DEPOK. Sabtu (2/12) telah dilaksanakan aksi reuni 212. Aksi tersebut tidak hanya dihadiri oleh kalangan sipil saja, tetapi juga oleh berbagai organisasi masyarakat (ormas) yang ada di Indonesia, salah satunya Ikatan Alumni Universitas Indonesia Badan Hukum (ILUNI UI BH).


Achmad Ismail ketua ILUNI UI mengatakan bahwa adanya reuni 212 terjadi karena adanya upaya dikotomi umat Islam degan rakyat atau anak bangsa yang dilakukan secara konsisten.“Lebih khusus lagi antara ulama dengan umatnya,” kata Ismail kepada retorikakampus.com.


Tak hanya itu, Alumni UI gererasi 70-an tersebut juga mengatakan bahwa dikotomi tersebut juga terjadi terhadap generasi “zaman now" (milenial). Menurutnya generasi “zaman now” saat ini miskin wawasan nasionalnya. Salah satu komunikasi politik yang masih asing di telinga gererasi “zaman now adalah teriakan takbir Bung Tomo pada masa perang kemerdekaan.“Itu adalah komunikasi politik yang asing bagi telinga generasi "zaman now",” tuturnya. 


Lanjut Ismail mengatakan, apa yang diperjuangkan adalah  nasionalisme yang kasat mata, bukan sekedar urusan agama. Ketahanan nasional kita sudah pada titik nadir. “Kaum terdidik seharusnya menjadi lokomotif di dalam membangun bangsa,” tangkasnya.


Selain itu, Sekjen ILUNI UI, Hidayat Matnur juga mengatakan reuni 212 adalah tonggak perlawanan ke depan untuk melawan tirani dan taipan sekaligus. Menurutnya, kita (rakyat) harus ingat sejarah saat tahun 2016 lalu para taipan dan tirani bersatu mencoba memanipulasi pemilih Jakarta dengan uang dan kekuasaan untuk mendukung pemimpin kebijakan pro taipan, seperti reklamasi. Oleh karena itu, tahun lalu anak bangsa bersatu melawannya. "Kini anak bangsa tersebut kumpul lagi, karena Indonesia masih dikuasai taipan melalui kebijakan reklamasi dan Meikarta.” tuturnya.

Pertengahan November lalu, ILUNI UI Badan Hukum bersama Alumni dari berbagai perguruan tinggi ITB, UI, ITS, IPB, UGM, UNPAD, UNPAR, UB, UNHAS, UNISBA, UII, UNAND, UNTAD berkumpul di Muara Kamal mendeklarasikan Forum Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (PETISI) Tolak ReklamasiIndonesia tidak boleh menjadi milik taipan, Indonesia harus memiliki seluruh tumpah darah bangsa. Meikarta dan Reklamasi yang model pro taipan harus dilawan. Itu semangat Reuni 212,” pungkasnya.