalis BBC asal Jerman yang telah lama menetap di Jepang mendapat kabar kerusuhan di Gwang-Ju Korea Selatan yang terjadi sejak semalam (18 Mei 1980). Kabar tersebut mendorong Peter untuk terbang ke Korea Selatan malam itu juga.

Setibanya di Korea Selatan pada tanggal 20 Mei 1980, rekan-rekan sesama jurnalis BBC telah mempersiakan akomodasi dengan menyewa sebuah mobil yang akan membawanya ke Gwang-Ju. Inilah awal pertemuan Peter dengan Kim. Kim yang mendengar percakapan sopir yang akan menjemput Peter dengan imbalan 100.000 won hanya dengan mengantar penumpang ke Gwang-Ju dan kembali ke Seoul, serta merta menyerobot dan menjemput Peter di Bandara International Gimpo, Seoul.

Karena merupakan wilayah konflik, akses menuju Gwang-Ju ditutup dari berbagai sisi. Demi mencapai tujuannya, Peter mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pengusaha yang melakukan bisnis di Gwang-Ju. Setelah melakukan segala cara akhirnya mereka berhasil memasuki Gwang-Ju. Sampai di daerah konflik tersebut, Kim dan Peter dikagetkan dengan carut marut Gwang-Ju yang dipenuhi dengan kertas dan spanduk bertuliskan ‘Kembalikan Demokrasi’.

***

Sejarah Gwang-Ju, 1980.

Pemberontakan yang terjadi di Gwang-Ju sendiri sebenarnya adalah bagian dari gerakan demokratis masyarakat Korea pada saat itu. Gerakan tersebut adalah salah satu reaksi yang timbul pascatragedi pembunuhan presiden Park Chung-hee pada 26 Oktober 1979. Rezim Park yang berkuasa selama 18 tahun dan hancur secara tiba-tiba ini tentu membuat situasi politik dan sosial menjadi tidak stabil.

Choi Kyu-hah, yang saat itu bertindak sebagai perdana menteri, diangkat menjadi presiden sesuai ketentuan yang tertera di Article 48 pada Yushin Constitution. Namun pada Mei 1979, Chun Doo-hwan, jenderal militer Korea, mulai melakukan perlawanan. Hingga akhirnya, pada bulan Desember Chun berhasil menurunkan paksa Choi melalui revolusi militer, dan ia pun bertindak sebagai pemimpin negara.

Rezim pimpinan Chun pun menuai protes dari banyak orang. Karena sebelumnya Choi berjanji untuk mengubah pemerintahan Park yang otoriter. Dia juga berjanji akan mengadakan pemilihan yang lebih demokratis serta membuat konstitusi baru untuk mengganti Yushin Constitution. Maka dari itu banyak terjadi protes, karena masyarakat cukup tegas dalam menolak kediktatoran. Penolakan inilah yang memicu Chun bertindak represif terhadap pihak-pihak yang dianggap bertentangan.

Gwang-Ju menjadi salah satu wilayah terparah akibat tindakan represif militer ini. Protes di Gwang-Ju awalnya hanya dilakukan oleh para mahasiswa Chonnam University. Namun situasi semakin memanas setelah pihak militer mulai ‘melawan’ dan menimbulkan korban jiwa dari mahasiswa. Penduduk lokal pun marah, dan konflik semakin membesar. Bahkan, peristiwa ini diperkirakan menelan ratusan korban jiwa sepanjang 18 hingga 27 Mei 1980.

***

Memasuki jalanan sepi Gwang-Ju, Kim dan Peter bertemu dengan kawanan mahasiswa yang akan melakukan aksi unjuk rasa dipimpin oleh Jae Sik (Ryu Jun-Yeol). Membersamai dalam aksi demo, Kim dan Peter bertemu dengan Choi seorang reporter local. Dari Choi, Peter mendapat sebuah fakta bahwa koran yang memberitakan kerusuhan tersebut dibredel oleh pemerintah dan diganti dengan berita yang diputarbalikkan. Peter yang sempat tertangkap basah tengah merekam aksi penyerangan warga sipil oleh militer pun dikejar tanpa ampun oleh militer, untungnya Peter dan Kim berhasil meloloskan diri. Namun, Jae-Sik tertangkap.

sumber: http://www.google.co.id

Atas sebab lelahnya Kim karena terseret dalam kerusuhan tersebut, Kim sempat menyelinap meninggalkan Peter untuk kembali ke Seoul. Namun, sesampainya di Seoul Kim bertemu dengan sekawanan orang yang membicarakan konflik Gwang-Ju. Anehnya, yang mereka bicarakan berbeda 180 derajat dari fakta lapangan yang ia saksikan. Rupanya, berita yang beredar adalah anarkisme mahasiswa  dan warga sipil Gwang-Ju yang membantai militer. Kejadian itu semakin membuat Kim tak dapat melepas bayang-bayang penderitaan masyarakat sipil Gwang-Ju. Akhirnya Kim kembali ke Gwang-Ju dengan tekat ‘Aku harus mengantar penumpangku sampai tujuan’.

