BANDUNG. Banjir kembali melanda Kota Bandung sejak 26 November 2018 lalu. Ratusan rumah di beberapa kecamatan terendam air mulai dari setinggi mata kaki hingga leher orang dewasa. Retorika Kampus berkesempatan mewawancarai Johnny Patta, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga merupakan pakar Pengelolaan Pembangunan dan Pengembangan Kebijakan.


Ia menyebutkan penyebab banjir di Bandung adalah karena curah hujan yang tinggi tetapi sungai yang ada tidak mampu menampung hujan karena telah terjadi pendangkalan akibat banyaknya sedimen. “Air yang banyak dan tidak bisa dihantarkan jadi banjir”. Hal ini berkaitan erat dengan perencanaan perkotaan itu sendiri. Menurutnya, dalam kasus topografi Bandung seharusnya tercipta sebuah lingkungan yang dapat membuat air hujan yang turun terserap kembali ke dalam tanah. Oleh karena itu dibutuhkan tanaman-tanaman keras agar laju infiltrasi air ke dalam tanah semakin besar.


Namun sayangnya, pembuat kebijakan tampaknya tak seiya sekata dengan teori tersebut. Dosen yang mendapatkan gelar doktor di  Rutgers University, Amerika Serikat ini mencontohkan ada beberapa kesalahan dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Bandung. Ia menyebutkan penetapan wilayah Gede Bage sebagai pusat primer kedua setelah Alun-alun di Kota Bandung merupakan kesalahan besar. Ia menjelaskan Gede Bage adalah wilayah dengan topografi terendah di Bandung dan seharusnya tidak menjadi pusat primer.


Ia berpendapat pembangunan tak mutlak harus mengikuti RTRW ketika sudah melihat kesalahan dalam kebijakan tersebut karena nantinya akan timbul kesalahan sistemik. “Sekarang sudah terlanjur, banyak kepentingan bisnis juga kan, ya sekarang harus dipikirkan cara engineeringnya, misalnya dengan membuat kolam retensi,” ujarnya. Meskipun begitu ia menganalisis biaya yang ditimbulkan jika sudah terjadi kesalahan akan membengkak jika dibandingkan mengeluarkan lebih banyak modal namun dengan perencanaan yang matang.


Kesalahan fatal berikutnya adalah terkait kebijakan penghambatan pembangunan di Bandung Utara. Pembangunan di daerah Bandung Utara disebut-sebut sebagai penyebab banjir di Kota Bandung. Namun ia melihat fenomena ini  justru disebabkan karena minimnya perencanaan pemerintah di kawasan tersebut. Sehingga masyarakat secara bebas menggunakan lahan di sana dengan menanam holtikultura atau sayur-sayuran. Ia berpendapat saat hujan besar tanaman-tanaman ini tidak akan kuat menyerap air dan justru tanahnya akan terbawa sehingga menyebabkan saluran menjadi mampet.


Ia menyarankan seharusnya pembangunan dipercepat di kawasan utara. Namun tentunya bukan hanya sekedar pembangunan. Pemerintah harus tegas menetapkan berapa persen dari luas lahan yang harus dibangun dan yang harus ditanami tanaman keras. Ia justru menyarankan agar mempermudah pengembang untuk membangun selama sesuai ketentuan. Misalnya dari 1000 hektar yang dibeli tanahnya, hanya 30% nya saja yang boleh dibangun, 70% nya dihutankan (ditanami tanaman keras). 


“Mau bagaimana lagi? Pemerintah kan tidak punya uang untuk membangun hutan, ya harus melibatkan swasta”, paparnya. Namun ia menggarisbawahi pentingnya komitmen yang tinggi dari berbagai pihak untuk menjalankan konsep ini. Ia menyebut banyak kota-kota yang berhasil menggunakan konsep ini seperti New Jersey, Amerika Serikat.