JAKARTA—Fahri Hamzah berbagi kisah dan pandangannya terkait reformasi kepada Rojali dan Deden Nurodin wartawan Retorika Kampus. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini tak segan-segan membeberkan banyak hal yang luput disorot media saat reformasi, salah satunya clash antara golongan mahasiswa kiri dan kanan hingga pendapatnya tentang pemerintahan pascareformasi. Berikut petikan wawancara bersama Fahri Hamzah yang kerap dipanggil ‘Bang Fahri’ ini.

 

Anda termasuk aktivis reformasi. Bisa diceritakan kembali bagaimana rezim orde baru berakhir?

Ini ada dua isu menarik ya, dan kedua ini baru saya buka, Anda boleh buka karena ini kontroversial. Sekarang ini ada serangan kepada tokoh-tokoh reformasi. Motifnya itu akumulasi dari perasaan tak terima karena ada klaim terhadap perubahan yang akhirnya diambil oleh orang-orang dari zaman akhir Suharto. Kenapa orang-orang ini bilang Pak Amien Rais pengkhianat? Karena Amien Rais itu aktor di atas panggung yang menjatuhkan Soeharto. Banyak orang gak terima. Nah orang-orang ini yang biasanya kontra Soeharto. Mereka ingin menisbatkan seolah-olah Jokowi ini pejuang reformasi. Padahal kalau kita lihat sejarahnya pada saat itu dia lagi naik gunung turun gunung buat jualan kayu.

 

Maksudnya bagaimana?

Kawan kawan yang ingin menghancurkan Amien Rais ini juga ingin menghancurkan saya. Seolah-olah saya tidak punya jasa dalam reformasi. Ke mana Fahri waktu demo-demo itu? Terang saja kalau ambil spot bulan Maret-April-Mei, ya saya jadi Ketua Umum. Ketua Umum kan hubungannya dengan elit. Komunikasinya elit. Kalau kantong massanya itu di kampus-kampus, saya itu negosiatornya. Yang saya ajak ngobrol itu elit, saat itu saya nempel ke Pak Amien. Tapi itu kan kalau kita lihat dinamika 3 bulan itu. Tapi kalau mau mengklaim yang layak disebut pahlawan itu hanya kelompok yang pernah dipenjara oleh Pak Harto, atau yang dipecat dari kampus. Ya bukan begitu perjuangan. Perjuangan itu kompleks. Nah itulah yang membuat orang gak paham konteksnya, mereka mau menghilangkan simbol dan merek yang menempel di Pak Amien.

 

Jadi bagaimana Anda akhirnya menjadi aktivis dan kemudian tergerak untuk turut menggulingkan rezim?

Saya dari SMA sudah ikut organisasi, Muhammadiyah. Dulu kuliah juga aktivis di masjid. Dulu memang tidak ada bahasan turun Soeharto, tapi yang lain kan gerilya. Ada yang ikut Ali Sadikin, ada yang ikut Petisi 50 dengan Pak Darsono. Di kalangan mahasiswa ada yang begitu. Kalau saya lebih banyak di masjid kampus. Ada eksperimen anak-anak mesjid di UI mengambil alih Senat.  Saya ada di gerbong tu saja, di Senat kampus. Abis saya lulus, anak masjid kampus kumpul. Saya ikut. Eskalasi. Syaratnya temanya apa, siapa pembicaranya. Saya dipilih aklamasi. 29 Maret 1998. Di kalangan anak-anak kampus ada perpecahan tapi karena napas perubahan itu sama akhirnya kita kompak, saya dan Pak Amien kampanye di seluruh Indonesia. Setelah mahasiswa Trisakti kena tembak eskalasi meningkat. Kayak 212 juga teorinya sama. Tapi dulu ada tank dan panser.

 

Apa yang dikatakan Amien Rais ketika itu kepada teman-teman aktivis?

Pak Amien bilang ‘Gak bisa gini, menjatuhkan orang dengan banyak darah’. Kita akhirnya buat konferensi pers di menteng milik Malik Fajar. Saya habis itu keliling naik motor ngasih tau jaringan. Itu karena capek seharian koordinasi di lapangan, waktu konferensi pers itu saya di depan kamera dan tidur di depan kamera. Akhirnya Pak Amien dan wartawan pindah. Pak Amien mengumumkan acara di Monas dibatalkan. Orang bilang disitu (Monas) bakal ada ladang pembantaian.

 

Lalu akhirnya ke mana?

Pada 20 Mei jadinya sepi Monas, tapi Gedung DPR kosong, akhirnya datanglah anak-anak yang tadinya mau ke Monas ke Gedung DPR. Naiklah sampai ke atas atap, masuk ke lobi, ada yang tidur di masjid. Pada 21 Mei Pak Harto mundur. Nah, tapi di sini ada politik yang mengakui pada saat itu Amien Rais itu bintangnya. Pasca turunnya Pak Harto perlu adanya suksesi kepemimpinan. Itu Pak Amien yang kemudian viral. Suka tidak suka, Pak Amien saat itu figur yang nyata. Untuk memperdalam pendapat tentang Pak Amien, dia itu teman Pak Habibie, tapi ditawari jabatan di Pemerintahan Habibie tidak mau. Malah bikin partai dia. Kalau saya boleh bilang, Amien Rais itu bisa jadi presiden hari ini tanpa kesulitan, orang Pak Habibie nawarin presiden setelah dia. Tapi dia gak mau.

