“Anak akan menjadi investasi berharga bagi orang tua di dunia dan akhirat, jika kita menanamkan nilai agama islam pada anak sejak dini”. (Anonim)

 

Anak merupakan bibit unggul yang harus dijaga perkembangan dan pertumbuhannya. Sepanjang kehidupannya, anak akan mengalami perubahan fisik maupun psikis. Salah satu perkembangan  psikis anak adalah moral. Moral merupakan kepekaan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan terhadap prinsip dan aturan (Helden, 1977).  Moral anak dapat dibentuk melalui pengasuhan orang tua dan pengaruh lingkungan di sekitar, salah satunya sekolah.

 

Saat ini banyak terjadi permasalahan moral pada anak di berbagai tingkatan mulai dari usia prasekolah, usia sekolah, dan remaja. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat terjadi peningkatan jumlah anak berhadapan hukum (ABH) dari tahun 2011-2016, selain itu terdapat 1.465 kasus kriminalitas yang dilakukan oleh anak usia sekolah di Indonesia, dengan rincian sebagai berikut : 1) 317 kasus adalah kasus kekerasan, seperti pemerasan dan pencurian; 2)  441 kasus tawuran; 3) dan 707 berupa kasus asusila, penggunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang. Banyaknya kasus permasalahan moral pada anak usia sekolah menunjukkan telah terjadinya degenerasi moral generasi bangsa. Lalu apa yang menyebabkan menurunnya moral bangsa tersebut?

 

Banyak faktor yang menyebabkan permasalahan tersebut, salah satunya ketidaktepatan pengasuhan yang dilakukan orang tua terhadap anak. Selain itu, kurangnya kerjasama yang harmonis dan sinergis antara peran orang tua dengan sekolah dalam membentuk moral anak. Sebagai seorang pengasuh utama, sejak awal ibu dan ayah harus bisa menentukan tujuan mau dibentuk seperti apa anak tersebut. Hal ini dimaksudkan agar dapat memberi pengaruh positif bagi masa depan anak. Selain itu, orang tua juga harus mengetahui karakteristik anak agar dapat menentukan jenis pengasuhan yang tepat dan terdapat rasa saling memahami antara orang tua dengan anak. Oleh karena itu mengajarkan moral anak sejak usia dini sebagai langkah preventif, agar ketika dewasa anak dapat mengontrol perilakunya sesuai dengan nilai-nilai moral.

 

Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Otago, di Dunedin New Zealand (Lickona, 1994) pada 1.000 anak-anak yang diteliti selama 23 tahun dari tahun 1972. Anak-anak yang menjadi sampel diteliti ketika usia 3 tahun untuk diamati kepribadiannya, kemudian diteliti kembali pada usia 18 dan 21 tahun. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang ketika usia 3 tahun telah didiagnosa sebagai “Uncontrollable toddlers” (anak yang sulit diatur, pemarah dan pembangkang) ternyata ketika usia 18 tahun menjadi remaja yang bermasalah dan agresif. Pada usia 21 tahun mereka sulit membina hubungan sosial dengan orang lain, dan ada yang terlibat dalam tindakan kriminal (Megawangi, 2016). Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya membangun moral sebelum anak berusia tujuh tahun. Ketika sedang berada pada usia di bawah tujuh tahun, perkembangan otak sedang dalam masa keemasan artinya anak akan cepat menyerap apa yang dilihat, dirasakan, dan didengarnya. Hal ini akan berdampak pada perilakunya seumur hidup. 

 

Hasil penelitian ini sejalan dengan firman Allah SWT: “wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu ...”(QS. At-Tahrim:6). Dalam surat tersebut Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambanya untuk saling berbuat baik dan menghindari perbuatan yang tidak diridhoi-Nya. Seperti orang tua yang menjaga dan mendidik anaknya sejak kecil agar tumbuh menjadi pribadi yang sholih-sholihah. Rasulullah SAW menyatakan bahwa anak yang tidak sholih-sholihah akan menyebabkan orang tua mereka menjadi bodoh, kikir, pengecut, dan senantiasa bersedih (Syarif, 2012). Dalam Al-Qur’an sudah tertera bagaimana cara mendidik anak serta nilai apa yang pertama kali harus ditanamkan oleh orang tua.  

 

Salah satu nilai yang sangat penting ditanamkan sejak kecil ialah nilai agama atau religiusitas. Hal ini karena nilai agama bersifat universal, menjurus ke seluruh aspek, dan dapat diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan batin/spiritual (Ancok dan Suroso, 2001). Secara nature anak lahir dalam keadaan fitrah, anak sudah dibekali potensi dan akhlak yang baik. Hanya saja, lingkungan luar atau nurture juga ikut berperan bagi pembentukan kepribadian anak. Orang tua dapat mendidik anaknya mengenai nilai agama dengan berbagai macam cara antara lain melalui teladan, komunikasi positif, dan stimulasi yang tepat sesuai tahap atau fase perkembangannya.

