DEPOK. Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena dengan limpahan karuniaNya, kini kita  telah menikmati  usia ke-72 kemerdekaan bangsa. Sudah banyak yang kita perbuat untuk kemajuan bangsa dan negara, tetapi masih banyak pula yang masih tertinggal dari derap pembangunan yang seharusnya untuk kesejahteraan bersama. Memang tidak mudah membangun Indonesia yang wilayah negerinya begitu luas dan dengan keragaman masyarakat dan kebudayaannya.


Indonesia adalah negara-bangsa yang dibentuk dengan nilai-nilai keragaman masyarakat dari berbagai daerah dan budaya yang menunjukkan karakter ke-Indonesia-an. Masyarakat Indonesia adalah sebuah perjalanan dari proses-proses masyarakat yang berlatarbelakang  kesukubangsaan. Bangsa indonesia secara formal baru disepakati eksistensinya pada saat  Sumpah Pemuda 1928. Diawali dengan berdirinya organisasi-organisasi dan gerakan kepemudaaan dan pelajar yang bersifat kedaerahan, berkembang ke dalam konsep  Indonesia yang diperjuangkan untuk bebas dari penjajahan asing untuk sebuah  cita-cita  kemerdekaan menjadi tuan di negeri sendiri untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.


Kemerdekaan adalah kesempatan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. Bangsa Indonesia percaya bahwa dengan  memiliki kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri untuk tujuan bernegara, yang merdeka,  bersatu, berdaulat adil dan makmur. Ketika masa penjajahan, keadilan dan kemakmuran masyarakat tidak terwujud. Selain itu, kehidupan yang terjadi adalah penindasan, diskriminasi, tidak ada kesempatan yang luas bagi anak pribumi menempuh pendidikan yang tinggi. Sudah 72 tahun Indonesia merdeka sejak proklamasi 1945, tetapi masih jauh cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. Sudah benarkah arahnya menuju cita-cita tersebut? Hal itulah yang dapat menjadi ukuran dalam memperingati  kemerdekaan Indonesia sekarang  ini.


Pada perkembangan zaman dewasa ini, arus budaya dalam konteks globalisasi yang masuk dari luar mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Memang setiap zaman memiliki karakter dan tantangan tersendiri. Oleh sebab itu, setiap generasi memiliki catatan sejarahnya sendiri. Tugas generasi yang hidup pada saat inilah yang mampu menafsirkan kemerdekaan yang telah dirintis oleh para pendahulu, dan dihasilkan melalui sebuah perjuangan panjang dan berat. Generasi sekarang harus mampu menafsirkan “benang merah” sejarah  yang terus berjalan dengan tantangan yang terus berubah. Jika dahulu perjuangan diartikan perjuangan fisik melawan Belanda dan Jepang, maka hari ini musuh tidak lagi fisik, tetapi melalui berbagai bentuk budaya, nilai-nilai, ide-ide, paham-paham seperti radikalisme, juga juga maraknya penggunaan narkoba. Hal tersebut bisa mengancam keutuhan bangsa dan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Indonesia yang bersatu karena keragaman yang ditopang oleh nilai-nilai Pancasila. Hal ini yang perlu dibuktikan oleh generasi muda sekarang, yang jika berhasil maka tidak kalah heroiknya  dengan generasi kemerdekaan dahulu.


Masalah mendasar kita sekarang yang mengancam nilai-nilai Pancasila, adalah ketimpangan dan ketidakadilan yang masih sangat tajam. Kita perlu  menebarkan nilai-nilai sosial dalam bentuk solidaritas berbangsa sebagai wujud “persatuan Indonesia”. Dulu kita berhasil merdeka karena pengamalan nilai dan semangat persatuan bangsa. Sudah saatnya generasi sekarang dan kita semua bekerja lebih keras lagi. Masih banyak masalah mendasar yang belum terselesaikan. Bagaimana dapat dijelaskan negara dengan panjang pantai kedua di dunia setelah Kanada, tetapi masih  impor garam. Dalam berpolitik kita belum sepenuhnya menjalankan azas musyawarah dalam memutuskan kemauan kita. Dalam pengambilan keputusan masih saja adu kuat, terbukti masih ada yang walkout artinya musyawarah tidak berjalan.


Nilai-nilai  dan sifat yang seharusnya melekat pada para pemimpin adalah amanah. Sikap khianat para pemimpin dapat dilihat dari maraknya kasus korupsi yang terjadi. Korupsi dimulai dari pemimpin tingkat rendah hingga pemimpin tingkat tinggi, dari lingkup lokal hingga nasional. Hal ini membuat tingkat kepercayaan masyarakat kepada para pemimpin merosot. Selain itu, sikap  ingin “menerima” jauh lebih besar daripada sikap “memberi” dalam  berpartisipasi untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan bangsa.


Dahulu tokoh-tokoh nasional seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka untuk menyebut beberapa nama saja,  rela dipenjara (dan berkali-kali)  untuk Indonesia merdeka. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sikap yang dengan lantang mengatakan “ ini yang saya berikan untuk bangsa”, bukan menanyakan “apa yang sudah diberikan bangsa untuk saya”, begitu ungkapan John Kennedy jika boleh dikutip di sini. Jika candaan (joke) boleh dibuat, mereka itu adalah orang-orang yang lebih dahulu “dipenjara” baru kemudian  menjadi “pejabat” atau pemimpin, sedangkan  sekarang banyak orang menjadi  “pejabat” lebih dahulu baru kemudian “dipenjara” (karena korupsi). Sekali lagi kita memang perlu orang-orang yang bersikap “memberi untuk (kemajuan) Indonesia” bukan sikap meminta (keuntungan)  dari  Indonesia. ***



Dirgahayu ke-72 NKRI-ku

Kampus UI Depok, 4 Agustus 2017

Susanto Zuhdi, Guru Besar Ilmu Sejarah FIB-UI