BANDUNG. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki hajatan besar di tahun 2019. Perubahan sistem dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dari Ujian tulis berbasis Cetak (UTBC) menjadi Ujian Tulis berbasis Komputer (UTBK) digadang-gadang merupakan upaya yang akan menguntungkan bagi para peserta ujian. Perubahan ini bukan hanya merubah teknis ujian, tetapi perubahan pun sampai menyentuh ditataran pelaksana. Panitia Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang bersifat ad hoc  dan sudah bertahun-tahun menjadi penyelenggara, kini digantikan dengan pembentukan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), yang bersifat permanen. Digawangi oleh Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), siapa sebenarnya yang akan diuntungkan dari semua perubahan ini?


 

Jika kita melihat dari sisi keuangan, biaya yang dikeluarkan oleh peserta UTBC tahun lalu dan untuk UTBK saat ini untuk satu kali pendaftaran masih sama, yaitu Rp 200.000. Yang menjadi perbedaan, untuk UTBC tahun lalu peserta hanya bisa mendaftar 1 kali, sedangkan untuk UTBK peserta bisa mendaftar sampai 2 kali. Sehingga dari sisi keuangan, peserta UTBK berpotensi mengeluarkan biaya 2 kali lipat dibandingkan saat UTBC. Bagian yang juga menjadi menarik, dengan sistem UTBK banyak komponen-komponen yang sebelumnya ada, saat ini bisa dipangkas. Sehingga harapan ke depan penghematan dalam hal pengeluaran dari penyelenggara bisa dilakukan.


 

Efisiensi Sosialisasi


Dari uang pendaftaran UTBC, panitia pelaksana menggunakannya untuk beberapa komponen yang memerlukan pembiayaan. Komponen pembiayaan pertama adalah sosialisasi. Pada komponen ini, dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan antara UTBC dengan UTBK. Pasalnya, sosialisasi SBMPTN selalu dilaksanakan bersamaan dengan sosialisasi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Menurut Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012, biaya pelaksanaan SNMPTN ditanggung oleh pemerintah sehingga peserta tidak dipungut biaya. “Tapi karena (SNMPTN) masih di bawah LTMPT, maka negara memberikan uang lewat LTMPT. Sebenarnya itu hanya untuk SNMPTN, namun karena di sosialisasi itu kita pasti bicara dua-duanya, sehingga istilahnya SNMPTN itu gratis dan SBMPTN itu subsidi,” jelas ketua pelaksana harian LTMPT, Prof. Dr. Ir. Budi Prasetyo Widyobroto, DESS, DEA.


 

Efisiensi Pembuatan Soal


Komponen pembiayaan kedua adalah biaya pembuatan materi soal. Tidak diketahui secara pasti berapa biaya yang dikeluarkan oleh Kemenristekdikti dan MRPTNI dalam rapat-rapat hingga penyusunan soal SBMPTN. Namun Budi membeberkan, perubahan sistem UTBC menjadi UTBK akan menguntungkan penyelenggara dari sisi pembuatan soal. Penggunaan sistem komputer lebih menjamin keamanan soal untuk tidak tersebar pasca tes dibandingkan UTBC karena lembar soal akan dibawa pulang oleh peserta tes. Artinya, semakin lama akan semakin banyak bank soal yang dapat digunakan kembali. Apakah berarti biaya pembuatan materi soal dapat dihemat di tahun-tahun berikutnya? Kemungkinan besar jawabannya adalah iya.


 

Efisiensi Pengadaan Soal dan Biaya Pengamanan


Beranjak pada komponen berikutnya yang menunjukkan perbedaan menonjol antara UTBC dengan UTBK yakni biaya pengadaan soal. Pada satu kali tes untuk paket soal Sains dan Teknologi (Saintek) atau Sosial Humaniora (Soshum), peserta akan mendapat kertas soal Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA) yang terdiri atas soal Kemampuan Verbal, Numerikal, Figural, Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, masing-masing 15 soal. Rata-rata 90 soal ini dipaparkan ke dalam 8-12 lembar kertas HVS. Sedangkan Tes Kemampuan Dasar (TKD) Saintek terdiri atas Matematika, Kimia, Fisika dan Biologi masing-masing 15 soal yang rata-rata dipaparkan ke dalam 8-10 lembar kertas HVS bolak-balik. Sama seperti TKD Saintek, peserta yang mendaftarkan untuk paket soal Soshum akan mendapat 3-5 lembar soal TKD Soshum yang terdiri dari soal Sejarah, Geografi, Ekonomi dan Sosiologi masing-masing 15 soal. Informasi ini dipaparkan oleh Phrilli, edupreneur asal Depok yang mengadakan tryout SBMPTN secara rutin setiap tahun. “Biaya cetak tergantung fotokopiannya ratenya berapa, biasanya sih 150-250 per lembar HVS bolak- balik,” tambah Phrilli.


 

Berbekal informasi yang disampaikan sang edupreneur, biaya pengadaan paket soal Saintek tertinggi adalah Rp 5.500, Rp 4250 untuk Soshum dan Rp 6750 untuk paket soal Ilmu Pengetahun Campuran (IPC), serta Lembar Jawab Komputer (LJK) dengan harga kisaran Rp 500 tiap lembar. Jika dilihat dari pengadaan soal saja, tentu ini bukanlah angka yang besar. Hal yang perlu mendapat perhatian lebih adalah proses pengawalan kerahasiaan soal. Mulai dari pencetakan, checking dan pengemasan soal, hingga pendistribusian soal dari Panitia Pusat (Panpus) ke Panitia Lokasi (Panlok) di setiap wilayah, semuanya membutuhkan pengawasan dari pihak Kepolisian, Kemenristekdikti dan Panlok SBMPTN. Digadang-gadang, pengawasan dan pendistribusian soal ini merupakan salah satu komponen pembiayaan SBMPTN yang menelan anggaran cukup fantastis. Namun Budi masih malu-malu untuk membeberkannya. “Kalau cetak (UTBC) tambahannya selain persiapan bank soal, mencetak sekian juta, dibawa ke Panlok itu harus diamankan, di pelaksanaaan, itu ngga ada lagi. Ya artinya ada ‘efisiensi’ yang kita lakukan,” ungkap Budi, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.



Tahun 2019 nanti, LTMPT menarget peserta yang mengikuti UTBK sebanyak 1.942.362 dengan estimasi peserta SBMPTN tahun 2018 sebanyak 806.001 ditambah kenaikan 10% dikalikan dua (dengan alasan setiap peserta diizinkan mengikuti tes sebanyak dua kali). Dengan jumlah peserta sebanyak itu, maka diproyeksikan LTMPT akan mendapatkan pemasukan dari biaya pendaftaran sekitar 400M, belum ditambah dengan dana dari pemerintah. Dengan gambaran demikian, siapa kira-kira yang diuntungkan dari perubahan ini?