Penulis             : Che Guevara

Penerbit           : Penerbit Narasi

Cetakan           : I, 2007

Tebal               : 111 halaman


 

Dari Sierra Maestra Menuju Havana, merupakan terjemahan dari buku asli yang berjudul Che Guevara and Cuban Revolution yang terbit pertama kali pada tahun 1987. Buku ini terdiri dari 7 bab—yang sama seperti buku aslinya—merupakan kumpulan dari artikel-artikel karya Che yang sebelumnya telah diterbitkan dalam waktu yang berbeda-beda. Ketujuh bab tersebut yakni, Revolusi Dimulai (diterbitkan pada tanggal 16 Juni, 1 Juli, dan 16 Juli 1959, oleh O Cruzeiro, sebuah publikasi di Brazil); Alegria De Pio: Kami Diserang Tentara Batista (diterbitkan pada tanggal 26 Februari 1961, oleh Verde Olivio, sebuah majalah mingguan terbitan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba); Pertempuran La Plata (diterbitkan pada tanggal 9 Maret 1961 dalam Revolucion, surat kabar harian Gerakan 26 Juli); Sebuah pengkhianatan (diterbitkan 5 Agustus 1962 oleh Verde Olivio; Interlude (terbit 23 Agustus 1964 dalam Verde Olivio; lalu Pertemuan yang Menentukan (terbit pada 22 November 1964 dalam Verde Olivo); dan bab terakhir adalah Serangan Terakhir dan Pertempuran Santa Clara (diterbitkan pada tanggal 16 Juni, 1 Juli, dan 16 Juli 1959 oleh O Cruzeiro)


 

Secara fisik, buku mungil ini kurang cocok bagi para kolektor buku. Kendati merupakan buku asli, namun terdapat beberapa ‘keteledoran’ yang membuatnya tampak seperti sebuah buku bajakan. Keteledoran yang paling membuat tidak nyaman adalah cukup banyaknya helaman buku yang menyatu, juga tidak lengkapnya identitas buku, seperti keterangan terkait penerjemah, jumlah halaman, dan tebal halaman. Namun, kekecewaan akan wajah buku ini terobati setelah selesai melahap halaman demi halamannya. Sesuai judulnya, buku ini mengisahkan perjalanan dan kiprah Che Guevara dalam upaya Revolusi Kuba. Dari runutan kisah yang ditulis langsung oleh sosok yang memiliki nama asli Ernesto Guevara de la Serna ini, secara pribadi, dibandingkan kisah heroik petualangannya, saya lebih tertarik pada hubungan antara Che dengan sahabat sekaligus atasannya dalam revolusi, Fidel Castro. Terlebih, tentang bagaimana Sang Pejuang memandang Fidel Castro dan dengan yakin memilih berada di belakangnya.

 


Dituturkan bahwa awal pertemuan Che dengan Fidel terjadi pada tahun 1954 di Meksiko, saat keduanya sama-sama sedang mencari penyelesaian ihwal konflik yang tengah melanda negara masing-masing. Dalam uraiannya, walaupun perjumpaan pertama mereka diisi oleh pembicaraan berat seputar politik internasional, namun dalam catatannya, Che menggambarkannya dengan tambahan sentuhan personal, yang ia ungkapkan bahwa obrolannya terjadi pada salah satu malam Meksiko yang dingin. Ujung dari pertemuan yang terjadi hingga subuh itu, menjadi awal kontribusi Che bagi Kuba. Setelah dua tahun mengikuti persiapan dengan Tim Pemberontak Kuba (julukan pemberontak diberikan oleh diktator Kuba, Fulgencio Batista, untuk pasukan besutan Fidel Castro) di Meksiko, pada tahun 1956 ia dan kaum revolusioner mendarat di Kuba dan mengawali perang gerilya.

 



Sebagai orang asing di negeri asing, Che Guevara, yang mulanya pernah meragukan keputusannya untuk turut memenangkan kebebasan Kuba, berbalik menjadi yakin setelah mendengarkan kuliah dari Jenderal Alberto Bayo (semasa persiapan di Meksiko). Selain Fidel Castro, nama tersebut juga termasuk dalam daftar orang yang memengaruhi hidupnya. Seperti yang ia tulisakan dalam catatanya, “… karena jenderal itulah aku kemudian menyukai petualangan romantis dan aku dapat membayangkan diriku cukup berharga untuk mati di pantai negeri asing untuk tujuan idealis.” Dan itulah yang hingga akhir hayatnya ia lakukan, berkalana ke negeri-negeri yang dirundung tirani. Terkait kesadaran dirinya sebagai orang asing di tanah Kuba, dalam buah pikirnya, ia menjelaskan alasan mengapa ia—dan Tentara Pemberontak lainnya—dapat tetap kuat menjalani sengsaranya bergerilya dan tetap setia pada sang pimpinan.

