Bayi di Dalam Kulkas

 

Bayi di dalam kulkas lebih bisa

mendengar pasang-surutnya angin,

Bisu-kelunya malam, dan kuncup-layunya

bunga-bunga di dalam taman.

Dan setiap orang yang mendengar tangisnya

mengatakan, “Akulah ibumu. Aku ingin

menggigil dan membeku bersamamu.”

 

“Bayi, nyenyakkah tidurmu?”

“Nyenyak sekali, Ibu. Aku terbang

ke langit, ke bintang-bintang, ke cakrawala,

ke detik penciptaan bersama angin

dan awan, dan hujan dan kenangan.”

“Aku ikut. Jemputlah aku, Bayi.

Aku ingin terbang melayang bersamamu.”

 

Bayi tersenyum, membuka dunia kecil

yang merekah di matanya, ketika Ibu

menjamah tubuhnya yang ranum

seperti menjamah gumpalan jantung

dan hati yang dijernihkan untuk dipersembahkan di meja perjamuan.

 

“Biarkan aku tumbuh dan besar di sini, Ibu.

Jangan keluarkan aku ke dunia yang ramai itu.”

Bayi di dalam kulkas adalah doa

yang merahasiakan diri

di hadapan mulut yang mengucapkannya.

 

 

/////

 

 

 

Naik Bus di Jakarta

 

Sopirnya sepuluh,

kernetnya sepuluh,

kondekturnya sepuluh,

pengawalnya sepuluh,

perampoknya sepuluh.

Penumpangnya satu, kurus,

dari tadi tidur melulu;

kusut matanya, kerut keningnya

seperti gambar peta yang ruwet sekali.

sampai di terminal kondektur minta ongkos:

“sialan, belum bayar sudah mati?”

 

/////

 

Mei

 

            :Jakarta, 1998

 

Tubuhmu yang cantik, Mei

telah kaupersembahkan kepada api.

Kau pamit mandi sore itu.

Kau mandi api.

 

Api sangat mencintaimu, Mei.

api mengucup tubuhmu

sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.

Api sangat mencintai tubuhmu

sampai dilumatnya yang cuma warna,

yang cuma kulit, yang cuma ilusi.

 

Tubuh yang meronta dan meleleh

dalam api, mei

adalah juga tubuh kami.

api ingin membersihkan tubuh maya

dan tubuh dusta kami

dengan membakar habis

tubuhmu yang cantik, mei

 

kau sudah selesai mandi, Mei.

Kau sudah mandi api.

api telah mengungkapkan rahasia cintanya

ketika tubuhmu hancur dan lebur

dengan tubuh bumi:

ketika taka da lagi yang mempertanyakan

nama dan warna kulitmu, mei.

 

/////

 

Baju Bulan

 

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,

Tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,

Sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.

Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?

Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan

Bajunya yang kuno di antara begitu banyak

warna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya

yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil

yang sering menangis di perseimpangan jalan.

Bulan rela telanjang di langit, atap paling rindang

Bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang

 

 

 

 

 

Sumber: Buku kumpulan puisi Selamat Menunaikan Ibadah Puisi