 

Anda ini tokoh KAMMI, bagaimana cerita pembentukan organisasi itu?

Jadi KAMMI itu kalau bicara tentang tradisi masjid kampus, akarnya itu tradisi islam yaitu dakwah. Dakwah itu mendapatkan tempat di kampus. Lahirlah masjid kampus, masjid kampus itu lahir duluan sebagai fenomena politik Islam. Ada Masjid Ukhuwah Islamiyah di UI, ada Salman di ITB, ada Al Ghifari di IPB. Karena isinya mahasiswa, anak-anak masjid itu ada yang merujuk ke Irak, Iran ada yang ke ikhwan (ikhwanul muslimin). Nah itu yang berkembang terutama di ITB. Memang orang lagi haus. Ada revolusi di Iran menimbulkan narasi dan preferensi membaca gejolak itu. Ramailah mentoring itu sebagai konten masjid kampus. Bahkan beberapa kampus pelajaran agama dititipkan ke situ. Di beberapa kampus menjadi nilai agama kalau ikut liqo/mentoring itu. Itu kita kumpul di Malang. FSLDK yang ke-14. Kita sebagai kekuatan Islam, yang sering ngurus masjid membuat kita harus mengambil kontribusi. Saya ingatkan dalam forum tersebut platform kita harus kuat, jubirnya juga harus kuat. Saya justru dijadiin jubir. Datang saya ke Amien Rais sebagai Guru Besar. Kalau mengandalkan ketokohan saya kan banyak pembandingnya ketua senat yang lain.

 

Percakapan di rumah Malik Fajar itu apa saja?

Pak Amien itu saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Dari kelompok Pak Harto sendiri ada yang melihat Pak Harto sudah tidak bisa dipertahankan. Nah itu semua ngumpul di rumah Pak Malik. Saya gak bisa sebut namanya. PP Muhammadiyah kan satu lorong gitu. Dateng utusan-utusan seperti Cak Nun. Orang-orang yang berani berterus terang itu didengar oleh Pak Harto. Dialognya tentang waktu jatuh pemerintah kapan.

Sebenanya kalau Pak Harto mau dia bisa kirim tank dari mabes, kepung gedung DPR. Tapi beliau tidak melakukan itu. Dia justru mundur. Sujud syukur kita. Pengurus Muhammadiyah sujud syukur semua. Nah setelah itu Pak Amien itu mulai, switch mental kan itu. Pak Amien memberi endorsement Pak Habibie. Berat itu. Karena banyak orang menyalahkan kenapa memilih Habibie


Sewaktu di rumah Malik Fajar, apakah dibahas cara menurunkan Soeharto? Bukannya harus dengan sidang istimewa?

Sebenarnya dinamikanya itu lebih di sekretaris negara. Karena kemauan mundurnya itu lahir dari Pak Harto sendiri dan itu lahir dari kemauan keluarganya. Yang menarik itu justru cerita tentang Pak Habibie. Ada yang mengatakan ada yang melapor ke Pak Harto, Pak Habibie berkhianat. Jadi Pak Habibie yang bilang ke menteri supaya gak mau lagi sama Pak Harto. Kalau Pak Habibie sendiri bilangnya ‘saya gak bisa menghindar, saya ini wakil yang menggantikan presiden yang mundur’. Saya sendiri melihat Pak Habibie tidak pernah sekalipun menjelekan Pak Harto dan tidak kepingin menjadi presiden. Ada justru drama saat Pak Habibie dilantik dan sepertinya sudah diangkat di film Habibie Ainun. Jadi setelah Pak Habibie selesai membacakan janji presiden itu, beliau gak lihat Pak Harto sama sekali. Bahkan setelah itu Pak Harto tidak mau menemui Pak Habibie sama sekali. Telepon pun tidak diterima. Pernah sekali diterima. Kemudian dibilang gini sama Pak Harto “Habibie sekarang kamu sudah jadi presiden, ilmumu sudah cukup. Kamu sudah enggak usah nanya-nanya lagi”. Habibie katanya nangis di telepon, ‘Gak bisa dong pak, bapak kan guru saya’. ‘Sudahlah kamu kan sudah tau caranya’, balas Pak Harto. Saat Pak Harto sakit, sebagai presiden saja, Habibie itu ditolak. Saya pikir itu ganjalan yang ada di Pak Harto sampai dia meninggal. Pak Habibie sendiri tidak enak dengan tuduhan berkhianat itu. Itu drama-drama di kalangan elit yang saya tau.

 

Anda melihat Soeharto ketika itu bagaimana?