Kembali ke Gwang-Ju, keadaan menjadi semakin kacau. Jae-Sik ditemukan tewas disusul dengan pembantaian membabi buta pada warga sipil bahkan saat mereka menyatakan menyerah. Setelah dibombardir senapan, warga sipil yang maju untuk menyelamatkan orang yang sekarat pun tak lepas jadi sasaran tembak militer. Dalam suasana yang semakin panas, Kim, Hwang Tae-Sool (Yoo Hae-Jin) beserta beberapa sopir taksi lokal melakukan aksi heroik membawa puluhan korban tembak yang masih bertahan hidup dengan taksinya. Tentu saja, dengan Peter yang masih setia mengabadikan semua tragedi tersebut dalam kameranya.

Lepas dari kerusuhan tersebut, warga sipil dan sopir taksi lokal yang masih bertahan memaksa Peter dan Kim untuk segera kembali ke Seoul. Mereka menjadi satu-satunya harapan warga Gwang-Ju untuk mengabarkan kesengsaraan mereka pada dunia, setelah semua pers lokal dibredel dan ditunggangi pemerintah. Berbekal plat mobil Gwang-Ju dan jalur rahasia yang telah disiapkan Tae-Sool, Peter dan Kim kembali ke Seoul.

Terus terang adegan kembalinya Kim dan Peter ke Seoul adalah favorit saya. Adegan menjadi semakin seru karena kabar masuknya wartawan asing beserta sopir taksi Seoul ke Gwang-Ju telah menyebar. Semua jalur rahasia berada dalam pengawasan militer. Taksi Kim terpaksa harus digeledah. Adegan menegangkan terjadi saat seorang komandan menemukan plat taksi Seoul yang disembunyikan dalam bagasi. Sampai saat ini, saya masih bertanya-tanya kenapa komandan tersebut justru mengizinkan Kim dan Peter keluar Gwang-Ju setelah membuat mereka tertangkap basah. Bahkan memaksa prajuritnya segera membuka benteng besi sesaat sebelum atasannya menelepon untuk tidak mengizinkan siapapun keluar dari pintu tersebut karena telah mengetahui Kim dan Peter menuju kesana.  

sumber: http://www.google.co.id

Aksi kejar-kejaran Kim dan militer Gwang-Ju menjadi adegan paling menegangkan. Tae-Sool dan pasukan taksi lainnya menyusul Kim dan Peter lalu membuat barisan untuk mengawal mereka keluar Gwang-Ju. Hingga hampir semua pasukan taksi mati atas bombardier tembakan militer, Tae-Sool berpesan pada Kim dan Peter untuk terus jalan dan tidak mempedulikan mereka. ‘Kami hanya mengawal sampai sini, tolong sampaikan kabar kami yang sebenarnya pada dunia. Jangan pedulikan kami, kami akan baik-baik saja’. Kalimat tersebut disusul dengan adegan Kim menyaksikan dari spionnya saat Tae-Sool menabrakkan diri ke pasukan militer agar Kim memiliki waktu lebih untuk tancap gas meninggalkan Gwang-Ju. Sungguh adegan yang menguras emosi.

Sampai di Seoul, Peter mengemasi compact disk (CD) hasil liputannya pada sebuah kaleng biskuit untuk mengelabuhi petugas bandara. Di sini, Peter meminta nama lengkap Kim agar suatu hari dapat bertemu kembali karena Kim telah berjasa besar pada dirinya. Kim yang merasa tidak tenang, menyuruh Peter untuk mengubah penerbangannya ke Jepang menjadi hari itu. Benar saja beberapa saat setelah Peter memasuki Bandara, pemerintah Gwang-Ju menelepon Bandara Gimpo untuk menahan seorang wartawan berkebangsaan Jerman yang akan terbang ke Jepang esok hari.

Pada Desember 2003 Peter mendapat penghargaan dari Pemerintah Korea Selatan atas jasanya membuka mata dunia atas wajah kelam Korea Selatan tahun 1980. Dalam pidatonya Peter berulang kali menyebut Kim, sopir taksi yang menjadi teman berjuang di Gwang-Ju. Peter mengaku kesulitan mendapat kabar untuk menemukan Kim. Ini terjadi karena Kim tidak menuliskan nama asli saat Peter memintanya 23 tahun lalu.

Di akhir film terdapat video berdurasi kurang lebih 3 menit yang diambil pada November 2016.  Video tersebut merekam Peter yang masih terus mencari Kim bahkan setelah 36 tahun. “Jika saya bisa menemukan anda melalui rekaman ini dan kemudian bertemu denganmu sekali lagi, saya akan sangat bahagia. Saya akan bergegas ke Seoul dalam sekejap. Naik taksi anda dan lihat Korea yang baru”.

Film yang berhasil menggeser Battleship Island dari jajaran film terlaris Korea Selatan ini sangat recommended untuk ditonton. Bahkan rottentomatoes bidang resensi film internasional memberikan skor 95%. Film ini menggambarkan betapa pemerintah dapat dengan mudah memutarbalikkan fakta dengan kekuasaannya, serta betapa mengkhawatirkannya akibat dari pembungkaman pers. Semoga dapat termaknai di tengah perayaan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada tanggal 9 bulan ini.