Kondisi Petanian Indonesia

Pertanian dalam perspektif Andi Hakim Nasution (1990) diartikan sebagai usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia. Pertanian memainkan peran vital bagi Indonesia karena berperan sebagai sektor primer yang akan menentukan masa depan bangsa Indonesia. Peningkatan populasi penduduk di Indonesia yang cepat setiap tahun menuntut Indonesia agar menemukan inovasi-inovasi terbaru di dunia pertanian demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Kompleksitas hasil pertanian memengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Kebutuhan pangan manusia tak hanya tentang pemenuhan karbohidrat yang berasal dari beras. Akan tetapi, manusia membutuhkan zat gizi lainnya untuk memenuhi keseimbangan kebutuhan gizi dan nutrisi. Asupan vitamin dapat dipenuhi dari  buah-buahan dan sayuran. Hewan ternak dan ikan dapat memenuhi kebutuhan protein hewani. Selain kebutuhan akan pangan, pertanian juga diperlukan dalam memenuhi kebutuhan sandang dan papan.


Bicara pertanian tidak akan terlepas dari sumber daya manusia sebagai pelaku utama. Ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi kiblat dalam percepatan pembangunan Indonesia sehingga dapat menjadi negara agraris terbaik. Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2025. Pergantian pemimpin akan memberikan berbagai program kerja yang berbeda-beda dalam mempertahankan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Akademisi dituntut  untuk berpikir visioner dan mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi pada masa yang akan datang. Pertambahan  penduduk akan menambah jumlah kebutuhan beras yang harus dipenuhi. Produksi beras pada tahun 2015 naik menjadi 75.397.841 ton. Produksi pertanian ini meningkat dari 2014 sebelumnya hanya 70.846.3655 ton. Hasil produksi belum memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Pertumbuhan penduduk Indonesia akan mengalami peningkatan besar setiap tahunnya, menjadi tantangan penemuan inovasi dan gerakan terbaru dalam pemenuhan kebutuhan.


Badan Pusat Statistik (BPS)  Sensus Pertanian (ST) 2013 menunjukan jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 26,13 juta sedangkan pada tahun 2003 jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 31,17 juta. Artinya, dalam kurun waktu 10 tahun jumlah rumah tangga usaha pertanian menurun sebesar 5,04 juta atau turun 16%. Fakta mengenai pertanian menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sensus Pertanian (ST) 2013 adalah petani yang bekerja untuk Indonesia berada pada kisaran umur 35-44 tahun sebanyak 6.885.264 jiwa, sedangkan kisaran umur 45-54 tahun sebanyak 7.325.714 jiwa, sementara pada kisaran umur 25-34 tahun berjumlah 3.129.537 jiwa, dan umur 15-24 tahun jumlah petani hanya 229.877 jiwa. Jumlah petani terbanyak berdasarkan data dari BPS berada pada kisaran umur 45-54 tahun, dimana pada usia ini kekuatan fisik petani menurun dan produktivitas hasil pertanian akan mengalami penurunan. Berbeda halnya jika petani yang ada di Indonesia berada dalam umur 15-34 tahun, tentu akan membantu dalam percepatan swasembada dan kedaulatan pangan di Indonesia menuju lumbung pangan dunia. Berdasarkan fakta-fakta tersebut timbul pertanyaan penting: ada apa dengan generasi muda saat ini? Apa yang terjadi dengan rumah tangga usaha pertanian? Masalah besar tentu akan timbul beberapa tahun yang akan datang bila jumlah rumah tangga usaha pertanian semakin menurun dikarenakan para petani sudah lanjut usia. Minat generasi muda yang semakin menurun ini tidak terlepas dari potret buram pertanian di negeri ini. Indonesia harus memberikan perhatian khusus terhadap kaderisasi petani sejak usia anak-anak. Pemerintah telah memberikan wadah dalam bentuk SMK Pertanian dan Perguruan Tinggi Pertanian tapi belum tentu anak yang tamat SMP akan masuk ke SMK Pertanian dan Perguruan Tinggi Pertanian tersebut karena berbagai doktrin buruk terhadap pertanian. Persepsi bahwa sektor pertanian kurang menjanjikan masa depan masih melekat dalam pikiran masyarakat, terkhusus anak muda. Cara pandang yang menyesatkan mengenai pertanian ini harus dihentikan dari sekarang agar dikemudian hari tidak muncul generasi muda yang memiliki persepsi salah mengenai pertanian. Presepsi pertanian yang menyesatkan ini dapat diklarifikasi sehingga minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian dapat dimulai sejak anak-anak.  Usia anak-anak cenderung cepat menerima dan menyimpan segala sesuatu yang dapat membentuk karakternya.

