Untuk menjadi pemimpin yang baik, kita perlu belajar dari keteladanan para pemimpin yang sudah ada. Apalagi contoh keteladanan dari para nabi yang memang tidak diragukan lagi. Mulai dari nabi Adam alaihi salam (AS) hingga nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam (SAW). Masing – masing para nabi dan rasul tersebut memiliki ciri khas dalam hal kepemimpinannya. Namun tetap sama dalam landasan iman dan islam yang mengajak pada ketauhidan. Perbedaan cara kepemimpinan dari tiap nabi dan rasul dipengaruhi oleh lingkungannya yang membentuk mereka. Seperti nabi Daud AS dengan anaknya yaitu nabi Sulaiman AS. Keduanya memiliki karakter kepemimpinan yang berbeda karena memang dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Nabi Daud AS semenjak kecil dibesarkan di keluarga petani dan peternak yang menanamkan nilai kemandirian dan kerja keras sedangkan nabi Sulaiman dibesarkan di keluarga bangsawan yang menanamkan ilmu pengetahuan dan adab.  Oleh karena itu sikap dan cara kepemimpinannya pasti berbeda. Nabi Daud AS memiliki karakter kepemimpinan yang mengedepankan kekuatan dan kepekaan nurani sedangkan nabi Sulaiman AS memiliki karakter kepemimpinan yang mengedepankan keahlian dan juga fakta yang terjadi. Kedua sikap kepemimpinan tersebut memiliki keunggulannya masing – masing di tiap kasus berbeda.

Diceritakan ketika ada dua orang ibu yang sama – sama mempunyai bayi. Suatu ketika bayi mereka ditinggal sebentar di suatu tempat. Ketika kembali mereka kaget bahwa ternyata hanya ada satu bayi yang terbaring di tempat tersebut. Ternyata seekor serigala telah memakan salah satu bayi tersebut. Lalu kedua ibu itu saling menyalahkan dan memperebutkan bayi yang masih ada. Keduanya tidak mau mengalah. Padahal bayi tersebut hanyalah milik salah satu dari keduanya. Lalu mereka pun mengadukannya kepada nabi Daud AS yang pada saat itu bertindak sebagai raja bani israil. Nabi Daud AS memberikan keputusan berdasarkan kepekaan nuraninya. Beliau berasumsi bahwa ibu yang berumur lebih tua memiliki kejujuran yang lebih dipercaya daripada ibu yang lebih muda. Kepemilikan bayi tersebut pun diserahkan kepada ibu yang lebih tua. Padahal kenyataannya ibu yang lebih muda lah ibu kandung bayi tersebut. Disana terjadi ketidakterimaan dari si ibu bayi terhadap keputusan nabi Daud AS. Lalu sang ibu bayi tersebut mengajukan banding kepada nabi Sulaiman AS selaku putra mahkota dari nabi Daud AS. Atas izin ayahandanya, nabi Daud AS, akhirnya nabi Sulaiman pun diperbolehkan untuk mengambil keputusan juga. Sebelumnya, beliau meminta kedua ibu tersebut untuk menceritakan peristiwa sebenarnya yang terjadi secara lengkap. Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya, kemudian nabi Sulaiman pun mengambil sebilah pisau tajam lalu mengancam akan membagi dua bayi tersebut apabila diantara keduanya masih belum ada yang mengalah. Kemudian ibu muda yang memang ibu kandung bayi tersebut menangis merasa tidak rela kalau bayinya terbunuh akibat perebutan ini. Ibu yang lebih muda tersebut merelakan kalau misal bayi itu diserahkan pada ibu yang lebih tua tersebut asalkan bayinya tetap hidup. Sedangkan ibu yang lebih tua tak bereaksi apapun. Darisana nabi sulaiman AS mengambil keputusan bahwa ibu bayi tersebut adalah ibu yang lebih muda karena pasti seorang ibu tidak rela kalau bayi kandungnya dibunuh. Akhirnya bayi tersebut kembali kepada sang ibu yang memang ibu kandungnya.

Dilain waktu terjadi perusakkan kebun milik seorang petani oleh seekor kambing milik seorang peternak. Petani yang memiliki kebun tersebut merasa dirugikan oleh si peternak pemilik kambing. Lalu petani tersebut mengadukannya pada nabi Sulaiman AS agar permasalahannya bisa diselesaikan. Nabi sulaiman AS kemudian memanggil keduanya ke istana. Dengan kebijaksanaan nabi sulaiman AS beliau mengambil keputusan bahwa kambing perusak kebun diserahkan kepada pemilik kebun untuk dimiliki selama setahun untuk diambil susunya, bulunya ataupun anak – anaknya. Kemudian kebun diserahkan kepada pemilik kambing untuk diurus hingga kembali ke kondisi normal sebelum dirusak. Keduanya menerima dengan senang hati keputusan sang nabi. Dibalik keputusan tersebut sebenernya nabi Sulaiman AS ingin mengajarkan keduanya tentang masing – masing bidang itu. Tujuannya agar si pemilik kebun bisa beternak dan si peternak bisa berkebun sehingga keduanya bisa memahami kesulitan masing – masing bidang dan bisa menemukan solusi agar permasalahan sebelumnya tidak terjadi lagi.

Begitulah kiranya cara kepemimpinan dari nabi Daud AS dan nabi Sulaiman AS. Keduanya memiliki karakter kepemimpinan yang berbeda karena dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Ini menunjukan bahwa kepemimpinan itu dibentuk dan dibina dengan baik. Tidak dilahirkan begitu saja. Oleh karena itu, penting bagi kita mencari lingkungan yang dapat membentuk sikap kepemimpinan kita menjadi lebih baik. Kita bisa mencarinya di kehidupan organisasi, latihan kepemimpinan ataupun di lembaga – lembaga yang memang mempunyai visi melahirkan pemimpin – pemimpin masa depan. Harapannya agar nanti terlahir pemimpin – pemimpin yang memiliki integritas, berwawasan luas dan juga beridealisme kuat untuk memajukan negeri ini.

Ditulis oleh Maulana Fikri

Ketua Kabinet Forum Bidik Misi Institut Teknologi Bandung
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung