Pada saat menjelang proklamasi, peran umat Islam itu bagaimana sih Pak? Ulama, kemudian santri?

Saat kita menghadapi penjajahan jepang, ada perang yang dinamakan Perang Asia Timur Raya pada tahun 1941 – 1945 antara Axispact (pakta pertahanan poros) yaitu Jerman, Italia dan Jepang melawan Alied Forces (pakta pertahanan sekutu di Indonesia) yaitu Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia dan Negara-negara Eropa. Kalau di Eropa disebutnya bukan Perang Asia Timur Raya tapi Perang Dunia II. Dalam perang, Jepang punya Nippon Islamic Grassroot Policy atau tentara pembela tanah air.

 

PETA ya Pak?

Iya PETA. Semua komandan batalyonnya adalah ulama. Kalau di buku ini (Api Sejarah edisi kedua) ada 68, tapi sebenarnya ada 80 batalyon. Jadi pada zaman Jepang, umat Islam memiliki organisasi militer modern yang tidak dimiliki pada zaman penjajahan Belanda. PETA inilah yang dua tahun kemudian menjadi TNI (1966), lambing benderanya bulan bintang (lih. Api Sejarah edisi kedua hal. 103).

Kenapa Jepang percayakan kepada ulama? Karena pada zaman penjajah Belanda menghadapi sekutu, rakyat yang melakukan perlawanan adalah ulama dan umat islam semua. Seperti Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol. Jadi Jepang itu parpol (partai politik) Islam tidak boleh tapi pembentukan tentara diizinkan.

Kalau kita lihat, semua kota pasti memiliki penjara yang dekat dengan kantor pos dan jalan kereta api. Nah itu yang dipenjara ulama-ulama. Kalau di dalam penjara itu timbul pemberontakan, kantor pos mengabarkan kepada militer Belanda. Lalu militer Belanda datang dengan kereta api (benteng stelsel). Walaupun demikian, ulama itu tetap berontak. Di antaranya di Tasikmalaya itu ada Zainal Mustofa. Di Indramayu juga ada.

 

Apa yang dilakukan Jepang untuk meredam pemberontakan itu Pak?

Untuk meredakan pemberontakan ini Jepang memberikan janji kemerdekaan. Janji kemerdekaannya itu adalah ‘kelak di kemudian hari berdasarkan Islam’ oleh perdana menterinya, Koiso (lih. Api Sejarah edisi kedua hal. 99). Janjinya terjadi pada tahun 2604, itu tahun jepang. Kalau tahun sininya itu 1944. Mereka merasa lebih tua.

Janji Jepang akan memerdekakan dengan Islam itu ngga pernah ditepati. Sehingga setahun kemudian timbul pemberontakan PETA. Yaitu di Blitar (Supriyadi, lih. Api Sejarah edisi kedua hal. 113), Cilacap dan di Pengalengan (lih. Api Sejarah edisi kedua hal. 119). Nah adanya pemberontakan ini memicu kalangan politik untuk sidang yang dinamakan BPUPK (Badan Penyelidik Upaya Persiapan Kemerdekaan). Dari situlah dibicarakan apa dasar Negara ini? Nah Bung Karno bicara dasar Negara adalah pancasila. Ketika pidato 1 juni itu, Bung Karno bicara bahwa dengan pancasila akan berlaku hukum Islam di Indonesia (Teks pidato 1 juni: lih. Api Sejarah edisi kedua hal. 130)

Sampai nanti Jepang dibom oleh Amerika karena Jerman dan Italia sudah menyerah, janji kemerdekaan itu ngga pernah diberikan. Tanggal 6 agustus itu bom di Nagasaki, tanggal 9 agustus di Hirosima. Jepang menyerah pada tanggal 14 agustus 1945, lalu Indonesia proklamasi tanggal 17 agustus 1945 bertepatan 9 ramadhan 1364 H. Sebelum proklamasi itu Bung Karno mendekati ulama.

 

Sebelum proklamasi itu kenapa Pak?

Iya, karena Bung Karno takut. Bung Karno kan memihak kepada Jepang, sedangkan sekutu yang menang. Jadi saat Bung Karno ketakutan, siapa yang didekati? Ya itu ada 3 ulama itu. Hasyim Asyari dari Nahdlatul Ulama (NU) asal Tebuireng, mbahnya Gusdur itu. Lalu yang kedua Abdul Mukti dari Muhammadiyah, nah inilah yang menentukan tanggal kemerdekaan. Yang ketiga, ini Bung Karno selalu langganan datang kesana, di Sukanegara (cianjur). Menurut Gusdur namanya adalah Kyai Musa. Tapi kalau orang sana menyebutnya bukan Kyai Musa. Kyai Musa ini keturunan Hadiwijaya, orang Pajang (daerah Demak).

Nah ketiga ulama ini yang membuat Bung Karno berani membacakan proklamasi pada jumat legi. Dengan adanya proklamasi maka tentara PETA berubah menjadi TNI. TNI itu satu-satunya organisasi yang disebut sebagai anak kandung rakyat. (Hal tersebut) Karena TNI lahir dari Rahim PETA dimana semuanya merupakan ulama yang betul-betul milik rakyat.

 

Kalau setelah proklamasi bagaimana Pak?