Tapi saya melihat Pak Harto setelah turun itu tinggal di Cendana, dia dimaki tiap hari oleh televisi, didemo tiap hari sama mahasiswa tapi kok dia tahan ya, lama loh hidupnya. Di situ saya bilang gak boleh kita itu menganggap kosong Soeharto. Dia itu orang kuat. Paling gak dia itu tidak merusak masa transisi. Dia biarin Habibie, dia biarin Gus Dur, dia biarin Megawati. Meskipun saat Gus Dur dan Mega ada juga keinginan nyolek-nyolek dia kan supaya ada yang disalahkan dari masa lalu tapi dia sabar. Dia biarin terus transisi sampai dia meninggal. Menurut saya itu sesuatu. Anda tidak bisa menyamakan itu dengan orang-orang lain.

 

Di antara menteri-menteri yang membisiki Pak Habibie itu golongan Pak Ginanjar Kartasasmita?

Ya di antaranya itu, dianggap geng ICMI. Saya tidak menganggap itu sebagai sebuah pengkhianatan itu natural saja. Presidennya didemo ada kegoyahan pasti di tubuh pemerintahan dan yang paling enak diajak ngobrol ya wapres. Saya terus terang ketika ditolak LPJ-nya Pak Habibie, kemudian beliau mundur itu another kebesaran jiwa yang luar biasa. Meskipun banyak yang menyalahkan beliau karena kita melepas Timor-timor. Tapi hanya dalam 1 tahun 7 bulan dia menyelamatkan perekonomian dari 1 US$ sama dengan Rp 16000 menjadi Rp 7000, itu dahsyat. Bukan cuma itu, dia menyelenggarakan pemilu yang Luberjudil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil) kok, yang justru membuat dia harus turun.

 

Berarti habibie berhasil sebagai Presiden?

Kalau mau Pak Habibie itu bisa ngomong ‘pemilu kalian dianggap dunia itu saya yang buat, ekonomi kalian rubuh saya yg menyelamatin’. Ada drama di rumahnya Pak Habibie yang gak banyak orang tahu. Itu saat datangnya pimpinan militer dan sipil, datang ke Pak Habibie nangis minta Pak Habibie tetap menjabat sebagai presiden. Pak Habibie mantap menjawab sudahlah ini waktunya kalian. Sekarang aja mulai ada pengakuan Pak Habibie sukses, dulu mana ada.

 

Otak dibalik penculikan 1998 itu siapa sih sebenarnya?

Itu yang saya bilang pemimpin di masa transisi itu tidak menyelesaikan permasalahan itu. Itu yang nista menurut saya. Itu yang tidak diselesaikan padahal mudah karena mental-mental yang gak bener. Harusnya tuduhan itu bukan ke Pak Prabowo tapi ke penguasa pada saat itu.

 

Bang Fahri kena terror kah sewaktu reformasi?

Kena ya biasalah, mertua saya aja kena, dia kan PNS

 

Pas menduduki DPR ada isu, ada kondom berserakan itu bener gak?

Namanya pasar, ya semuanya ada. Hahaha.

 

Nah setelah 20 tahun apa yang Anda lihat reformasi saat ini?

Saya merumuskan problemnya itu sederhana. Sistemnya sudah ada, ada lubang-lubang yang harus diperbaiki. Lubang yang menghasilkan korupsi misalnya. Ada lubang di tata kenegaraan kita. Presidensialisme rasa parlemen. Presiden yang gampang merekrut partai melalui menteri-menteri. Ini semua lubang nih. Dalam demokrasi itu, sebenarnya pemimpin itu bisa gak ngapa-ngapain. Makanya ada bahasan, pemimpin itu penjaga malam, karena semakin sedikit mereka muncul semakin baik. Nah kita ini dalam sistem yang belum matang. Sehingga demokrasi yang begitu bukannya menghasilkan kelas menengah yang banyak dan produktif. Buktinya kelas menengah kita gak tumbuh. Sekarang yang kaya makin kaya, yang miskin tambah anak. Hahaha

 

Lalu bagaimana seharusnya?

Kita butuh pemimpin yang membawa kepada renaisaance, yang punya pikiran baru. Setiap 20 tahun kita ada sesuatu yang baru. Pada 1908 ada Budi Utomo dengan pendidikan, 1928 Sumpah Pemuda, 1948 ada ujian ideologi, 1968 lahirnya orde baru. Lahirnya orde baru itu wajar, karena dulu konsepnya daripada konflik ideologi terus menerus bisa bikin pulau-pulau yang sudah bersatu itu hilang. Tapi ketika lahir otoriter maka bangsa kita menolak. Bangsa ini lahir dari subkultur yang menolak otoritas. Makanya bisa beragam begini. Platform kita sudah kuat di situ makanya enggak ada dominasi suku, agama, ras. Kita tidak terima itu. Tahun 1998 lahir reformasi. Nah reformasi ini cukup untuk membangun sistem karena ada empat amandemen yang dituntut oleh mahasiswa. Apa yang akan dilakukan ke depan, itu yang terjadi stagnasi di kalangan elit. Pak Jokowi juga menjadi penyempurna stagnasi tersebut karena dia betul-betul enggak punya bayangan ke depan seperti apa. Menurut saya kalau sampai 20 tahun ke depan kita enggak ada ide baru, kita bisa bahaya. Makanya kalau Pak Prabowo bilang ke depan itu kita terancam itu bener juga.