BANDUNG. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi atau Kemenristekdikti kembali mengejutkan pelajar SMA di Indonesia dengan mengubah sistem penerimaan mahasiswa baru 2019 mendatang. Sebelumnya penerimaan mahasiswa baru adalah dengan jalur SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan  metode Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC). Namun tahun depan metode tes akan berbentuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).


Perubahan ini bukanlah yang pertama terjadi di Indonesia. Sejak awal adanya seleksi ujian masuk perguruan tinggi negeri, Indonesia sudah mengalami 7 kali perubahan. Berdasarkan laman tirto.id seleksi ujian masuk PTN yang pertama diadakan tahun 1976 dengan nama SKALU (Sekretariat Kerja Sama Antar Lima Universitas). Kelima universitas tersebut adalah UI, IPB, ITB, UGM, dan Airlangga. Kemudian pada tahun 1979 berubah menjadi SKASU (Sekretariat Kerja Sama Antar Sepuluh Universitas). Pada sistem ini peserta dapat memilih 3 program studi dari 3 PTN.


Tahun 1983, nama seleksi mahasiswa baru tersebut berubah menjadi Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Sipenmaru memiliki dua mekanisme yaitu dengan ujian atau tanpa ujian yang dikenal dengan istilah PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) biasanya peserta hanya perlu melampirkan rapor atau sertifikat prestasi. Hanya berselang 6 tahun nama seleksi pun berganti menjadi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Peserta akan dibagi menjadi 3 kelompok ujian yaitu IPA, IPS dan IPC. Sistem inilah yang berjalan cukup lama hingga tahun 2002.


Baru di tahun 2002 kepanitian dikelola oleh sebuah perhimpunan dan membentuk SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Melalui mekanisme inilah mulai muncul jalur mandiri yang konon merogoh kocek tak sedikit bagi calon mahasiswa. Meskipun secara mekanisme tak banyak perubahan mendasar namun terbukti adanya pergantian nama di tahun 2008 menjadi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan di tahun 2013 berubah nama menjadi SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Di tahun 2018 inilah SBMPTN mengganti mekanismenya yang semula Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) menjadi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).


UTBK dinilai menjadi cara ampuh untuk pemerataan kesempatan berkuliah di PTN bagi setiap pelajar di Indonesia. Joni Hermana selaku Sekretaris Panitia Pusat SNMPTN-SBMPTN 2019 mengatakan bahwa UTBK memiliki kelebihan dari sistem sebelumnya yaitu lebih transparan karena hasil tes bisa diketahui saat itu juga dan peserta dapat mengikuti lebih dari satu kali jika merasa belum puas terhadap nilainya tanpa harus menunggu tahun depan.


Dalam UTBK akan diuji potensi skolastik dan kompetensi akademik. Kemampuan skolastik dinilai akan menggambarkan potensi seseorang untuk dapat mengikuti pendidikan di PTN sehingga akan membuka peluang yang sama bagi para siswa dari sekolah di daerah manapun untuk dapat bersaing masuk PTN. Sedangkan kompetensi akademik menurut Joni juga dapat diukur berdasarkan Ujian Nasional (UN).


Menurut Joni yang juga merupakan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini UTBK akan dikelola oleh lembaga mandiri yang diberi nama Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). LTMPT akan diberi amanah oleh Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Lembaga ini akan dimonitoring dan dievaluasi oleh Kemenristekdikti dan MPRTNI sendiri. Ia mengatakan bahwa UTBK hanya proses untuk penyelenggaraan masuk PTN sementara proses seleksinya sendiri adalah wewenang dari PTN masing-masing.


Budi Prasetyo Widyobroto selaku Ketua Pelaksana Harian LTMPT mengatakan bahwa sistem UTBK ini jauh lebih menguntungkan dibanding sistem-sistem sebelumnya. Ia mencontohkan peserta tidak akan melakukan kesalahan dalam mengisi lembar jawaban. “Biasanya banyak adik-adik yang menulis lembar jawaban itu di urek-urek nggak akan terbaca, kode soal, nama, dan sebagainya. Jawaban juga sama, gak akan kebaca kalau di urek-urek. Tapi kalau komputer gak akan salah. Tinggal klik-klik,” ujarnya berpromosi.