BANDUNG. Mona Lisa Smile adalah sebuah film yang dirilis tahun 2003. Dibintangi oleh aktris ternama Hollywood, Julia Roberts yang berperan sebagai Katherine Ann Watson. Katherine adalah seorang feminis liberal yang mengajar di sekolah perempuan Wellesley College yang terkenal sangat konservatif. Sekolah tersebut menyiapkan perempuan-perempuan muda untuk menjadi istri yang baik.


Pada hari pertamanya mengajar Katherine mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari murid-muridnya. Seluruh mahasiswa di kelas ternyata telah menyelesaikan silabus yang harus mereka pelajari. Katherine menyadari bahwa perempuan-perempuan muda yang ia hadapi adalah perempuan-perempuan yang sangat cerdas. Kelas dapat menjawab semua pertanyaan Katherine sehingga membuat Katherine mati gaya. Bahkan kelas ditutup karena mereka merasa mereka bisa belajar sendiri.


Pukulan tersebut membuat Katherine berusaha lebih keras untuk mengenal murid-muridnya secara detail. Ia meminjam data kemahasiswaan dan mempelajari latar belakang murid-muridnya. Setidaknya ada 4 mahasiswi yang berada dalam satu kamar asrama yang diceritakan intens dalam film tersebut.


Pertama, Betty Warren (Kirsten Dunst) yang sangat vokal dalam memperjuangkan nilai-nilai konservatif, ia menulis untuk koran kampus. Ia tidak mengerti dengan pola pikir Katherine dan selalu menyerangnya dalam setiap kesempatan. Diceritakan pula ia sedang menanti masa pernikahannya dengan Spencer (Jordan Bridges). Seorang pemuda yang sudah dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Namun pada akhirnya, karena retaknya pernikahan Betty dan Spencer ia justru mulai mempelajari pemikiran feminis dan mulai menulis tentang kesetaraan gender.


Kedua, Joan Brandwyn (Julia Stiles) yang adalah murid favorit saya dalam film ini. Diceritakan Joan adalah seseorang yang memiliki leadership dan bercita-cita untuk sekolah hukum dan menjadi pengacara. Sebuah profesi yang jarang disentuh oleh kaum perempuan. Katherine mendorongnya untuk mendaftarkan diri ke sekolah hukum Yale University. Namun pada akhirnya ia menikah dengan kekasihnya Tommy (Topher Grace), seorang pemuda lulusan Harvard University. Ia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Saat Katherine terpukul dengan keputusannya tersebut ia mengatakan bahwa bagi seorang perempuan, menjadi istri dan ibu tidak akan mengurangi intelektualitasnya. Ia dengan sadar memilih jalan tersebut agar dapat menciptakan generasi yang lebih baik. Bukan karena doktrin yang berlaku di masyarakat pada saat itu bahwa perempuan hanya mampu mengerjakan urusan domestik.


Berikutnya adalah Giselle Levy (Maggie Gyllenhaal), perempuan yang memiliki gaya hidup seks bebas. Ia senang dengan Katherine karena mengajarkan murid-muridnya untuk independen. Berlatar belakang keluarga yang berantakan, Giselle tumbuh menjadi gadis yang liar dan urakan. Dan terakhir adalah Connie Baker (Ginnifer Goodwin). Seorang perempuan muda yang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Ia mulai menemukan seseorang yang dia anggap dapat menjadi suaminya kelak yaitu Charlie (Ebon Moss-Bachrach). Charlie tak lain dan tak bukan adalah sepupu Betty. Namun karena ketusnya kata-kata Betty, percintaan Connie dan Charlie kandas di tengah jalan.


Film berlatar belakang Amerika tahun 1953 ini sebenarnya justru menuai banyak kritik negatif baik dari para kritikus film maupun perhimpunan alumni dan Wellesley College sendiri. Mereka menganggap penggambaran Wellesley College sendiri tidak akurat dan film ini dianggap gagal menyampaikan hal-hal berbau pemikiran.


Bagi saya film ini justru mampu menggambarkan pemikiran yang dihadapi oleh tiap tokohnya. Meskipun menurut saya plot film tersebut tidak halus dan terkesan terlalu gamblang. Semua pemikiran yang ingin disampaikan berubah menjadi dialog antar peran. Seakan-akan melupakan banyak detail untuk menggambarkan kondisi perempuan Amerika pada saat itu yang jauh dari ilmu pengetahuan dan keadilan sosial.


Namun, terlepas dari isu-isu feminisme seperti kebebasan perempuan untuk berkarir dan tak berkeluarga  yang tak sepenuhnya saya setuju, tetap saja saya selalu bersemangat melihat perempuan-perempuan muda yang haus akan ilmu pengetahuan dan segala konflik yang dialaminya dalam mengambil keputusan besar dalam hidupnya.