BANDUNG. Indonesia kembali diguncang oleh tsunami disertai gempa berkekuatan 7,7 SR yang  menelan 2000 lebih korban jiwa dan lebih dari 66 ribu rumah hancur. Dengan pusat gempa di Palu, Sulawesi Tengah, gempa kali ini juga menimbulkan fenomena likuifaksi. Meskipun likuifaksi bukanlah fenomena alam yang baru dalam ilmu kebumian, namun istilah ini baru menjadi gandrung di masyarakat pascagempa di Palu 28 September 2018 silam. Beruntung, tim Retorika Kampus berkesempatan untuk mengetahui seluk beluk likuifaksi dari Ahli Geologi ITB.

 

Ditemui di ruangannya Imam Achmad Sadisun yang merupakan dosen Teknik Geologi ini mengatakan bahwa secara sederhana likuifaksi adalah perubahan bentuk tanah dari padatan menjadi carian (pencairan tanah). Pencairan tanah terjadi ketika komposisi tanah atau dalam istilah geologi disebut sedimen mengalami kondisi tak jenuh atau belum terpadatkan dengan baik bertemu dengan gempa. Gempa ini yang akan membuat kenaikan tekanan pori seacara tiba-tiba. Tekanan pori sendiri berasal dari air yang berada di antara pori-pori tanah tadi. Akibatnya, kekuatan tanah terkalahkan oleh tekanan pori sehingga material-material yang menyusun tanah itu kemudian seakan melayang di dalam air. Inilah mekanisme terjadinya likuifaksi.

 

Menurut dosen kelahiran Puworejo, 12 Februari 1970 ini, tanah yang rentan mengalami likuifaksi adalah tanah jenis alluvial. Alluvial terbentuk dari endapan yang terendapkan oleh sesuatu yang berhubungan dengan air seperti sungai, danau dan laut. Karena belum terpadatkan dengan baik maka goncangan gempa dapat membuat terjadinya likuifaksi. Ia menyebutkan dalam berbagai penelitian, gempa berkekuatan diatas 5 SR yang dapat menyebabkan likuifaksi. Tentu ini tak lepas dari faktor lain seperti kedalaman sumber gempa dari permukaan bumi dan jarak antara sumber gempa dan tanah yang berpotensi likuifaksi itu sendiri.

 

Dosen yang menyelesaikan studi doktornya di Earth Resources Engineering, Universitas Kyushu, Jepang Ini pun mengatakan ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya dampak dari likuifaksi. Yang paling utama tentu dengan mencegah pembangunan di lahan yang berpotensi likuifaksi. Namun jika tak memungkinkan maka perlu dilakukan perbaikan tanah atau soil improvement. Ia pun menyebutkan ada banyak cara untuk memperbaiki tanah.

 

Pertama, dengan mempercepat tanah memadat dengan mempercepat pengeluaran air yang terkandung diantara pori-porinya. Ada beberapa teknologi yang dapat digunakan seperti vibroflotation, PVD (Prefabricated Vertical Drain), atau dengan vacuum. Kedua, soil improvement dapat dilakukan dengan membuat tanah menjadi lebih keras. Ia menyebutkan ada banyak metode untuk mengeraskan tanah seperti injeksi semen yang akan membuat partikel tanah saling merekat, swell mixing, dan deep soil mixing. Terakhir, dapat pula dilakukan rekayasa pondasi bangunan dengan cara menanamkan pondasi sehingga mengenai tanah yang keras dibawah tanah alluvial tadi. “Tapi kalau cara terakhir ini kemungkinan gedung-gedung besar yang bisa, kalau rumah-rumah penduduk biasa akan sulit”, ujarnya.

 

Ia pun menerangkan bahwa mudah sebenarnya untuk mengetahui lokasi mana saja yang berpotensi likuifaksi. Setidaknya dengan pendekatan prasyarat geologi, lokasi yang berpotensi likuifaksi bisa diidentifikasi dini. Ketiga prasyarat geologi tersebut adalah adanya endapan muda yang dibawa air. Dalam hal ini endapan yang paling berpotensi adalah endapan pasir, baru kemudian lanau. Yang kedua adalah muka air tanah yang tidak terlalu dalam atau bahkan dangkal. Dan yang terakhir adalah adanya sumber gempa.

 

Selain itu menurutnya, telah berkembang pula perhitungan secara numerik untuk mengetahui potensi likuifaksi. Ada dua hal yang pokok untuk diketahui yaitu rasio kekuatan tanah atau cyclic resistant ratio (CRR) dan rasio tekanan disebabkan gempa atau cyclic stress ratio (CSR). Perbandingan antara CRR dan CSR inilah yang disebut Indeks Potensial Likuifaksi (IPL). Jika angka CRR lebih tinggi dari CSR artinya daerah tersebut aman dari potensi likuifaksi, namun jika nilai CRR dibagi CSR semakin kecil artinya daerah tersebut semakin rentan mengalami liquifaksi.

 

Ia menambahkan bahwa sebagian kota besar di Indonesia sebenarnya berada di atas tanah alluvial yang rentan terhadap likuifaksi. Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, dan Surabaya pun harus waspada. Ia pun menilai sebenarnya pemerintah juga memiliki kewajiban untuk memberikan pemahaman yang baik terkait potensi bencana. “Seharusnya data-data potensi-potensi ini bisa diakses karena kan penelitiannya menggunakan dana APBN”, tambahnya. Menurut dosen yang merupakan Ketua Komisi Kode Etik Publikasi Jurnal Kebumian ini masyarakat perlu dibantu untuk relokasi rumah sebelum bencana kalau tidak mau direlokasi artinya harus dilakukan perbaikan tanah baik dengan pengerasan atau dengan rekayasa pondasi.