Dua puluh delapan Oktober menjadi saksi kepedulian dan kecintaan pemuda terhadap tanah airnya. Tanggal ini pun membebankan peran, bahwa pemuda adalah aktor penggerak bangsa, penggagas semangat persatuan, dan agent of change yang membawa bangsa pada kemerdekaan. Beban peran yang ditinggalkan oleh para terdahulu, layaknya ditanggung di pundak pemuda era ini sebagai upaya mengisi kemerdekaan. Namun, apakah pemuda masa kini mampu menanggung peran itu? Jawaban terkait pertanyaan ini akan kita ulas bersama dua orang pendidik yang sehari-hari bergaul bersama para pemuda.

 

Dr. Aceng Hidayat, MT, mantan aktivis mahasiswa yang kini menjabat sebagai Ketua Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, serta Kepala Pusat Studi di Luar Domisili, Institut Pertanian Bogor dan Prima Gandhi, SP, M.Si dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB, memberikan tanggapannya terkait kondisi pemuda saat ini. Mereka melihat, bahwa perubahan karakter pemuda wajar terjadi karena zaman pun berubah. Kondisi sosial, ekonomi, politik, perkembangan teknologi, kurikulum perguruan tinggi, hingga nilai yang berkembang di masyarakat pun sudah berbeda. Agar lebih komperhensif, mari kita bahas kondisi pemuda saat ini dari beberapa aspek.

 

Kualitas Akademik Pemuda

Dalam menentukan kualitas akademik pemuda, terlebih dahulu perlu ditentukan indikator akademiknya. Aceng berpendapat bahwa jika indikator akademik yang dimaksud adalah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), maka pemuda di era ini memiliki capaian IPK yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemuda atau mahasiswa zaman sebelumnya. Namun, Prima Gandhi menyayangkan karena capaian IPK yang tinggi tersebut tidak dibarengi dengan technical skill yang memadai, sehingga pemuda-pemuda di era ini kualitas kerjanya lebih rendah dibandingkan pemuda masa sebelumnya.

 

“Saya suka dapat informasi dari teman yang menerima pegawai fresh graduate, kualitasnya tidak terlalu,” imbuhnya.

 

Visi Hidup Pemuda

Pembahasan terkait visi merupakan sebuah topik yang dalam dan krusial, karena visi dapat diibaratkan sebagai ruh seseorang dalam menjalani kehidupannya. Diamini oleh Aceng, bahwa visi hidup pemuda zaman dulu jauh lebih jelas dan tinggi dibandingkan dengan pemuda era ini. Idealisme, bagi pemuda zaman dulu merupakan suatu hal yang berharga dan merupakan kebanggaan. Visi dan idealisme yang kontras terasa hilang dalam diri pemuda saat ini salah satunya adalah terkait visi dan idealisme kebangsaan.

 

Budaya beropini dan mengkritisi isu-isu yang berkembang di masyarakat kian hari juga mulai pudar. Padahal, pemuda zaman dulu gencar sekali memanfaatkan media kampus untuk beropini dan aktif membuka forum-forum diskusi perihal ap apun yang terjadi, bisa politik, ekonomi, juga isu kmasyarakatan. Kebiasaan-kebiasaan itu mengakibatkan kehidupan kampus jauh lebih bergairah dan hidup. Bukannya seperti sekarang, dimana pemuda yang merupakan mahasiswa, hanya bertindak sebagai event organizer suatu acara.  Tak bisa dipungkiri bahwa sekarang pun, kegiatan-kegiatan diskusi atau seminar masih marak dilakukan oleh mahasiswa, namun mereka kebanyakan sama sekali tidak mengetahui substansi dari acara bahkan tema yang mereka sendiri gulirkan.

 

“Harusnya, saat mengundang narasumber dari luar kampus, mahasiswa pun siap untuk berdiskusi sebagai perwujudan rasa kepedulian secara intelektual,”  jelas Aceng.

 

Haus Ilmu di Kalangan Pemuda

Lagi-lagi, indikator tingkat haus ilmu pemuda zaman ini juga kalah dengan semangat menuntut ilmu pemuda-pemuda zaman dulu. Lihat saja pada aktivitas perkuliahan. Aceng dan Prima sama-sama melihat bahwa mahasiswa sekarang banyak yang sudah merasa cukup hanya dengan belajar dari salinan power point perkuliahan. Berbeda dengan zaman dulu, dimana text book menjadi rujukan yang harus dibaca dan didiskusikan bersama. Semangat untuk mencari sumber-sumber ilmu, literatur utama, begitu menggebu.

 

Pragmatisme Mahasiswa

Tidak bisa dipungkiri, pemuda zaman ini memang mayoritas berpikir jangka pendek. Pemikiran yang sama, yang mayoritas muncul dalam benak pemuda adalah suau alur hidup: kuliah, lulus kuliah, bekerja, menikah, dan selesai. Apabila ditanya lebih spesifik terkait harapannya tentang pekerjaan, Aceng sering menemukan pemuda-pemuda yang masih bingung sebenarnya ia harus atau berminat bekerja dimana, pada sektor apa. Nol besar, beberapa dari mereka hanya berpikir untuk mendapatkan uang dan kesenangan pribadi. Sehingga, pantaslah kiranya jika pada poin sebelumnya dikatakan bahwa visi kebangsaan pemuda tergolong mengkhawatirkan, karena untuk mennetukan visi hidup pribadi saja mereka sudah sangat gelagapan.

