BANDUNG. Pada pertengahan Maret lalu, publik dikejutkan oleh berita yang mengungkapkan adanya mikroplastik di dalam air mineral dalam kemasan. Berita ini dirilis setelah para ahli membuktikan adanya keberadaan benda tak kasat mata tersebut di dalam 11 merek yang dijual di delapan negara, salah satunya Indonesia.


Mikroplastik barangkali baru mulai naik daun di Indonesia setahun belakangan, meskipun menurut pakar mikroplastik Indonesia, Emenda Sembiring, ilmu pengetahuan tentang mikroplastik telah dimulai sejak tahun 1970. 


Ia menjelaskan bahwa ada beberapa pendapat terkait definisi mikroplastik itu sendiri, namun yang paling popular adalah partikel plastik yang berukuran lebih kecil dari 5 milimeter. Keberadaan mikroplastik umumnya ditemukan dalam perairan, baik di laut maupun sungai. Mikroplastik dapat berasal dari plastik yang berukuran besar kemudian terfragmentasi menjadi ukuran mikro atau dapat juga berasal dari plastik yang memang diciptakan kecil. “Karena saat ini banyak teknologi yang didesain memang dalam ukuran kecil,” tambahnya.


Mikroplastik, diakui dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memiliki dampak yang serius terhadap biota laut seperti kerang dan tiram. Ia pun tiga tahun belakangan getol mendalami mikroplastik karena meyakini adanya potensi bahaya mikroplastik bagi lingkungan. Pada penelitiannya yang lalu, didapati adanya kandungan mikroplastik di perairan Citarum. Dengan 10 titik sampling didapatkan kandungan sebesar 3000- 5000 partikel mikroplastik per meter kubik air.


Namun sampai saat ini belum ditemukan adanya bukti bahwa mikroplastik dapat membahayakan kesehatan manusia. “Saat ini belum (bukti) tapi ada kemungkinan bahayanya dalam tubuh seperti jika terkena partikulat debu, ukuran yang sangat kecil bisa masuk ke alveoli dan mengganggu pernafasan,” paparnya.


Perempuan yang mendapatkan gelar doktor di Thailand ini mengatakan bahwa sampai saat ini penelitian tentang mikroplastik belum banyak yang bisa disinergiskan dengan pemerintah dan menjadi konsumsi publik. Hal ini berkaitan dengan masih banyaknya kendala terutama belum adanya kesepakatan diantara para ilmuwan terkait standar-standar untuk mikroplastik, seperti definisi, ukuran mikroplastik, cara pengambilan sampel, atau cara mengidentifikasi adanya mikroplastik. “Ilmu itu kan konsesus juga sebenarnya,” ujar perempuan kelahiran Medan ini.


Ia merasa cepat atau lambat masyarakat butuh mengetahui perihal mikroplastik ini. Seperti saat ini tidak ada baku mutu pemerintah terkait air minum atau air bersih yang memasukkan parameter mikroplastik. “Seharusnya perlu ya, tetapi jangankan mikroplastik. Senyawa hormon pun belum terstandarisasi, padahal masyarakat sekarang banyak yang mengkonsumsi obat-obatan yang pasti akan bermuara juga ke perairan," sambung Koordinator Plastics in Society Research and Innovation Hub Indonesia.