BANDUNG. Pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) atau yang sederajat nampaknya harus mempersiapkan diri menghadapi penerimaan mahasiswa baru 2019 mendatang. Pasalnya Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi atau Kemenristekdikti akan mengubah sistem penerimaan mahasiswa baru 2019 mendatang. Sebelumnya penerimaan mahasiswa baru adalah dengan jalur SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan  metode Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC). Namun tahun depan metode tes akan berbentuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).


 

Beberapa rektor dan guru besar PTN di Indonesia telah menetapkan aturan main SBMPTN 2019. Mereka yang tergabung di dalam kepanitiaan SBMPTN 2019 diantaranya adalah Prof. Ravik Karsidi selaku Ketua Panitia SBMPTN 2019, Ravik sendiri adalah Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Joni Hermana yang juga menjabat Sekertaris Panitia Pusat SNMPTN-SBMPTN 2019 saat ini adalah Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS), Prof. A H Rofi’uddin, Rektor Universitas Negeri Malang diamanahi sebagai Bendahara SBMPTN 2019. Selain itu  Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) sekaligus Rektor ITB Kadarsah Suryadi juga ikut menyemarakkan persiapan UTBK yang kedepannya akan diadakan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) yang bersifat permanen.

 


Persiapan ‘serius’ dikerahkan para elit dunia pendidikan layaknya hendak melakukan hajat besar. Namun hal ini tak sejalan dengan apa yang terjadi di kalangan grass root. Beberapa guru SMA sebagai salah satu komponen penting keberhasilan UTBK nampaknya belum banyak mendapat informasi yang sesuai dari panitia. Padahal pelaksanaan UTBK tinggal menghitung bulan.

 


Titik Niswatun misalnya. Guru mata pelajaran Matematika di SMAN 4 Kediri terkejut saat ditanya tentang UTBK LTMPT. “Loh berarti dalam setahun ada dua kali tes? Belum ada sosialisasi yang masuk. Jadi saya nggak ngerti kalau terlibat dengan sekolah. Malah saya takut tingkat kecurangannya tinggi kalau begitu,” selidik wanita paruh baya yang telah menekuni profesinya selama 33 tahun tersebut.


 

Tanggapan wanita yang akrab disapa Bu Anis ini diamini oleh Cipto Suwarno, guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 3 Kota Pekalongan. Menurut Cipto, sosialisasi seringkali mepet dan tidak terarah sehingga menjadi beban tersendiri bagi sekolah. “Apalagi dari segi biaya, jelas akan menjadi beban tersendiri bagi siswa ketika tesnya tidak bisa di kotanya sendiri. Harusnya kalo sudah online bisa dilaksanakan di sekolah masing-masing,” tambah Cipto.


 

Meskipun fakta di lapangan yang ditemui tim Retorika Kampus menyatakan demikian namun Panitia SBMPTN 2019 mengatakan bahwa sosialisasi sudah banyak dilakukan oleh PTN yang tergabung dalam anggota. “Contoh kemarin ada LTMPT Corner untuk konsultasi di ITB Open House,” bela Prof. Budi Prasetyo Widyobroto yang merupakan Ketua Pelaksana Harian LTMPT.


 

Pembelaannya tak bisa dianggap angin lalu pula. Karena menurut Yuni, Guru BK SMA Negeri 6 Bogor sekolahnya telah mendapat sosialisasi sistem UTBK ini sejak 5 tahun lalu dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal ini memberi ruang kritis bagi kita, sudah meratakah sosialisasi UTBK? Ataukah hanya kota-kota yang memiliki PTN ternama saja yang memiliki akses informasi terkait UTBK?