Ada pemuda apik moralnya, dialotkan dengan ripuhnya akademik.

Ada pemuda dinamis acuhnya, dihantam dengan pasifnya tembok persepsi kelas.

Begitulah kemudian pemuda di jaman konspirasi ini dipelintir paradigmanya untuk dibentuk menjadi sebuah konsepsi argumentasi yang mandul. Hingga semua kebenaran yang lahir adalah relatif. Tidak ada kebenaran yang mutlak secara moral.

Ini memunculkan sebuah kelesuan dalam berpendapat di kalangan khalayak muda khususnya mahasiswa. Dan memiliki kecenderungan meningkatkan dosis sinisme terhadap fenomena gerakan moral yang dilakukan oleh segelintir aktivis yang mengatasnamakan keadilan.

Gerakan moral yang berbumbu radikal kini dicekal, meskipun gerakan dibangun atas dasar argumentasi empiris yang sulit dibantah oleh rasionalisasi manapun.

Represivitas yang dibangun secara sistematis membuat mahasiswa nyaman dalam ketakutannya. Pendidikan yang diatur sedemikian rupa membuat mahasiswa lupa akan konsekuensi identitasnya sebagai social control. Lambat laun ini membuat mahasiswa malas untuk berpikir kritis, bahkan jangankan untuk menulis hasil pemikirannya di media masa, untuk sekedar menegur temannya yang salah saja mahasiswa masih harus berpikir berulang-ulang, padahal sudah jelas itu merupakan sebuah kesalahan. Ini merupakan sebuah kemunduran dalam berpendapat. Para pemain politik kini tak usah repot-repot menyusun strategi agar anak muda yang kritis bisa bungkam. Karena jika anak muda masih larut dalam keadaan seperti ini, maka akan dengan sendirinya mereka berhenti berpendapat. Kini mereka tinggal fokus bagaimana caranya bisa mentransaksikan proyeknya di balik tangan tanpa harus diumbar di publik.

Selain lesunya argumentasi di kalangan pemuda, terdapat juga penyakit akut yang sering menerpa gairah, yaitu keteledoran percaya diri yang menjadi salah kaprah hingga pada ujungnya memunculkan arogansi kaum intelektual. Ini sering kita lihat di kalangan aktifis yang bermahzab eksistensialisme, yang mengagungkan eksistensi sebagai kebutuhan hidup.

Kita sekarang sedang berada dalam dunia yang begitu dinamis, sampai-sampai tingkat konsentrasi manusia pun tak bisa dikontrol lagi, karena teralihkan oleh barbagai macam pengecoh pikiran seperti teknologi gadget dan lain-lain.  Namun dalam keberjalanannya pemuda tetaplah pemuda.  Ia digadang menjadi iron stock di masa depan. Harapan akan terus menetap dalam setiap pertambahan umur perjuangan, maka pemuda tak bisa dipisahkan dari perubahan itu.

Sebagai sarana menjaga idealisme pemuda, kita membangun sebuah konsepsi dasar dari berbagai pemikiran yang tertuangkan dalam goresan pena. Ini akan melatih kita untuk senantiasa mengaktualisasikan diri untuk membangun critical thingking dalam setiap barisan perjuangan masa muda.

Dalam momentum genapnya kemerdekaan Indonesia ini, kita bisa menafakuri serta belajar dari sejarah bangsa betapa dulu seringnya para founding father Indonesia memproduksi argumentasi, karena mereka sadar dengan begitu akan terbentuk sebuah tatanan peradaban baru yang hebat.

Dengan memperkaya argumentasi diharapkan terciptanya sebuah tatanan pemikiran baru di kalangan anak muda Indonesia terkhususnya mahasiswa untuk senantiasa berpendapat walaupun kematangan belum hadir, tapi yakinilah dengan seringnya kita mengeluarkan argumen atau pendapat yang dituangkan kedalam sebuah tulisan, akan membuat setiap pribadi muda menjadi semakin brrkualitas.

Selamat menikmati berbagai karya resonansi pemikiran para accelerator kebaikan, tuangkan argumentasi pada sebuah pena dan mulai menulislah dari sekarang.

Dirgahayu Republik Indonesia!