 

Regenerasi Petani Muda dengan Agriculture Center Pertama di Indonesia


Routh (2001) menjelaskan usia prasekolah (2-6 tahun) adalah masa-masa ajaib, karena dalam sekejap terjadi perubahan-perubahan yang mengagumkan pada diri seorang anak. Perkembangan pesat dalam rentang kehidupan manusia terjadi pada masa-masa ini. Pernyataan lain ditegaskan oleh Fawzia Aswin Hadis (2003) bahwa pengetahuan tentang perkembangan anak itulah yang diaplikasikan dalam pendidikan anak usia dini. Orientasi pada perkembangan anak memungkinkan para fasilitator untuk merencanakan berbagai pengalaman yang dapat menumbuhkan minat dan merangsang keingintahuan anak. Emosional, intelektual, dan keterbukaan imajinasi pada anak dapat terbentuk.


            Berdasarkan teori-teori yang telah dielaborasikan sebelumnya, penanaman pengetahuan pertanian pada anak-anak dapat diaplikasikan dalam pendidikan non formal. Penumbuhan minat dan proses perangsangan keingintahuan anak-anak terhadap pertanian dapat diperkuat dengan adanya fasilitas penunjang seperti pusat pendidikan pertanian untuk anak-anak ‘Agricen(Agriculture Center for Children). Konsep Agricen dilengkapi dari sisi pendidikan visual, permainan interaktif, pembelajaran sejarah pertanian berbasis museum, perpustakaan yang berisi buku-buku pertanian yang mudah dipahami anak-anak, dan praktik langsung pertanian dalam skala kecil. Agricen berbentuk suatu bangunan yang akan dijadikan center atau pusat pendidikan pertanian untuk anak-anak. Bangunan ini dibuat dengan bentuk yang menarik, unik dan berbasis Edutourism sehingga akan nyaman sebagai tempat belajar untuk anak-anak. Di dalam bangunan ini akan dirancang berbentuk ruangan-ruangan sebagai tempat implementasi metode pendidikan tersebut.  Agricen menyasar anak-anak berusia 6-15 tahun. Rata-rata anak usia 6-15 tahun saat ini masih minim pengetahuan dan kesadaran pertanian karena pendidikan pertanian di bangku SD-SMP belum terlalu dikuatkan. Agricen dapat dibangun disetiap daerah di Indonesia, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan sekolah SD-SMP yang ada di daerah tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan bila peruntukan Agricen ini juga tidak hanya siswa SD-SMP namun dapat menjadi media belajar siswa SMA bahkan mahasiswa.


            Pendidikan visual Agricen ini difokuskan pada dua jenis yakni perkembangan pertanian dari masa ke masa dan pengembangan pertanian hari ini untuk masa depan. Jenis visualisasi yang ditampilkan berbentuk film animasi pertanian dengan mengangkat marwah pertanian lokal. Visualisasi dalam bentuk media cetak berbentuk komik mengenai pertanian dengan ilustrasi yang mudah dipahami anak-anak.

            Pengasahan kemampuan motorik anak bidang pertanian dituangkan dalam permainan interaktif berbasis pertanian dan praktik langsung pertanian pada skala kecil. Permainan interaktif pertanian dapat bekerja sama dengan kelompok-kelompok Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) sehingga program PKM tersebut tidak terhenti hanya sebagai proyek PKM. Keberhasilan dari permainan interaktif pertanian ini dapat mendukung implementasi program PKM yang digagas mahasiswa. Konsep permainan interaktif pertanian ini diharapkan anak-anak fun dalam bermain dan mengubah pandangan bahwa pertanian itu sempit. Sehingga  mindset anak-anak bahwa bertani ternyata bukanlah hal yang kuno.


Praktik langsung pertanian merupakan konsep yang bersifat keilmiahan. Praktik keilmiahan pertanian ini mengikuti konsep pendidikan visual yang terdiri  dari perkembangan pertanian dari sistem konvesional yang berbasis kearifan lokal dan pengembangan pertanian hari ini untuk masa depan. Konsep praktik pertanian yang bersifat konvesional dapat menyesusaikan alat-alat dan tekniknya seperti teknik mencangkok, stek, dan enten. Berbeda pada konsep pertanian masa depan, anak-anak diajak untuk berkenalan dengan bioteknologi pertanian seperti teknik kultur jaringan yang mudah dan praktis dilakukan oleh anak-anak.


Museum dan perpustakaan pertanian untuk anak-anak dikonsep mengikuti perkembangan zaman. Museum pertanian mengonsep tema ‘time lapse’ dalam perkembangan alat-alat dan sistem pertanian. Perpustakaan pertanian dibuat dengan konsep ‘library cafe’ yang tengah berkembangang pesat dikalangan anak muda. Konsepan ini menggantikan meja baca dengan saung-saung yang berlatar sawah untuk menciptakan suasana membaca yang nyaman.


Gagasan yang disampaikan di atas harapannya dapat memberikan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan untuk anak-anak terutama mengenai pertanian. Pembelajaran yang diberikan sejak dini dapat menanamkan persepsi atau pemikiran yang baik kepada anak-anak, sehingga pada masa yang akan datang meningkatkan minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Jumlah petani yang berusia muda akan bertambah dan generasi muda memiliki semangat yang tinggi. Harapan besar dikemudian hari yang memajukan pertanian Indonesia adalah anak-anak muda yang siap memberikan inovasi dan dampak yang besar untuk Indonesia.

 


Oleh : Redho Saputra dan Mella Sarah Elmania