DEPOK. Masalah tingkat keterjangkauan akses listrik (rasio elektrifikasi) merupakan masalah klasik Indonesia, meskipun data menunjukkan bahwa tingkat akses listrik kita dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, tingkat rasio elektrifikasi pada 2014 ada di angka 84,35%, pada 2015 ada di angka 88,30%, dan pada tahun 2017, rasio elektrifikasi mencapai 92,75%.

Walaupun demikian, masih banyak daerah di Indonesia yang rasio elektrifikasinya jauh di bawah rata-rata nasional. Hal tersebut sangat nyata di daerah-daerah terpencil dan jauh dari pusat pembangunan seperti di daerah pegunungan, pulau di Maluku, dan Papua. Sebagai contoh, rasio elektrifikasi di Maluku adalah sekitar 59,17%, sedangkan Papua baru mencapai angka 48,74% pada Juni 2017.

Hal tersebut memicu peneliti dari Universitas Indonesia (UI), yaitu Ir. Chairul Hudaya, ST, M.Eng., Ph.D., IPM dan Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, MT menciptakan sebuah solusi bagi permasalahan listrik dengan menciptakan teknologi Tabung Listrik (TaLis)

Dilansir dari halaman Universitas Indonesia, pada Rabu (31/1), Dalam konsep TaLis, energi listrik bisa disimpan dalam sebuah media penyimpanan energi (baterai) untuk selanjutnya dipakai mengoperasikan peralatan elektronik. Dengan demikian, kebutuhan listrik tidak lagi tergantung pada sistem transmisi jarak jauh dari sumber pembangkit listrik raksasa.

Dalam melakukan pengisian ulang, TaLis dapat diisi di Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL) dan didistribusikan seperti ditribusi Tabung LPG. Pengisian ulang dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, yaitu selama 4 jam.  Satu unit TaLis dapat menyuplai satu kebutuhan rumah di pedesaaan. Ini adalah sebuah bentuk inovasi bagi dunia listrik Indonesia yang masih sangat bergantung pada metode konvensional dalam melakukan distribusi listrik.

Selain itu, TaLis juga memiliki bentuk yang ringan dan portabel, TaLis dapat menyimpan 630 Wh energi listrik berbasis baterai lithium-ion serta mudah dipakai karena menggunakan sistem plug and play, tidak memerlukan kWh meter dan jaringan distribusi listrik sehingga harganya menjadi murah. "Semua ini menjadi keunggulan TaLis dalam menjadi sebuah media penghantar listrik bagi daerah-daerah yang terisolasi dan belum terdapat jaringan listrik," Kata Chairul Hudaya.

Menurut Chairul Hudaya, adanya TaLis merupakan suatu bentuk upaya Universitas Indonesia (UI), sebagai sebuah universitas yang mengedepankan riset, untuk melakukan proses hilirisasi riset dengan konsep triple helix. “Untuk menerapkan konsep ini, saat ini kami sudah bekerjasama dengan berbagai pihak. Misalnya berkat bantuan CSR PT. Wijaya Karya (Persero), TaLis telah diterapkan di Sekolah Master Indonesia-Depok sejak November 2017. Sementara dengan PLN, Talis akan diimplementasikan dalam menyediakan pasokan listrik di wilayah Maluku dan Papua,” tuturnya.