Pada tanggal 18 agustus (10 Ramadhan), ditentukan ideologi pancasila. Tidak akan mungkin proklamasi terjadi kalau tidak ada kyai. Inilah yang menentukan ideologinya (lih. Api Sejarah edisi kedua hal. 158), Ki Bagoes Hadikoesoemo dari muhammadiyah dan Wahid Hasyim, ini bapaknya Gusdur. Jadi tangal 1 juni itu baru muncul nama. Kalau urutan pancasila dari Ketuhanan yang Maha Esa sampai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia itu 18 agustus. Yang nyusun ya (mereka) ini, dibantu oleh Kasman Singodimedjo, sesudah diputuskan dilaporkan oleh Teuku Moh. Hasan kepada Moh. Hatta dan disahkan oleh panitia PPKI itu. Bukan PKI ya, PPKI.

Jadi peranan umat Islam (ulama) adalah membuat adanya proklamasi. Adanya ideologi Pancasila dan UUD 1945 itu dibuat berdasarkan Piagam Madinah yang dibuat oleh Rasulullah dalam rangka menyatukan antara yahudi, nasrani, majusi dan islam. Isinya 41% adalah tentang persatuan. Pasalnya itu ada 47 tapi nanti diringkas menjadi 37 pasal.

Pada Bab 11 pasal 29 itu judulnya agama, tapi isinya Negara berdasar Ketuhanan yang Maha Esa. Lalu kyai ini ditanya:

‘Kyai itu apa maksudnya Negara berdasar ketuhanan yang maha esa ditempatkan pada bab yang judulnya agama?’

Lalu yang bertanya ditanya:

‘Agama apa yang Tuhannya esa?’

‘Islam kyai. Kenapa kok Kyai tidak nulis Negara berdasarkan Islam? Tidak langsung saja’.

Jawab kyai:

‘Apakah ada Alquran nama suratnya surat Islam?’

Itulah islam. Suratnya al-Baqarah (sapi betina) an-Naml (semut), laba-laba, tapi semua bicara Islam.

 

Pendapat Bapak tentang isu-isu yang menyerang Islam, seperti Islam memberontak, Islam mau makar, itu bagaimana Pak?

Sebenarnya itu kan kalau anda dijajah kepalanya diinjak apa mau diam saja? Ya itu kan respon. Islam itu memberikan jawaban terhadap tantangan. Kita tidak akan berontak kalau ngga diinjak. Karena kita dijajah dan diinjak masa itu makar? Ya bela diri aja, spontanitas.

Belanda menjajah itu membodohkan, kita ngga boleh sekolah dan ngga pake sepatu. Pangeran diponegoro imam bonjol dan lain-lain itu (memberontak) karena serdadu menyebarkan candu-candu minuman keras. Dan sekarang (dijajah) dengan narkoba.

Dulu, sampai dengan rela seorang ibu mengantarkan anaknya ‘Berjuanglah nak, kalau gugur kau akan jadi penghuni surga’. Ini perjuangan untuk merdeka. Kita merdeka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita jadi cerdas karena jasa ulama dan pesantren.

Pendapat Bapak tentang aksi damai seperti 212 dan lain sebagainya itu gimana pak?

Aksi itu sebagai jawaban terhadap penghinaan agama. Bung Karno itu seorang pancasilais sejati. Walaupun Bung Karno dekat dengan cina, tapi selama 25 tahun tidak ada cina jadi Gubernur. Tidak ada tulisan cina (koran cina). Dan Bung Karno melarang cina keluar dari Provinsi.

Yang kemarin itu kan kebablasan, sehingga umat Islam menginginkan yang seperti dulu. Itu wajar saja, ada satu pernyataan kecintaan pada islam. Dan kalau Islam dihinakan Allah itu menampakkan kekuatannya. Tidak ada 3 juta orang berkumpul tapi sampahnya tidak ada, kecuali aksi 212. Itu kehendak Allah. Sampai anak dari Ciamis berani jalan kaki itu bukan logika kemanusiaan, melainkan ada spiritual dari Allah. Umat Islam bisa berkumpul sebegitu banyak dengan dana sendiri. Anda bisa melihat itu kekuatan riil dari Allah. Untuk Membukakan mata orang-orang anti Islam (Islamophobia). Islam itu damai. Tapi kalau Islam itu diinjak dia akan menampilkan kekuatannya.

Pembubaran HTI dan lainnya itu kan karena ada kecurigaan bahwa umat Islam akan makar, bagaimana tanggapan Bapak tentang itu Pak?

Ya mereka berhak saja untuk menganggap Islam seperti apa seperti apa. Tetapi Kenyataannya Islam tidak seperti yang dia duga. Boleh saja Islam dikatakan teroris, dan macem-macem, padahal mereka hanya menganggap satu dugaan tapi ternyata mereka sendiri seperti maling teriak maling.

Islam itu indah, Islam itu baik, Islam itu damai selama tidak ditindas, tidak diinjak, tidak dinistakan. Tapi kalau Islam dihina, Allah yang punya Islam ini akan membuat orang-orang yang tertidur menggeliat kembali, dan akan memberikan jawaban sesuai dengan tantangan.

Islam itu punya Allah, dan apa yang terjadi merupakan kehendak Allah. Jangan dipermainkan Islam itu, lebih baik dijadikan sahabat.