BANDUNG. Bulan Oktober tentunya menjadi bulan yang penuh sejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal 28 Oktober 1928 silam terjadi sebuah momentum besar kebangsaan yaitu Sumpah Pemuda. Saat dimana seluruh pemuda bersatu untuk mengikrarkan diri dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Kini nyaris 90 tahun setelah peristiwa itu, tokoh pemuda silih berganti dari masa ke masa, melahirkan perubahan-perubahan hingga sampai ke Indonesia saat ini. Retorika Kampus berhasil mewawancarai dua dosen ITB yang merupakan mantan aktivis gerakan mahasiswa untuk berbagi sudut pandang terkait gerakan pemuda masa lalu kini dan nanti.

 

Dr. Suparno Satira lahir tahun 1949 dan merupakan salah seorang dosen fisika ITB yang terkenal aktif di berbagai kegiatan organisasi baik keilmiahan maupun kemasyarakatan. Ia menceritakan kisahnya saat lulus Sekolah Rakyat dan masuk ke SMP kemudian mengikuti kegiatan Pramuka. Disanalah ia jatuh cinta pada organisasi kepemudaan. Iklim berorganisasi itu terawat subur hingga memasuki dunia mahasiswa. Semangat berorganisasi yang kuat didukung oleh keinginannya untuk mencari teman yang bisa diajak berdiskusi dan tukar pikiran. Suparno merupakan salah satu mahasiswa yang mendirikan Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK) ITB yang saat ini menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) resmi di ITB.


Dosen yang mendapatkan gelar master dan doktornya di Universite de Montpellier II, Perancis ini mengatakan bahwa pemuda adalah aset masa depan bangsa. “Pemuda sebagai aset itu juga berjenjang, ada masa SMP, SMA dan mahasiswa. Bagi pemuda SMP berarti ia adalah aset bangsa 15 tahun ke depan, pemuda SMA adalah aset bangsa 10 tahun ke depan sedangkan mahasiswa yang paling dekat, ia adalah aset bangsa 5 tahun ke depan”, ujar dosen yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Salman ITB. Menurutnya, aset ini harus dioptimalkan pengembangannya namun karena bukan benda mati maka pengembangannya lebih kompleks lagi. “Harus ada tata nilai yang diwariskan dan juga pandangan bahwa pemuda adalah aset tidak bisa hanya satu arah artinya pemuda itu sendiri harus menyadari bahwa dirinya adalah aset bagi bangsa”, tambahnya.


Ketika ditanya perubahan mendasar apa yang menurutnya amat mencolok antara organisasi kepemudaan pada masanya dan masa kini ia mengatakan bahwa rasa kedekatan dengan lingkungan ia rasakan semakin memudar. Ia mengaku sangat khawatir dengan hilangnya rasa memiliki pemuda terhadap lingkungannya. Karena rasa memiliki inilah yang akan melahirkan kepedulian dan juga nasionalisme. “Kalau kedekatan dan rasa memiliki terhadap lingkungannya rendah maka nasionalismenya rendah. Kalau tidak ada yang berpikir ini tanah airku, bangsaku, negaraku, pasti akan lebih mudah disusupi dan dipecah belah”, ujar pria yang juga merupakan salah seorang pendiri ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) ini.


Menurutnya jika ada anggapan isu nasionalisme ini tak lagi relevan dengan perkembangan teknologi dan arus informasi yang menyamarkan batas antar negara, orang tersebut harus membuka lagi wawasan kebangsaannya. “Coba lihat saudara-saudaranya atau kerabat-kerabat kita yang semakin sulit untuk mengekspresikan dirinya di bangsa ini karena fasilitas-fasilitas dikuasai asing. Contoh dulu bangsa kita disebut bangsa tempe. Walaupun bernada mengejek tetapi tempe memiliki nilai tradisi, ada kekuatan kemandirian kita yang cukup tinggi di sana. Namun saat ini nilai ini bergeser, kedelainya saja kita harus impor. Dan bukan hanya tempe, hampir di semua lini kita kehilangan ekspresi untuk berkarya”, ujarnya.


Ia mengatakan bahwa Sumpah Pemuda seharusnya dimaknai oleh pemuda sebagai momen pemuda bersama-sama mengikatkan diri kepada suatu nilai idealisme. Mengikatkan diri pada satu kebangsaan, satu kebahasaan. “Tingkatkan rasa kepemilikian kita terhadap lingkungan kita, rasa memiliki itulah yang akan diestafetkan, diwariskan kepada anak cucu kita nanti. Karena tanah air kita ini adalah titipan untuk anak cucu kita, jangan sampai saat ada di tangan mereka tanah air kita ini menciut, entah wilayahnya atau kemampuannya”, pungkasnya.


Selain Dr. Suparno Sutira, sang aktivis di era 60-an, Retorika Kampus juga mewawancarai dosen ITB yang merupakan Presiden BEM KM di tahun 2011. Tizar Muhammad Kautsar Bijaksana, ST, MT dosen muda yang kerap dipanggil Kang Tizar ini memiliki track record organisasi yang mumpuni. Aktif di SEF (UKM Debat) dan Gamais (UKM Kerohanian Islam) pada tahun pertama, kemudian terpilih sebagai Ketua Himpunan Planologi dan di tahun ketiga ia diamanahkan sebagai Presbem ITB.


