Menyambut bulan April, bulannya Kartini, bulannya perempuan. Salah satu film favorit saya yang mengangkat tema perjuangan perempuan adalah To Walk Invisible. Film ini menceritakan kisah nyata kehidupan Bronte Bersaudara. Charlotte Bronte, Emily Bronte dan Anne Bronte adalah penulis ternama di era Victoria yang harus menggunakan nama samara androgini agar dapat menerbitkan buku hasil pemikiran mereka. Karena pada saat itu kegiatan sastra dan tulis menulis didominasi oleh kaum pria.


Currer Bells, Ellis Bells dan Acton Bells adalah nama samaran mereka setelah melalui pergulatan yang panjang. Kondisi keluarga Bronte mengalami krisis saat adik bungsu mereka yang merupakan laki-laki satu-satunya, Branwell Bronte kerap mabuk-mabukkan dan membuat ulah dengan menghabiskan uang keluarga yang tak seberapa. Ayah mereka begitu memanjakan Branwell sehingga kelakuan Branwell semakin menjadi-jadi. Di tengah krisis finansial itulah Charlotte, Si Sulung yang digambarkan berwatak penuh tekad dan tegas ini berinisiatif untuk menerbitkan tulisan-tulisan berupa puisi dan novel yang selama ini hanya menjadi konsumsi pribadi atau terkadang dibacakan kepada saudari-saudarinya. Ia pun mengajak saudari-saudarinya turut serta mengirimkan karya mereka.


Pada awalnya tak banyak yang membeli kumpulan puisi mereka, namun setahun berlalu tak dinyana Jane Eyre karya Currer (Charlotte), Wuthering Heights karya Ellis (Emily), dan Agnes Grey karya Acton (Anne) mendulang sukses yang luar biasa. Meskipun Jane Eyre melebihi karya lainnya. Pengakuan pun datang dari penerbit Smith, Elder & Co. yang awalnya tak percaya bahwa Bells bersaudara adalah perempuan.


Film biopik ini mengandung pesan kuat tentang perlawanan perempuan yang tak akan lekang oleh waktu untuk memiliki hak-hak yang setara dengan pria. Budaya patriarki yang menyudutkan perempuan dan menjadikannya second class citizen barangkali adalah pekerjaan rumah yang tak usai sejak jaman dulu, namun selalu ada cerita perempuan-perempuan tangguh yang mampu mendobrak itu semua.


Film besutan sutradara Sally Wainwright ini juga menampilkan situasi rumah Keluarga Bronte yang saat ini menjadi museum dan dikunjungi oleh puluhan ribu orang setiap tahunnya. Meskipun akhir kehidupan ketiga bersaudari ini menyedihkan karena tuberculosis (TBC) namun karya-karya mereka masih tetap hidup sampai saat ini. Sama seperti Kartini yang mati muda namun spiritnya tetap dapat kita rasakan sampai hari ini.


Selamat Hari Kartini!