 

Melalui teladan, orang tua harus bisa memberikan contoh yang tepat pada anaknya agar anak dapat meniru perilaku baik berdasarkan apa yang dilihatnya. Ketika orang tua sedang merasa kesal atau bad mood akan suatu hal, orang tua tidak bisa melampiaskan kekesalannya sesuka hati. Orang tua harus bisa menahan emosi dan memberikan suri tauladan yang baik salah satu caranya ialah melaksanakan solat atau berdzikir untuk membuat hati tenang. Selain pengasuhan internal, pengasuhan eksternal melalui perantara sekolah juga sangat penting dalam memberikan anak teladan yang baik seperti lingkungan pertemanannya dan sikap peer group-nya. Dalam sebuah hadis terdapat pesan, “Barangsiapa berada di lingkungan baik, maka baiklah ia. Dan jika berada di lingkungan buruk maka ia akan terseret pada keburukan itu.“ Saat ini banyak sekolah-sekolah yang berlabelkan islam namun pendidikan yang diterapkan tidak mencerminkan itu. Meskipun begitu, orang tua tetap harus mengutamakan kualitas dan pola pendidikan ketika akan mengamanahkan anaknya di institusi eksternal seperti sekolah.

 

Melalui komunikasi positif, sebagai orang tua sudah selayaknya untuk dapat memahami anak dan memberikan pengarahan yang tepat terhadap perilaku anak agar sesuai dengan yang apa kita arahkan atau instruksikan baik itu melalui komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi positif ialah komunikasi yang antara pemberi dan penerima pesan dapat saling memahami dan memiliki satu makna tentang pesan yang sedang dibicarakan atau disampaikan. Sekolah khususnya guru memiliki tugas untuk memberikan kata-kata yang membangun dan memotivasi  murid-muridnya. Hal ini dimaksudkan agar anak memiliki sifat “self worth” dan memiliki “self esteem” yang tinggi.

 

Karakteristik  individu yang memiliki self esteem yang tinggi, di antaranya aktif dan dapat mengekspresikan  diri dengan baik, berprestasi dalam bidang akademis, berhasil dalam hubungan sosial, dapat menerima kritik dengan baik, percaya pada persepsi dirinya sendiri, dan keyakinan akan dirinya tidak hanya berdasarkan khayalannya. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat self esteem, yaitu: pertama, dukungan dan perlakuan positif yang diterima seseorang dari orang tua pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Kedua, dengan tercapainya tugas perkembangan anak pada usia delapan tahun yaitu pada tahapan industry vs inferiority. Pada tahap ini, anak mengarahkan energinya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan.

 

Dampak yang ditimbulkan dari kurangnya interaksi orang tua dengan anak cenderung menampilkan perilaku agresif seperti permasalahan-permasalahan sosial emosi (Dewi et al. 2014) antara lain tindakan memukul, berkelahi, mengejek, berteriak, berbohong, membolos, menangis, merusak, vandalisme, menipu, memeras, dan minum obat-obatan terlarang pada masa kanak-kanak pertengahan (Mahabbati 2016; Harlock 1980). Oleh karena itu, orang tua baik ayah maupun ibu berpengaruh terhadap permasalahan perilaku sosial emosi pada anak.

 

Menurut Silalahi, Ayah memegang kunci yang sangat menentukan perkembangan anak ketika dewasa nanti. Keterlibatan ayah dengan anak di masa kanak-kanak pertengahan dapat memprediksi perilaku anak di kemudian hari. Saat anak dan ayah memiliki hubungan interaksi yang positif, anak akan lebih sukses dan memiliki sedikit masalah dalam kehidupannya.

 

Melalui stimulasi, salah satu stimulasi yang dapat diterapkan orang tua dan guru untuk membentuk anak dengan akhlak mulia ialah dengan mengajak dan mengajari anak untuk selalu menegakkan solat. Untuk mendirikan solat dengan sempurna bukan perkara mudah. Namun, manusia yang bersungguh-sungguh untuk melaksanakan solat dengan baik dan benar maka Allah akan memudahkannya untuk melakukan berbagai kebaikan lainnya. Oleh karenanya anak menjadi pribadi yang mencintai kebaikan “loving the good” dan tercermin dari tindakan dan perilakunya “moral action” dalam kehidupan sehari-hari.

 

Orang tua yang sudah memahami pentingnya menanamkan nilai agama pada anak sejak kecil, insya Allah akan mudah untuk mendidik anak ke depannya. Salah satu cara menanamkan nilai agama pada anak ialah dengan mengajari dan membimbing anak untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an. Seorang penghafal Al-Qur’an akan Allah jauhkan dari berbagai bentuk kemaksiatan, hal ini dikarenakan seorang penghafal Al-Qur’an harus terus menjaga hati, lisan, dan perbuatan guna memelihara hafalan atau ingatan Qur’annya. Dengan mulai mendidik anak sejak dini untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an akan berdampak pada moral knowing dan moral acting yang bersifat permanen hingga akhir hayat.

 




Vallerina Dwi Mulia Sari

Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa, Fakultas Ekologi Manusia 2018

juga merupakan mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen, Institut Pertanian Bogor