BANDUNG. Bulan suci Ramadhan selalu ramai dengan kegiatan keagamaan di berbagai lini terutama masjid-masjid. Tidak terkecuali masjid kampus. Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai salah satu masjid kampus percontohan yang selalu berhasil menghadirkan tokoh nasional sebagai pengisi ceramahnya sangat menarik untuk dibahas. Pasalnya, meskipun Salman dikenal sebagai masjid kampus, salman tidak hanya ramai oleh aktivitas mahasiswa. Orangtua dan anak-anak pun turut menjadi faktor sehingga Salman terlihat begitu hidup. 

 

Berangkat dari rasa penasaran akan kejayaan Salman, kru Retorika Kampus berhasil menemui bapak Dr. Ir. Suparno Satira selaku ketua Pembina Masjid Salman ITB. Pensiunan dosen Fisika ITB tersebut menceritakan dengan detail perjuangan Salman dari sengketa dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) hingga berjaya seperti sekarang. Berikut pemaparan dari Pak Suparno selaku saksi perjalanan dakwah Salman.

 

Tahun 1959   
Semua berawal dari keprihatinan. Warga ITB jika akan sholat jumat harus mencari masjid di luar kampus, dimana masjid yang paling dekat adalah di masjid cipaganti yang dulunya masih berupa sawah, atau di sekeloa. Hingga muncul pemeo jika ingin sholat harus break atau bolos kuliah. Sehingga banyak teman-teman bilang 'wei titip salam'.

 

Keprihatinan tersebut mendorong beberapa insinyur yang mulai menjadi dosen di ITB seperti almarhum Pak Sadali, Pak Nu’man, Bang Imad, Pak Rusyad, Pak Khamran dan yang masih hidup adalah Pak Sulaiman untuk membuat masjid. Belakang ITB sempat dijadikan kandidat calon masjid Salman, namun rencana tersebut dilarang rektor atas sebab akan dibangun untuk kantor Lembaga Afilisasi dan Penelitian Industri (LAPI).

 

"Tidak terbayang akan sebesar ini. Bahkan belum tahu dimana tempatnya. Paling tidak semangatnya sudah ada." Ucap beliau.

 

Pada masa itu, tanah ini masih berupa kebun yang dikelola oleh petani di bawah naungan barisan tani Indonesia, ormas PKI sehingga cukup sulit untuk didapatkan karena tidak ada dukungan dari rektor, walikota, dan sebagainya.

 

Mencoba memutar otak akhirnya muncul ide. ada salah seorang aktivis ITB yang kenal dengan pak Sobur, seorang paspampres (komandan) Presiden Soekarno. Melalui beliau, para aktivis ITB ingin menghadap Presiden. Mulailah Pak Nu’man sebagai arsitek dalam waktu sangat singkat mendesain gambar perspektif masjid yang saat itu belum punya nama. Bung Karno sangat antusias karena beliau adalah alumni ITB, dan menyumbangkan nama Salman.

 

“Alasan beliau, salman adalah teknokrat islam pertama yang mempunyai gagasan untuk penerapan teknologi dalam kehidupan, seperti gagasan Salman al Farisi dalam membuat parit di perang khandaq.” 

 

Tahun 1963/1964      
Bisa dibilang, tahun ini merupakan tahun yang panas bagi para aktivis ITB dalam memperjuangkan lahan untuk masjid Salman. Mendapat restu dari Bung Karno tidak serta merta membuat Salman mudah dibangun. Karena sebelum G30S PKI, masuknya ide nasakom memberikan peluang besar ke PKI untuk menguasai masyarakat melalui CGMI (mahasiswa), barisan tani (masyarakat) dan gerwani (perempuan).


“Waktu itu mahasiswa ITB juga banyak PKI. Ketika saya masuk ITB, sudah ada pelarangan PKI.”

Pada tahun ini para aktivis harus berhadapan dan berseteru dengan barisan tani yang saat itu menolak meninggalkan lahan garapan mereka. Ini tidak gampang karena barisan tani bisa dibilang berani main parang atau arit. Saat itu ada Pak Muslimin Nasution, Muji Raharjo, Purwoto Handoko dan mahasiswa lain yang dengan heroiknya merebut lahan.

