Perilaku konsumtif masyarakat Indonesia sudah bukan menjadi bahasan asing lagi. Berbagai hasil kajian sudah membuktikan bahwa masyarakat kita memang pantas dicap konsumtif, terlebih saat Ramadhan dan Idul Fitri yang baru saja dilewati. Lalu, dengan julukan yang tersemat kepada mayoritas pribadi warga negara Indonesia ini, apakah kita tahu arti dari konsumtif dan penyebab munculnya perilaku tersebut?



 

Demi membuka wawasan kita terkait perilaku konsumtif, Retorika Kampus langsung membedah perilaku konsumtif lewat pemikiran ahlinya. Menurut Guru Besar Ilmu Perilaku Konsumen Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc, konsumtif adalah sebuah perilaku dimana konsumen membeli dan mengkonsumsi barang dan jasa yang sangat banyak dan berlebih, lebih besar dibandingkan rata-rata penduduk yang lain dan melebihi kebutuhannya.


 

Ia mengungkapkan, bahwa dalam perilaku mengkonsumsi barang dan jasa ada masyarakat yang disertai dengan kemampuan daya beli yang cukup dan ada pula yang tidak.


 

“Jika daya belinya tidak cukup maka ini adalah perilaku konsumtif yang negatif. Jadi mereka membeli dengan dukungan kredit,”


 

Prof Ujang pun melanjutkan, bahwa berbicara terkait kredit, selain memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh produk yang diinginkan, ada konsekuensi yang tak kalah serius pula apabila tidak disertai kesanggupan dalam membayar cicilan kredit.


 

“Kalau dia tidak mampu membayarnya, atau cicilannya akan mengurangi daya belinya pada masa yang akan datang maka ini akan berakibat buruk bagi konsumen tersebut,” ujarnya.


 

Ditelusuri lebih lanjut lagi terkait penyebab munculnya perilaku konsumtif, ahli perilaku konsumen tersebut bertutur bahwa faktor gaya hidup dan cara pemasaran perusahaan lah yang menjadi kuncinya. Gaya hidup masyarakat yang selalu ingin dilihat terkait apapun yang dipakai sangat cocok dengan perilaku perusahaan yang melakukan pemasaran agresif, sehingga terjadilah pembelian agresif yang dilakukan oleh masyarakat kita.


 

Namun, predikat yang sudah tertanam kuat ini bukan berarti tidak dapat dihilangkan. Masih ada cara untuk menghilangkan atau minimal mengurangi perilaku konsumtif masyarakat Indonesia. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendidikan agar konsumen menjadi bijak serta dibarengi dengan perbaikan regulasi terkait kredit oleh pemerintah.


 

“Pemerintah melakukan aturan-aturan terhadap kredit konsumen yang lebih ketat agar konsumen tidak mudah terprovokasi membeli barang dengan kredit,” pungkasnya.