Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari membuat saya mencoba mengingat-ingat film-film menarik yang membuat saya tertarik untuk berprofesi sebagai jurnalis. Dan dari sekian film bertemakan dunia jurnalis yang pernah saya saksikan, saya rasa Spotlight mengungguli film-film lain.

 

Diangkat dari kisah nyata, Spotlight menceritakan sebuah tim investigasi di The Boston Globe, sebuah perusahaan penerbitan surat kabar di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Spotlight adalah tim khusus yang menangani kasus-kasus besar. Mereka dapat melakukan investigasi selama berbulan-bulan sebelum menerbitkan sebuah berita. Film ini mengisahkan anggota Spotlight yang dipimpin oleh seorang editor bernama Walter ‘Robby’ Robinson (Michael Keaton) dan ketiga reporter yaitu Michael Rezendez (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James). Selain keempat anggota tim inti tersebut adapula Ben Bradlee Jr. (John Slattery) sebagai deputy editor dan Marty Baron (Liev Schreiber) sebagai pimpinan redaksi (pimred) The Boston Globe yang baru.

 

Cerita dimulai ketika pimred baru memutuskan untuk mengungkap lagi sebuah artikel di kolom agama yang pernah dibahas di The Boston Globe 3 tahun sebelumnya. Artikel tersebut memuat pencabulan anak-anak yang dilakukan oleh seorang pastur di Boston. Dengan sedikit perdebatan akhirnya disepakatilah pengangkatan kasus tersebut oleh Tim Spotlight. Dimulailah pencarian data, wawancara para korban dan penelusuran mendalam. Robby membagi job ketiga reporternya, ia pun ikut serta turun ke lapangan. Ternyata berdasarkan kesaksian para korban, banyak fakta mengejutkan yang mereka temukan. Diawal penelusuran, nama pastur yang diduga kuat terlibat kasus pelecehan seksual mencapai 13 orang. Bahkan Kardinal Law dari Uskup Besar Boston disinyalir mengetahui hal tersebut. Namun mereka belum menemukan bukti kuat terkait hal itu.

 

Perjalanan mencari kebenaran terus berlangsung. Banyak adegan yang sederhana tapi begitu mengena. Seperti ketika para korban bercerita dan tak mampu menahan air mata saat mengenang peristiwa pencabulan tersebut meskipun telah berlalu belasan bahkan puluhan tahun lamanya. Situasi semakin mencekam ketika Tim Spotlight menjalin komunikasi dengan salah satu narasumber yang tidak ditampilkan wajahnya, hanya via telepon. Richard Sipe (disuarakan oleh Richard Jenkins) adalah seorang mantan pastur yang akhirnya keluar dan menjadi seorang psikoterapis. Ia memperkirakan angka pastur yang terlibat bukan hanya 13 orang tetapi sekitar 6% dari jumlah seluruh pastur di Boston atau sekitar 90 orang. Bayangkan jika satu pastur dapat mencabuli belasan anak berapa banyak anak yang menjadi korban dari 90 pastur cabul?

 

Banyak aral melintang yang dihadapi oleh Tim Spotlight dalam mengungkap fakta karena mengangkat isu yang sangat sensitif. Gereja dikenal sebagai sebuah lembaga yang sakral dan bahkan sangat besar kontribusinya bagi warga Boston. Sehingga menyerang gereja sama saja dengan menyerang seluruh kota. Kehidupan pribadi anggota Tim Spotlight pun tak luput dari hal ini. Meskipun tidak ditampilkan secara dramatis namun polemik yang dirasakan oleh mereka begitu mengena. Misalnya saja, Sacha yang memiliki nenek yang pergi ke gereja tiga kali dalam seminggu menjadi begitu enggan untuk ikut menemani neneknya ke gereja. Begitupun Matt yang memiliki anak dan tinggal tak jauh dari rumah salah satu pastur dalam daftar kasus pencabulan tersebut. Ia pun begitu mencemaskan nasib anak-anaknya dan memberi peringatan keras untuk tidak mendekati rumah tersebut.

 

Namun ternyata Baron sebagai pimred tak ingin kasus selesai hanya dengan tertangkapnya nama-nama pastur tersebut. Menurutnya sistemnya yang harus diserang. Tim Spotlight harus mendapatkan bukti bahwa praktik pencabulan ini telah diketahui oleh Kardinal namun tetap didiamkan. Dalam film diceritakan bahwa Baron bukanlah berasal dari Boston dan ia adalah seorang Yahudi. Sehingga Robby sebagai salah satu orang terpandang di Kota Boston mendapat kecaman dari beberapa koleganya. Mereka merasa bahwa Baron tidak akan pernah mengerti situasi kota yang sesungguhnya. Namun Robby tak bergeming, ia terus melanjutkan pencariannya. Ia pun harus berhadapan dengan pengacara-pengacara yang menyembunyikan kasus pengaduan anak-anak yang mengalami pencabulan oleh pastur.

 

Penerbitan berita terkait pastur cabul ini pun sempat tertunda karena adanya peristiwa Serangan 11 September 2001 atau dikenal dengan 9/11. Para korban pencabulan merasa putus asa bahwa kisah mereka pada akhirnya akan terlupakan kembali dan tak akan ada keadilan bagi mereka. Namun selang 6 bulan setelah itu berita pencabulan oleh pastur itu pun akhirnya naik cetak dan mendapat respon yang luar biasa bukan hanya dari warga Boston melainkan dari seluruh dunia. Di akhir film, muncul kredit berupa daftar gereja-gereja yang memiliki pastur dengan track record pencabulan di seluruh dunia. Karya jurnalistik Spotlight ini berhasil membuat The Boston Globe mendapatkan Pulitzer Prize, sebuah perhargaan tertinggi untuk karya tulis jurnalistik dan literatur di AS. 

 

Film ini adalah salah satu film yang menjadi begitu fantastis karena kekuatan ceritanya. Tak butuh banyak teknik dalam pengambilan gambar atau adegan melodrama namun dengan pesan cerita yang begitu kuat membuat kita merasa tercekam dan terenyuh secara bersamaan. Akting yang tepat dari para pemain mampu menarik kita pada sebuah gambaran hakikat nyata profesi jurnalis yang mungkin banyak dilupakan, yaitu sebagai penyampai fakta dan kebenaran, sesulit apapun rintangan yang menghadang.