 


Dikisahkan olehnya, tidak lama setelah kedatangan Tentara Pemberontak ke Kuba, Batista menyerukan perburuan bagi Fidel Castro dan antek-anteknya. Dalam operasi itu, Che dan beberapa revolusioner lainnya berhasil tertangkap dan dipenjarakan selama lima tahun tujuh hari. Siksaan selama di penahanan kerap ia alami, namun tak pernah sedikit pun hatinya goyah apalagi kehilangan kepercayaan terhadap Fidel Castro. Alasan kuatnya kepercayaan ini, ia ungkapkan karena Fidel telah melakukan hal-hal yang ia dan revolusioner lainnya anggap sebagai upaya mengkompromikan sikap-sikap revolusionernya demi persahabatan. Saat itu, Che berkata pada Fidel bahwa ia hanyalah seorang asing, ilegal, dan tersangkut serangkaian tuduhan, sehingga revolusi harus tetap dilanjutkan tanpa mempertimbangkan keselamatannya. Bahkan ia meminta Fidel meninggalkannya. Namun, kelembutan yang dibalut jawaban tajamlah yang ia terima, ketika Fidel berkata, “Aku tidak akan mengabaikanmu.”, dan itulah yang terjadi karena waktu dan uang yang berharga akhirnya dikorbankan untuk mengeluarkan para tahanan.

 


Momen itu menjadi pengunci ikatan antara Che dan Fidel, juga para Tentara Pemberontak lainnya terhadap sang pemimpin. Penilaian Che terhadap sahabatnya inilah yang menarik bagi saya, yang dia ungkapkan dalam untaian kalimat, yakni:

 


“Sikap dan kepribadian Fidel yang simpatik terhadap orang lainlah yang membuat orang-orang menaruh kepercayaan serta setia kepadanya. Sebuah kepatuhan terhadap prinsip-prinsip dan juga kepatuhan terhadap seorang individu telah membuat Tentara Pemberontak kuat bagaikan kepalan tangan.”

 


Penilaian itulah yang konsisten dihadirkan Che kepada Fidel dalam setiap catatan kisahnya. Seperti dalam kisah lain, yaitu momen saat para Tentara Pemberontak menulis surat ucapan selamat dan penghormatan untuk sahabat mereka, Frank Pais, yang bertugas di luar kota. Di akhir surat, semua perwira tentara gerilya yang tahu caranya menulis diminta untuk menandatangani surat tersebut. Tanda tangan itu tertulis dalam dua kolom, yaitu kolom tanda tangan serta nama dan pangkat. Saat tiba giliran Che menulis nama dan pangkatnya, tiba-tiba Fidel berkata, “Buatlah jadi komandan.”, dan itu adalah pengangkatan jabatan paling informal yang pernah dialaminya, namun dengan pemberian kepercayaan penuh atas tugasnya. Karena, tidak lama setelah itu, ia mendapat tugas pertamanya sebagai komandan untuk mempersiapkan jebakan bagi Sanchez Mosquera, seorang anak buah Batista yang paling waspada. Dalam upaya jebakan yang sekaligus merupakan persiapan untuk merayakan tanggal penting 26 Juli (mengenang Gerakan 26 Juli 1953 saat Tentara pemberontak menyerang Garnisun Moncada), Fidel memberinya kebebasan untuk melakukan apa pun yang dapat ia lakukan, selama hal tersebut dilakukan dengan bijaksana. Dalam tulisannya, Che mengungkapkan bahwa saat itu muncul semacam kebanggan tersembunyi dalam dirinya dan tentara lainnya, dan itu membuatnya merasa menjadi pria paling bangga di dunia.



Kebanggan Che “el commandante” Guevara, dikisahkan pula dalam buku ini, yakni di bagian akhir buku yang merupakan rangkuman kisah kehidupan hingga kematiannya. Tercatat, sang revolusioner menghembuskan napas terakhirnya di hadapan juru tembak Bolivia pada usia 39 tahun. Sebelum enam peluru bersarang di tubuhnya, sebuah kesaksian mengungkapkan kata-kata terakhirnya, “Aku tahu kalian akan menembakku; aku tidak akan dibiarkan tetap hidup. Katakan pada Fidel bahwa kegagalan ini bukan berarti berakhirnya revolusi, yang kelak akan berjaya di mana-mana…”, dan kesaksian lain menambahkan dengan kalimat, “Tembaklah, penakut! Yang kalian bunuh adalah seorang lelaki sejati!”

 


Yah, seperti keinginannya di mula, Che  merasa bahagia untuk mati di pantai negeri asing untuk tujuan idealis. Dan itulah yang ia dapatkan di akhir hidupnya, menyerahkan nyawa saat memimpin sekelompok gerilyawan Bolivia.