DEPOK. Gerakan Asmat Bebas Gizi Buruk (GABRUK) adalah gerakan yang dibuat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa seluruh Universitas Indonesia (BEM se-UI) untuk membantu mengatasi gizi buruk yang ada di Kabupaten Asmat, Papua. Gerakan ini merupakan aksi sosial dan penggalangan dana melalui kitabisa.com/donasiasmat, terhitung pada (13/2/ 2018) lalu pukul 21.00 WIB telah terkumpul dana Rp 226.600.000.


Gerakan tersebut seolah menjawab rencana presiden yang akan memberangkatkan Ketua serta jajaran BEM UI ke Asmat pada beberapa waktu lalu. Dari keterangan yang di dapat retorikakampus.com, Zaadit Taqwa selaku ketua BEM UI mengakui bahwa gerakan tersebut sudah direncanakan bahkan sebelum aksi pemberian kartu kuning kepada Presiden Jokowi. Oleh karenanya, rencana presiden disambut dengan baik, tetapi menurutnya, BEM UI tidak ingin pergi ke Asmat menggunakan fasilitas negara yang seharusnya dipakai untuk membantu mereka.


BEM Se-UI mengirimkan dua tim untuk dikirimkan ke Kabupaten Asmat, Papua. Hal ini dilakukan untuk memperluas jangkauan wilayah dari aksi sosial dan memperbesar kontribusi yang diberikan.  Tim pertama, BEM Se-UI memberangkatkan 4 orang mahasiswa UI pada tanggal 12 Februari 2018 ke Distrik Siret, Kabupaten Asmat, Papua. Hal ini merupakan kerjasama BEM Se-UI dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT), ACT merupakan lembaga yang membantu BEM Se-UI untuk menyalurkan bantuan ke kabupaten asmat, khususnya Distrik Siret. Hal yang dilakukan adalah pelayanan kesehatan, pemberian paket gizi dan pangan, serta assesment ke rumah-rumah warga pada distrik tersebut. Dana yang digunakan untuk pembelian pangan dan paket gizi berasal dari penggalangan dana melalui platform kitabisa.com.


Tim kedua, merupakan kerjasama BEM Se-UI dengan UI Peduli, merupakan gerakan yang terdiri dari civitas academica se-UI, baik dari pihak birokrat kampus, dosen, maupun mahasiswa se-UI. Tim UI Peduli akan berangkat pada tanggal 14 Februari 2018 ke Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, Papua. Hal yang dilakukan oleh gerakan UI Peduli adalah rapid assesment dan lumbung pangan. Fokus dari gerakan UI Peduli ini adalah penanggulangan jangka menengah dan jangka panjang. Untuk detail dari dana yang digunakan dan akan dijelaskan pada laporan pertanggungjawaban kami.


Ketua BEM UI Tidak Ikut ke Asmat


Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam aksi kemanusiaan tersebut ialah ketidakikutsertaan Ketua BEM UI ke Asmat. Hal tersebut diakui oleh Zaadit Taqwa, perihal ketidakikutsertaannya ke Asmat, Papua karena telah mempunyai agenda Musyawarah Nasional BEM Seluruh Indonesia (SI) dan ia beranggapan Idmand Perdina yang membawahi bidang Sosial Masyarakat di BEM UI lebih baik untuk mewakili keberangkatan BEM UI melalui ACT.


Walaupun demikian, kata Zaadit, BEM UI tetap berkomitmen bersama pemerintah menjadi mitra kritisi pemerintah selama satu tahun ke depan dan kami masih menunggu respon pemerintah terhadap ketiga isu yang kemudian kami angkat dalam Kartu Kuning Jokowi.


“Pertama adalah Kejadian Luar Biasa Campak dan Gizi Buruk di Asmat, kedua adalah terkait Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jawa Barat dan Sumatra Utara yang berasal dari perwira polisi aktif, dan yang ketiga adalah draft Permenristekdikti tentang pergerakan kemahasiswaan,” himbau Zaadit.