Oleh: Kartini F. Astuti

Penulis Buku Puisi Pengantin Mesin- Alumni FSRD ITB

 

Hampir kutanggalkan jas almamater toska tua

Yang sudah lepas kancing-kancing emasnya

Saat aku melihat sekelompok orang berkelahi di mana-mana.

Mereka ribut membela atribut yang dikenakan

 

Hampir kutanggalkan bangunan bernama kampus itu

Saat aku membuntuti pasangan tua dan renta habis bermain kecapi

Memanggul istana lipat serta semua perabotannya

dari Masjid Salman, Simpang Dago, sampai Pasar Caheum.

Mereka diusir dari satu tempat ke tempat lain

 

Hampir kutanggalkan proposal acara yang berjilid-jilid itu

Saat aku mendapati para tetanggaku mengantre sebelas jam

Di depan pembagian hewan kurban dan sembako

Sementara orang-orang yang pintar mengetik RAB semacam aku

Dipersilakan masuk dan dilayani terlebih dulu

 

Hampir kutanggalkan setumpuk catatan skripsi

Tentang sel, virus, dan bakteri di ruang laboratorium

Saat aku melihat koridor IGD rumah sakit

Penuh oleh para ibu yang tertidur beralaskan ubin

Sementara para ayah menyelimutinya dengan koran

 

Hampir kutanggalkan tagihan SPP berjuta-juta, juga pengajuan

Beasiswa saat aku melihat seorang pengemis di trotoar

Yang tidak mengerti cara menulis nama lengkap dan tanda tangan

Menadahkan sebelah tangannya yang buntung

Sementara teman-temanku menjauh karena takut kena tipu

 

Hampir kutanggalkan secarik kartu mahasiswa

Saat aku menyeruak pada kerumunan jalan:

seorang ibu meninggal sebelum sempat melahirkan di angkot.

Suaminya yang bekerja sebagai sopir

Tidak sanggup mengurus kartu jaminan kesehatan

 

Hampir kutanggalkan curriculum vitae

Saat aku menonton berita televisi: para pejabat mahkamah konstitusi memetik mimpi

Menyimpan masa mudanya sebagai aktivis

Dan meminggirkan masa depan anak cucu

 

Hampir kutanggalkan jadwal sidang kelulusan

Yang tinggal sebentar lagi saat aku mencermati tiap ayat

Pada pasal undang-undang

Gagal memuaskan saya sebagai lulusan kampus

Sekaligus manusia yang mencita-citakan keadilan

 

Hampir kutanggalkan ijazah dan transkrip nilai

Dan medali dan seluruh piagam

Saat angka IPK tiga koma sembilan lima

Tidak sanggup menggeser satu digit pun angka

Tarapan hidup di negeri kita

 

Hampir kutanggalkan status mahasiswa

Saat aku khatam membaca sejarah:

konon, rektor kampusku takut pada presiden

dan presiden yang gagah takut pada mahasiswa.

Sekali lagi kukatakan, takut pada mahasiswa!

 

Sekarang aku, mahasiswa, bahkan takut untuk berkaca

Pada diriku sendiri, takut introspeksi

kecuali buat selfi dan bahan bermain instastori.

Aku hanya suka wacana, memprotes di belakang

sambil sesekali mengurut-ngurut jempol yang kelelahan

 

Forum diskusi yang panas sudah padam seketika

oleh jam malam dan notifikasi telepon genggam.

Grup chat penuh gagasan tanpa perbuatan

Hanya mengundang kebodohan, meme-meme menggelikan

dan stiker orang menangis yang dikirim sambil ketawa

 

Ada, memang, segelintir mahasiswa yang berani bicara

dengan mulut berbusa maupun tumpah tinta.

Mereka pun beraksi sejengkal demi sejengkal seakan semut

Mengajak semut lainnya lepas dari jebakan

dan mendekatkan mereka yang sedang berjauhan

menghimpun kekuatan.

 

Namun, kadang-kadang, mereka pun akan terhenti

Dengan ancaman penghapusan Nomor Induk Mahasiswa

Dengan tagihan uang kost yang nunggak dua bulan

Dengan penolakan demi penolakan

Dengan putus cinta

 

Ah, hampir kutanggalkan status mahasiswa

Sesaat sebelum aku jadi sarjana

Sesaat setelah aku sadar bahwa aku datang

Bukan untuk membesarkan kampusku.

Aku datang karena nama kampus yang besar

 

Hampir, hampir kutanggalkan teman-temanku

Para calon insinyur, arsitek, dokter, seniman

Tapi tidak jadi kulakukan

mengingat investasi besar-besaran

yang tak boleh kusia-siakan.

 

Hampir kutanggalkan status mahasiswa

Sebelum aku bekerja jadi buruh korporat asing

Sementara negeri sendiri

Sedang porak poranda