 

Tahun 1967-1968     
Diawali ketika Salman mendapat bantuan dari menteri agama berupa semen namun tidak cukup untuk membangun masjid. Akhirnya yang dibangun pertama kali adalah menara Salman atas pertimbangan syiar minimal dengan mengumandangkan adzan, sedangkan di sisi timur menara dibangun gubug kayu sebagai musholla. Dari situlah mulai dilakukan ceramah yang memberikan pemahaman tentang Islam bagi masyarakat kampus dengan ciri sebagai ilmuwan/teknolog yang kerangka pikirnya dibangun dengan mengedepankan otak kiri. Ceramah yang bersentuhan dengan konsep tersebut rupanya cukup menarik bagi masyarakat umum yang mendengarkan. Dimana pada masa itu Islam masih relatif asing di kampus. Islam dikenal dengan kehidupan ibadah ritual saja sedangkan implementasi pemahaman ibadah mahdhoh dengan muamalah tidak diperhatikan.

 

“Kalau hari minggu warga ke taman ganesha, sambil ngajak anak-anaknya piknik naik kuda, orang tuanya ngga di sini (musholla), tapi duduk dimana mana dengerin karena ceramahnya dipancarkan lewat menara. Ceramah kuliah dhuha jadi salah satu daya tarik dalam memperkenalkan Islam.”

 

Saat itu juga masih banyak yang sering sinis karena anggapan Islam adalah kerjaan orang kampung (pesantren) sedangkan orang kota bukan islam (sekuler). Intelek tidak perlu agama. Dan ceramah pun ada sedikit gangguan dari PKI tapi tidak menonjol. Namun dengan semangat perjuangan para aktivis baik dosen mauun mahasiswa yang bergerak atas semangat islam, pada tahun 1969 pondasi masjid Salman berhasil dibangun dengan biaya sendiri dan shodaqoh dari masyarakat.

 

Tahun 1970   
Di awal 70-an, para aktivis yang seperti tahan banting mulai dipusingkan dengan pertanyaan bagaimana caranya mengajak masyarakat kampus ke Salman. Tidak harus dengan langsung ngaji dalam pengertian Alquran. Tidak harus dengan mengajak solat. Yang dilakukan adalah melakukan kursus merangkai janur, origami, pramuka. Artinya masih dalam taraf ‘yuk datang untuk melakukan aktivitas’.

 

Sedangkan kuliah dhuha ceramahnya dibiarkan bebas dan tidak harus bahas Alquran, yang terpenting sesuai spesialis dosen pengisinya. Bagi mahasiswa yang dengerin ingin baca Alquran disediain kelas khusus Alquran. Sedangkan yang udah lebih tinggi ingin belajar hadits ada kelas khusus hadits, ada kelas khusus teknologi tepat guna, ada juga kelas khusus masak.

 

“Memang terbukti ketika dosen bicara di salman bicara tentang bidangnya, secara langsung ada ikatan batin bahwa dia adalah bagian di salman.”

 

Selain musholla kayu di area Salman, pada tahun ini aktivis telah berhasil melakukan negosiasi ke rektorat untuk memakai salah satu sudut aula barat untuk digunaan sebagai masjid untuk sholat jumat. Karena jamaah sholat jumat bukan hanya dari civitas akademika ITB, alhasil pada tahun itu pula jamaah sholat jumat meluber hingga ke halaman.

 

Tahun 1971   
Jumat, Bulan Mei tahun 1971 merupakan hari bersejarah bagi aktivis Salman khususnya dan warga ITB dan sekitarnya pada umumnya. Hari itu untuk pertama kalinya Salman digunakan untuk sholat jumat. Dengan lantai yang mash pelur ditutup tikar, tanpa dinding namun sudah beratap. Sholat jumat pertama dengan jamaahnya yang sudah meluber keluar. Salah satu aktivis Salman, Prof. Ir. Sulaiman yang menjabat sebagai Ketua Pembina masjid Salman pada waktu itu menjadi Khotib sekaligus imam.

 

Derai air mata kemenangan menjadi atmosfer yang tak dapat dilupakan oleh Pak Suparno yang saat itu menjadi pengurus Salman sekaligus Mahasiswa jurusan Fisika.

 

Bersambung...