BANDUNG. Dikenal dengan sumber daya alam yang melimpah, dunia miyak dan gas bumi (migas) Indonesia mengalami kelesuan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terlihat dari sepinya pasar lelang blok migas dalam beberapa tahun terakhir.  Menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, pada tahun 2015-2016 lelang blok migas tidak ada yang dilirik oleh investor. Inilah salah satu dasar diubahnya skema sistem kontrak cost recovery (bagi hasil produk bersih) menjadi gross split (bagi hasil produksi kotor dengan investasi dari kontraktor) yang mulai digalakkan pada tahun 2017. Meskipun masih lesu, namun pada tahun pertama perubahan skema ini menunjukkan hasil positif. Lima dari 10 blok migas yang dilelang diminati investor, yakni blok Andaman I, Andaman II, West Yamdena, Pekawai, dan Merak-Lampung.

Sumber: www.esdm.go.id

Melihat fenomena lesunya blok migas, guru besar Teknik Perminyakan Institut Teknoogi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Sudjati Rachmat, DEA turut berkomentar. Menurut Sudjati, harga masih menjadi faktor utama disusul dengan evaluasi tentang cadangan dan prospeknya. Harga migas secara global yang terus turun menjadi dasar kurang menariknya untuk investasi di bidang ini. “Investor akan melakukan studi banding lokasi dan sistem kontrak negara mana yang lebih menarik dengan harga yang sekarang karena investor mencari profit. Sehingga kalau kita mau bersaing harus memiliki sistem kontrak yang menarik,” ungkap dosen yang akrab disapa Abah oleh mahasiswanya.

Menurut Sudjati beberapa blok migas yang tidak laku dikarenakan perlunya investasi besar dan kesulitan pengoperasian blok secara geografis dan ketersediaan infrastruktur serta sistem kontrak yang belum menarik. Sehingga negosiasi terus dilakukan agar kerjasama dapat menguntungkan kedua belah pihak baik pemerintah maupun investor. Menurutnya jika kontrak gross split itu tidak menarik bagi investor maka perlu dilakukan dimodifikasi dengan insentif sehingga arah panah (flow) bisa diubah agar balance. "Dulu jaman Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tidak kaku begitu. Hal seperti itu perlu dipikirkan kembali,” usul Sudjati.

Meskipun mengaku belum pernah menghitung secara detail, pernah ada investor memberikan keluhan sulitnya investasi migas di Indonesia. Bahkan karena harga yang tidak menarik banyak blok yang menghentikan kegiatan eksplorasi. Sudjati mengakui pemerintah mengubah skema tersebut tak lain untuk keseimbangan agar keuntungan tidak menggelontor ke investor. Sudjati berpendapat, semestinya kontrak skema gross split harus disesuaikan dengan setiap kondisi. Di pulau Jawa dan Sumatera dengan infrastruktur yang memadai semestinya berbeda dengan Kalimantan dan Papua. Blok di laut dangkal, laut dalam, dan rawa pun berbeda. “Menurut saya ahli-ahli yang untuk menghitung itu kan cukup banyak. Pemerintah ada patokan seperti ini tapi di pasarnya bisa diatur, dimodifikasi, sehingga win win solution. Kalau tidak menarik pasti orang lari karena terbuka kesempatan melakukan bench  marking ke negara lain” jelas Sudjati.

Sumber: Fraser Institute Global Oetroleum Survey, 2017

Sudjati menceritakan tesis mahasiswinya yang melakukan perbandingan sistem kontrak Indonesia dengan Negara Timur Tengah dan Asia Tenggara. Dari segi cadangan, migas Indonesia tidak terlalu besar berbeda jauh dengan Timur Tengah. Lokasi pun sulit dibandingkan karena Indonesia sangat bervariasi. Sehingga skema pengaturan kontrak dinilai paling lazim untuk dibandingkan karena dapat diatur sedemikian rupa. “Dulu itu kita makmur sampai bisa kirim bantuan ke kiri kanan. Sekarang kesimpulannya lebih menarik Malaysia. Abah masukkan modifikasi supaya Malaysia bisa dikalahkan ketertarikannya oleh kita,” pungkas pengamat migas nyentrik yang hingga kini kerap tour ke luar negeri bersama komunitas Harley Davidsonnya (22/01).