 

Kepedulian Pemuda

Tingkat kepedulian pemuda memiliki kondisi yang sama dengan visi dan ke-pragmatisannya, yaitu kondisi yang menghawatirkan. Berbeda dengan era sebelumnya, pemuda saat ini begitu disibukkan dengan kegiatan dan permasalahan-permasalahan diri hingga mengabaikan permasalahan lain yang berkembang di masyarakat. Berbeda dengan pemuda zaman dulu yang selalu merasa terpanggil jika ada permasalahan yang terjadi di masyarakat, sekali pun permasalahan tersebut tidak berkaitan dengan bidang keilmuan yang diampunya di kampus.

 

Berbeda dengan sekarang, sedikit sekali terlihat kepedulian pemuda  ketika muncul isu-isu nasional. Misalkan isu tentang tenaga kerja, isu tetang climate change, isu degradasi lingkungan, serta isu tentang kemiskinan. Padahal, Aceng membandingkan, bagi kalangannya dulu, isu-isu tersebut adalah bagian yang mereka pikirkan.

 

“Idealisme kami ada di situ,” kenangnya.

 

Prima Gandhi melihat, ketidakpedulian pun bisa dilihat dari semakin rendahnya minat pemuda untuk mengikuti organisasi. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa organisasi tidak akan memberikan manfaat apa pun bagi dirinya. Pemuda era ini sudah terjangkit pemahaman liberal, yakni lebih mementingkan kepentingan individu. Padahal, seharusnya mereka sadar bahwa pemuda memiliki tanggung jawab sosial. Apalagi bagi para pemuda yang mengenyam pendidikan di kampus negeri, harusnya sadar bahwa sebagian biaya pendidikannya disubsidi oleh negara, dari hasil pembayaran pajak seluruh warga negara Indonesia.

Prima Gandhi, SP. M.Si


Solusi Untuk menumbuhkan Kepedulian dan Menanamkan Visi Kebangsaan

Prima Gandhi berpendapat, bahwa salah satu penyebab ketidakpedulian dan nihilnya visi kebangsaan dalam diri pemuda adalah karena mereka tidak mengetahui sejarah. Pemuda-pemuda sekarang, semenjak lahir, melihat kondisi lingkungan yang didominasi oleh persaingan dan bukannya semangat kebersamaan untuk membangun. Sehingga, pemberian pengetahuan serta pemahaman terkait sejarah bangsa dirasa penting untuk dilakukan.

 

Selanjutnya, penyebab ketidakpedulian dan nihilnya visi kebangsaan, selain berasal dari diri pemuda sendiri, juga adalah hasil dari pengkondisian sistem. Sehingga, penyelesaiannya pun harus masuk pada ranah sistem. Setidaknya, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengembalikan pemuda pada khitah-nya, yaitu:

1.     Menyediakan ruang diskusi bagi pemuda. Diyakini oleh kita semua, bahwa zaman tidak bisa diputar ulang, namun pengkondisian iklim yang sama dengan zaman sebelumnya sepertinya masih dapat diusahakan. Sehingga, jika kekurangan pemuda saat ini terletak pada daya kritisnya, yang berimbas menjadi ketidakpedulian dan nihilnya visi kebangsaan, maka perlu ada ruang untuk mereka melakukan diskusi dan kritik. Pembukaan ruang diskusi dan kritik ini, menghasilkan konsekuensi kepada pihak lain, yakni harus termilikinya sikap siap dikritik. Jika sistem sosial yang hidup adalah sistem anti kritik, maka cita-cita mengembalikan daya kritis, kepedulian, dan misi kebangsaan pemuda sampai kapan pun tidak akan terlaksana.

2.     Perbaikan sistem pendidikan secara keseluruhan. Tumbuh suburnya sikap pragmatis, bisa saja terjadi akibat sistem pendidikan Indonesia yang hanya mengajarkan anak-anak dan pemuda untuk hidup di satu dimensi. Sehingga, pola pikir yang terbentuk adalah jalan pikiran linier, seperti runutan kuliah, lulus, bekerja, mendapat uang, sejahtera, lalu selesai. Untuk memperbaikinya, perlu dibangun sebuah kurikulum pendidikan dan suatu metode pengajaran yang memungkinkan pemuda untuk berpikir kritis.

 

Andai saja, solusi-solusi yang dikemukakan dapat dibangun dan dilaksanakan secara berkesinambungan, bukan tidak mungkin peristiwa 28 Oktober 1928 akan terjadi kembali. Karena, sekali pun telah mengantongi status ‘merdeka’, nyatanya masih banyak aspek-aspek yang belum diarasakan manfaatnya oleh segenap tumpah darah Indonesia. Juga, walaupun Indonesia telah dipersatukan dalam ikatan tanah air satu tanah air Indonesia, faktanya persatuan yang diidamkan belum juga terlaksana, malah kian hari jurang pemisah terasa semakin bertambah. Begitu pula tentang bahasa yang satu. Secara harfiah mungkin bahasa yang satu telah tercapai, namun secara maknawi, seluruh masyarakat Indonesia toh belum sampai pada kesamaan bahasa yang membuat segala perbedaan lenyap.

 

Sekali pun demikian, optimisme harus selalu dibangun, harapan masih ada. Dan mari, bersama kita menyambut serta memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan doa dan aksi nyata demi kemajuan bangsa.