Menurutnya di era informasi yang terbuka luas ini seharusnya pemuda Indonesia tidak kalah bersaing di level global. Namun perlu orientasi atau visi yang kuat, apa yang ingin dicapai. Saat ini mungkin itulah yang belum dimiliki pemuda Indonesia. Berdasarkan analisis sekilasnya mungkin pada masa 1928 penentuan visinya lebih mudah karena bagaimana caranya memerdekakan diri dari penjajahan. Tetapi ia mengatakan bahwa meskipun menentukan visi itu mudah namun peristiwa Sumpah Pemuda itu sendiri adalah sebuah prestasi besar. “Komitmen sumpah pemuda meskipun sederhana secara bahasa tapi itu sulit, membuat konsensus atau kesepakatan itu susah. Jadi sumpah pemuda itu hebat, walaupun berbeda beda tapi semua saling menjaga komitmen, sebagai landasan untuk berjuang”, ujarnya yang mengaku untuk memimpin musyawarah di level kampus saja sangat sulit.


Berkaca pada Sumpah Pemuda, ia mengaku sebuah perubahan besar memang tidak ada yang instan. “Kemerdekaan baru diraih 17 tahun setelah Sumpah Pemuda artinya tidak perlu dipaksakan saat perubahan terjadi saat ini tapi jangan sampai pemuda saat ini kebingungan dan tidak ada visi, sehingga di masa depan ga ada hasil apa apa”, tambahnya. Ia menjelaskan pula bahwa sebenarnya ada banyak visi seperti Indonesia mandiri energi atau visi besar lainnya hanya saja butuh seseorang yang memiliki kemauan besar dan bersedia menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal tersebut dan menginisiasi bersatunya pemuda-pemuda dalam satu visi.


Menurutnya kita bisa juga belajar dari Sumpah Pemuda, bahwa untuk bisa menghasilkan suatu produk perubahan dalam konteks Sumpah Pemuda yaitu menghasilkan kemerdekaan Indonesia, dibutuhkan kerjasama yang kuat dan dimulai dari komitmen bahwa kita ini satu tim untuk mencapai visi, dan proses untuk mencapai kesana itu tidak sebentar. “Tantangannya bisa gak pemuda saat ini punya orientasi dan berani bersabar untuk menanti hasilnya. Kalo gak sabar sebenarnya bisa jadi anarkis”, tambahnya. Ia pun menerangkan bahwa anarkis yang dimaksud adalah tidak percaya pada aturan dan menginginkan peran pemerintah sekecil mungkin. “Kalau pemuda gak sabar nanti energi yang seharusnya konstruktif malah menjadi destruktif. Misalnya saja malah jadi anti pemerintah atau bahkan sentimen dan memilih keluar dari Indonesia dan tinggal di luar negeri”, ujarnya.


Ia mengutip teori Noam Chomsky, salah seorang profesor di MIT (Massachusetts Institute of Technology), yang mengatakan bahwa gerakan kepemudaan itu syaratnya harus memiliki visi atau gambaran yang sangat jelas mengenai perubahan apa yang diinginkan terhadap masyarakat. Gambaran dan pemahaman di masa depan membutuhkan ilmu pengetahuan, terutama tentang ilmu kemasyarakatan. Pemuda-pemuda aktivis saat ini harus memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan teman-teman lainnya. How the world works? Bagaimana dunia ini bekerja? “Kalo jadi aktivis tapi pemahamannya dangkal nanti kegiatan yang dilakukan tidak akan berefek panjang atau tidak menyelesaikan masalah”, tandas dosen yang menyukai buku-buku filsafat ini.


Saat ditanya mengenai waktu studi yang semakin singkat dan beban akademik yang semakin besar, hal ini diamini kedua narasumber sebagai salah satu faktor yang membuat pergerakan pemuda saat ini berbeda dengan pemuda pada masa itu, meskipun berbeda disini bukan berarti hal yang negatif. Dr. Suparno menilai hal ini harus didekati 2 sisi, yaitu sisi metodologi, misalnya saja jika 1 SKS dinilai setara dengan 3 jam kegiatan maka seharusnya ditepati.


Ia bilang, bukan karena dosen harus mengejar capaian-capaian tertentu sehingga jam akademik mahasiswa terlampau berat. Semua bisa diantisipasi jika kegiatan belajar bukan saja dilakukan oleh mahasiswa tetapi juga oleh dosen. Karena fasilitas belajar sudah sangat baik, ketika kita buka internet sumber-sumber sudah banyak, artinya akselerasi pembelajaran sudah sejauh itu. Ilmu yang diajari dosen saat ini paling tidak ilmu yang dipelajari 7-10 tahun yang lalu. “Padahal setiap detik ilmunya berkembang. Jika hal ini disadari bersama seharusnya pertemuan di kelas tidak perlu selama itu”, ujarnya.


Ia pun mengatakan kegiatan di luar justru memberikan peluang-peluang broadening. Menurut Kang Tizar, kampus seharusnya memiliki political will untuk tetap membuat kegiatan kemahasiswaan hidup di tengah padatnya tuntutan akademik, bisa dengan mengadakan program pelatihan, mentoring atau antisipasi lainnya.