BANDUNG. Perubahan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dari Ujian Tulis berbasis Cetak (UTBC) menjadi Ujian Tulis berbasis Komputer (UTBK) sudah santer terdengar. Perubahan yang sudah dimulai sejak 2017 ini, akan dilakukan secara menyeluruh di tahun 2019 mendatang. Tidak hanya pada tahapan pelaksanaan, perubahan ini dinilai cukup radikal karena menyentuh berbagai aspek.

 

1.       Panitia pelaksana SBMPTN menjadi Lembaga Permanen


Pada tahun-tahun sebelumnya, SBMPTN diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk (kemudian dibubarkan) pada tahun berjalan. Tahun 2019 nanti, akan dibentuk lembaga permanen yang diberi nama Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Lembaga ini bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Ketua LTMPT Prof. Dr. Ir. Budi Prasetyo Widyobroto, DESS, DEA mengatakan perubahan sistem kepanitiaan yang bersifat ad hoc menjadi lembaga permanen ini bertujuan agar pengelolaan dan penyelenggaraan SBMPTN dapat dilakukan dengan lebih efisien. Selain itu, lembaga yang permanen dan fokus dinilai dapat mengembangkan instrumen tes secara terus menerus. “Misalnya di Amerika itu ada SAT, GMAT, itu kan Lembaga. Keinginan Pak Menteri itu mbok ya Indonesia itu punya Lembaga yang terstandar,” Ungkap Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).


Ke depannya struktur LTMPT akan menempatkan Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) di pucuk organisasi yang membawahi Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Kemudian MRPTNI akan menunjuk 4-5 orang yang akan mengisi posisi sebagai dewan pengawas di antaranya Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) dan beberapa Rektor. Dewan pengawas inilah yang akan memutuskan kebijakan-kebijakan. Di bawah dewan pengawas diisi oleh Direktur Utama dan Direktur-Direktur dari kalangan dosen yang diberi tugas tambahan yang berfungsi menjalankan keputusan dari dewan pengawas dan dewan rektor.

 

2.       Komponen Tes dalam UTBK


Paket soal yang ditawarkan terdiri dari Sosial Humaniora (Soshum) dan Sains Teknologi (Saintek). Pada satu paket soal UTBK terdiri dari Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA). TPS mengukur kemampuan kognitif yang tidak berkorelasi secara langsung dengan pelajaran di sekolah dan TKA mengukur kemampuan kognitif yang terkait langsung dengan konten mata pelajaran yang dipelajari di sekolah. Penekanan tes pada Higher Order Thinking Skills (HOTS).


“Pak Menteri mengatakan dari dulu tesnya kayak gini terus, itu pasti yang menang ya SMA favorit. Jadi Perguruan Tinggi baik-baik hanya diisi oleh mereka. Sekarang dengan TPS memberi kesempatan pada peserta yang potensial tapi tidak terfasilitasi di Sekolahnya,” tambah Budi.


Hingga saat ini, LTMPT belum memutuskan apakah SBMPTN dinilai berdasarkan nilai UTBK saja atau terdapat kriteria lain. Wawasan kebangsaan dan aspek kedaerahan merupakan beberapa bocoran tes yang kemungkinan akan menjadi salah satu komponen penilian SBMPTN selain nilai UTBK di tahun 2019 kelak. Namun Budi tidak banyak angkat bicara melalui hal ini. “Launching UTBK baru akan dilaksanakan tanggal 4 Januari 2019, tapi kalau kriteria lain itu nanti, ya sebelum pendaftaran SBMPTN lah,” jawab Budi berkelakar.

 

3.       UTBK dilaksanakan sebelum jadwal SBMPTN dibuka


Menurut Budi selaku Ketua Pelaksana Harian LTMPT, UTBK akan dilaksanakan melalui LTMPT mulai 30 Maret hingga April 2019 sebanyak 12 kali (sabtu dan minggu) yang setiap harinya terdapat dua sesi yakni pagi dan siang (24 sesi). Yang menarik adalah siswa kelas 12 atau lulusan dua tahun sebelumnya baik dari SMA, MA, SMK maupun Paket C berkesempatan untuk mengikuti tes UTBK sebanyak maksimal dua kali dengan biaya Rp 200.000 tiap tes. Pada saat pendaftaran, peserta dapat memilih waktu dan tempat tes sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Namun peserta harus menentukan akan mengikuti tes UTBK sebanyak satu atau dua kali sejak awal, dikarenakan tidak dibuka periode pendaftaran kedua setelah pelaksanaan tes. Pendaftaran UTBK dapat diakses melalui https://pendaftaran-utbk.sbmptn.ac.id


Pelaksanaan UTBK akan dilakukan di 72 Perguruan Tinggi yang telah melaksanakan UTBK pada tahun sebelumnya, serta beberapa sekolah yang melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Kerjasama ini dilakukan melalui koordinasi dengan Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), serta 11 PTN - AI (Agama Islam) yang akan menginduk pada PTN yang menjadi pusat UTBK di setiap wilayah.


Hasil UTBK akan diumumkan pada peserta 10 hari setelah diadakannya tes. Selain detail nilai tiap tes, peserta juga akan mendapatkan informasi umum berupa nilai maksimal, rata-rata dan sebaran peserta seluruh Indonesia. Nilai ini akan digunakan peserta untuk melamar dan memprediksi apakah nilai tersebut mampu membawanya memasuki PTN yang dituju. “Untuk passing grade PTN tahun pertama belum ada data. Setelah 2020 baru akan diumumkan dari hasil tahun sebelumnya,” tutur pria kelahiran Boyolali 27 Mei 1961.

 

4.       Pendaftar SBMPTN harus memiliki Nilai UTBK


Setelah mengikuti dan mendapatkan nilai dari UTBK, peserta dapat memilih nilai terbaiknya (jika mengikuti dua kali tes) untuk diajukan sebagai salah satu syarat mendaftar SBMPTN. Pendaftaran akan dilakukan secara online dengan mengunggah berbagai persyaratan salah satunya adalah nomor pendaftaran UTBK. Bagi siswa yang telah diterima pada program Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) secara otomatis akan tertolak dari pendaftaran SBMPTN. Selain itu, pilihan program stusi juga diperkecil dari tahun sebelumnya yakni 3 pilihan, tahun ini peserta hanya beerkesempatan memilih 2 pilihan program studi baik dari satu perguruan tinggi yang sama maupun berbeda.


“2019 kita tidak bisa membendung anak begitu tes sudah pegang nilai. Saya dengar PTS yang punya program studi favorit seperti kedokteran dan lain-lain itu sudah ancang-ancang, begitu anak-anak memiliki nilai, itu sudah akan ditawari ‘Silakan kami akan menerima siswa yang memiliki nilai UTBK sekian’ Itu kita juga tidak bisa melarang, karena anak itu bebas untuk apply di situ. Jadi ada kemungkinan kita ‘didahului’,” Jelas Pria yang memiliki hobi Tenis.


5. Ujian Keterampilan ditiadakan SBMPTN


Menurut Budi, baik jalur SBMPTN maupun SNMPTN untuk program studi seni dan olahraga tidak akan diadakan seleksi samapta dan keterampilan. Tahun 2019 nanti akan digantikan dengan portofolio berupa video, piagam penghargaan dan lain sebagainya. Portofolio ini berisi banyak komponen yang dinilai mampu merepresentasikan kemampuan siswa tanpa harus menyaksikan langsung melalui tes keterampilan. “Bukan dihilangkan, tapi diganti,” ungkap professor yang mendapatkan gelar Magister dan Doktornya di Perancis.