Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait pelarangan penggunanaan cantrang berbuntut polemik. Setelah penetapan itu, muncul aksi-aksi penolakan yang tak berkesudahan dari para nelayan, hingga Praturan Menteri No .2/PERMEN-KP/2015 tersebut harus tertunda selama dua tahun. Kini, setelah tak kunjung reda-nya penolakan dari para nelayan, peraturan ini kembali ditangguhkan hingga akhir 2017.


Berikut ini petikan wawancara Retorika Kampus dengan  Guru Besar Ilmu Teknologi Penangkapan Ikan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, MSc, mengenai polemik pelarangan cantrang .


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan aturan larangan penggunaan cantrang karena menganggap cantrang dapat menimbulkan konflik horizontal antar nelayan besar dan kecil serta merusak ekosistem laut, apakah memang cantrang begitu berbahaya?

Kalau konflik horizontal antar alat tangkap, apa pun jenis alat tangkapnya dapat saja terjadi. Penyebabnya karena ia beropererasi pada zona yang bukan peruntukannya, terlebih bila Alat Penangkap Ikan (API) tersebut lebih efektif dan skala besar yang beroperasi di zona penangkapan nelayan tradisional. Tetapi, bila di satu perairan API tersebut homogen dan beroperasi pada wilayah yang sudah disepakati, tidak akan ada konflik horizontal. Kasus cantrang di Utara Jawa sudah ada konsensus wilayah operasional, sehingga hampir tidak terdengar adanya konflik antar nelayan.

 

Antara nelayan cantrang skala besar dan kecil mereka sudah sama-sama membuat konsensus daerah operasinya. Konflik muncul manakala cantrang beroperasi di perairan pantai kurang dari 4 mil tempat nelayan tradisional. Konflik muncul karena cantrang melanggar API lainnya, seperti gillnet, panning, dll.

 

Cantrang termasuk kemalaman API dengan teknologi tradisional yang sudah sejak zaman dulu ada, dan di negara maju sudah tidak digunakan dan beralih pada trawl karena lebih efektif. Ia masuk dalam kelompok pukat tarik (seine nets) yang berbeda dengan pukat hela (trawl net). Perbedaannya pada konstruksi dan metode operasi, (kalau pukat tarik/cantrang) dilingkarkan dan ditarik ke arah kapal. Kalo trawl diseret ke belakang kapal menyapu dasar perairan yang lebih luas. Jadi dari aspek teknologi, cantrang tidak lebih baik/efektif dari trawl, sehingga bila dikatakan menyapu bersih sumberdaya ikan di laut tidak benar. Ya karena wilayah tangkapan cantrang terbatas tergantung panjang tali penarik.

 

Selama ini ‘cantrang’ telah dianggap merusak karena dipersepsikan sebagai cantrang yang dimodifikasi menyerupai trawl dan juga dioperasikan seperti trawl. Ini yang akhirnya cantrang tradisional dikambinghitamkan. Kerusakan lingkungan sangat tergantung dari intensitas operasi API dan juga efektivitasnya. Semakin tinggi efektivitas dan intensitas pengoperasiannya maka dampak yang ditimbulkannya pun semakin tinggi. Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan dan pengendalian API, bukan pelarangan yang mengakibatkan nelayan tidak bisa melanjutkan kegiatannya/mata pencahariannya.

 

Pengendalian teknologi API dapat dilakukan dengan perbaikan teknologi dan perbatasan jumlah API yang diizinkan beroperasi.

 

Apakah memang seharusnya cantrang dilarang digunakan? Dengan berbagai pertimbangan, misal pembiayaan alat pengganti cantrang dan lain-lain.

Tidak semestinya dilarang, dan lebih bijak dikendalikan dan dikelola teknologinya dengan baik. Selama ini baik pengendalian maupun pengelolaan belum dilakukan oleh MKP (Menteri Kelautan dan Perikanan) secara serius. Melarang dan menggantikannya dengan teknologi yang tidak kompatibel mengakibatkan penolakan oleh nelayan seperti yang terjadi pada saat ini. terlebih bila alat penggantinya tidak dapat menangkap ikan target sejenis.

 

Target cantrang adalah udang dan ikan demersal ekonomis lainnya. Bila penggantinya gillnet maka udang tidak dapat tertangkap, dan ikan yang lapisan renangnya di atas dasar perairan juga akan sulit tertangkap karena gillnet cenderung pasif (passive gears).

 

Jika memang cantrang merugikan dan harus dilarang, berapa waktu yang ideal untuk menyiapkan hingga pemerintah dan nelayan siap menggunakan alat tangkap baru?

Perubahan alat tangkap yang sudah familier oleh nelayan dan juga dapat diterima secara teknologi maupun metode operasinya, dapat dilakukan cepat. Waktu 6 bulan yang diberikan seharusnya sudah bisa selesai. Tetapi karena terjadi penolakan akibat kurangnya pemerintah berdialog dengan nelayan dan mensosialisasikan program pergantian alat tangkap, maka bisa memakan waktu lama bahkan gagal.

 

Apakah alat tangkap terbaik yang bisa digunakan oleh nelayan?

Alat tangkap yang baik untuk saat ini yang bisa menggantikan cantrang maupun trawl, adalah jaring insang dasar (multigears gillnet) dan jaring udang (trammel net) ataupun jaring insang kantong (pocketed gillnet). Trawl sejauh ini tetap menjadi teknologi terbaik untuk menangkap udang dan ikan dasar, tapi perlu diperbaiki selektivitasnya. Jaring insang dasar dan jaring insang kantong tersebut tidak lebih baik efektivitasnya dibandingkan trawl maupun cantrang.