Sutarno, itulah nama asli dari pria paruh baya yang lebih dikenal halayak dengan sebutan Cak Tarno. Terlahir dari keluarga petani di Mojokerto pada tanggal 16 April 1970 silam, mengharuskan dirinya hanya mengenyang pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja. Setelah lulus SMP, Sutarno tidak mau melanjutkan profesi orang tuanya sebagai petani, ia memilih untuk merantau ke ibu kota. Pada akhir tahun 1997, dimulailah babak baru cerita jalan kehidupan Cak Tarno. Ia diajak salah satu kerabatnya bernama Yusuf yang memiliki bisnis toko buku di sekitar Stasiun Universitas Indonesia (UI), Depok. Mereka menyediakan buku bekas dan text book untuk kebutuhan kuliah mahasiswa. Namun, hanya berselang satu tahun, Yusuf memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha tersebut, karena dia menilai ada peluang usaha yang lebih menjanjikan dan memilih untuk pindah lokasi ke Kwitang, Jakarta Pusat. Namun menurut Sutarno, sangat disayangkan jika usaha ini ditinggalkan begitu saja, sebab potensinya lumayan besar. 


Sejak saat itulah Cak Tarno memulai jualan buku dengan modal sendiri. Berbekal modal Rp250.000, pada waktu itu ia masih menjual buku bajakan dan buku bekas. Ia mendapat buku bekas dan pajakan tersebut dari lapak-lapak abu gosok yang berlokasi di Pasar Minggu. Tidak lama berselang, muncullah kompetitor kios buku dengan modal yang jauh lebih besar. Di situlah kios buku Cak Tarno “goyah”. Pada tahun 2002, ia bertemu Gorys Ginggur, seorang distributor buku. Ginggurlah yang mengenalkan Cak Tarno pada buku ilmu-ilmu sosial dan budaya. Akhirnya, Cak Tarno mentransformasi penjualan bukunya, ia hanya berfokus pada buku-buku sosial, filsafat, budaya, dan lainnya.


Pada tahun tahun 2013 lalu, terjadi sebuah penggusuran di sekitar Stasiun UI. Hal tersebut menyebabkan beberapa pedagang yang berada di sana harus angkat kaki, tidak terkecuali kios buku Cak Tarno. Melalui arahan relasi di kampus UI, Cak Tarno akhirnya menyewa salah satu kios yang berada di Fakultas Ilmu Pengetahuan (FIB) UI yang kebetulan saat itu ada kios yang kosong untuk di tempati. Letak kios tersebut di Gedung VIII tepat di samping Kantin Sastra (Kansas) FIB UI menghadap payung-payung kantin.


Bukan Kios Buku Biasa


Sejak tahun 2005 silam, Cak Tarno berinisiatif mendirikan suatu komunitas tempat berkumpulnya mahasiswa. “Cak Tarno Institute” (CTI), demikian namanya. Wadah diskusi dan ruang bertukar pikiran. Pesertanya pun beragam, dari dosen, mahasiswa S1 sampai S3 bahkan seniman, sastrawan ikut dan bahkan para pakar lainnya pun terlibat aktif. 


“(mulanya berawal dari) mahasiswa yang mau berangkat kuliah sering mampir, dosen pun sering mampir, begitu juga saat pulang kuliah sering mampir, akhirnya lama-lama (saya berpikir) masa cuma ngobrol-ngobrol gini-gini doing, kenapa gak dibikin komunitas saja,” ujarnya saat menceritakan awal mula berdirinya CTI.


Sejak saat itulah, kios buku Cak Tarno yang luasnya tidak lebih dari 3x5 meter, berubah tidak hanya kios tempat jual beli buku saja, tetapi menjadi tempat untuk berdiskusi bagi seluruh civitas akademisi, para pakar dan para budayawan Indonesia. Diskusi tersebut rutin diadakan setiap hari Sabtu mempresentasikan beberapa makalah hasil penelitian baik yang sudah dipublikasikan maupun makakalah yang belum dipublikasikan dengan berbagai literatur ilmu. Hingga saat ini sudah ratusan makalah yang dipresentasikan dalam diskusi Sabtuan Cak Tarno Institute, beberapa nama besar pernah mengantarkan gagasannya dalam diskusi ini. Seperti Sosiolog Thamrin Amal Tomagola, mantan Menkumham Yusril Ihza Mahendra, pakar politik Indra J Piliang, pengamat politik Rocky Gerung, dan banyak lagi yang lainnya.


Buku-Buku Yang Khas


Selain menjadikan kios bukunya menjadi tempat berdiskusi, buku-buku yang dijual di kios Cak Tarno ini terbilang khas. Pasalnya, toko buku ini dikenal menyediakan buku yang sulit dicari di pasaran pada lazimnya, bahkan di kios ini bisa mencari buku yang sudah tidak beredar sekalipun. Seperti cetakan pertama Abangan, Santri, Priyayi: Dalam Masyarakat Jawa oleh Clifford Geertz (1983), Sejarah Revolusi Nasional oleh Nyoman Dekker (1989), dan Sobat oleh Putu Wijaya (1981). Namun menurut Cak Tarno, buku-buku seperti ini tidak untuk dijual melainkan sebagai koleksi bagi toko bukunya. Menurut pengakuan Cak Tarno, buku-buku populer yang dijual di tokonya justru kurang peminat.


Salah satu mahasiswa Ilmu Politik UI, Muhammad Luthfi, mengaku bahwa ia sudah lama menjadi mengunjung kios buku Cak Tarno. Menurutnya Cak Tarno tidak hanya menjual buku saja, tetapi ia juga menjelaskan isi bukunya kemudian mengajak untuk mendiskusikannya.


Saat ditanya mengenai rencana untuk membuka toko buku cabang, pria yang paruh baya ini mengaku belum memikirkannya. Baginya kegiatan saat ini di Kedai Buku Cak Tarno bukan hanya menjual buku, melainkan juga kebiasaan berdiskusi yang kritis dan intelek. Sehingga terpikir untuk membuka cabang, tapi masih bingung mencari orang yang siap menjalankannya dan benar-benar konsisten dan niat untuk menjalankan usahanya. “Karena untuk menjual buku ini nggak gampang, perlu komitmen, dan dia harus tahu kontennya (buku) tadi. Selain itu, bagaimana dia membangun sebuah relasi,” tangkasnya.