Barel merupakan gang yang menghubungkan Stasiun Univerisitas Indonesia dengan Jalan Margonda Raya. Di gang tersebut terdapat sederet toko yang menjual buku murah dan koleksinya lengkap. 

 

Depok—Gang selebar sekitar tiga meter itu menghubungkan Jalan Margonda Raya dengan Stasiun Kereta Api Universitas Indonesia  sejauh 500 meter. Gangnya cukup sempit lantaran hanya bisa dilalui satu mobil. Penduduk sekitar dan mahasiswa UI menyebut gang tersebut barel, akronim dari belakang rel karena lokasinya yang berada di belakang rel Stasiun Universitas Indonesia.

 

Kondisi gang agak kumuh. Apalagi musim penghujan. Gang tersebut becek. Meskipun  kumuh, barel merupakan gang paling istimewa di antara gang-gang lain yang ada di sekitaran kampus UI. Berbeda dengan gang-gang lain yang hanya untuk sekedar melintas, gang barel ramai dengan aktivitas jual beli. Ada penjaja makanan dan muniman, kios buku teks dan novel, kios kaos-stiker-alat tulis, kios pulsa, kios penyewaan buku fiksi, bahkan pengemis serta pengamen dengan alat-alat musik yang lengkap.

 

Bagi para mahasiswa, gang barel salah tempat yang menarik. Di sana banyak kios penjual buku dengan koleksi yang lengkap serta murah meriah, cocok untuk kantong mahasiswa. Barel bisa disebut gang dengan segudang ilmu lantaran koleksi bukunya yang lengkap. Letaknya yang menghubungkan antara Stasiun UI dengan Jalan Margonda Raya, menjadikan tempat ini ramai dikunjungi banyak orang, tidak terkecuali mahasiswa. Bukan hanya mahasiswa UI saja yang bertransaksi di sana. 

 

Mahasiswa dari kampus sekitar Depok bahkan Jakarta pun banyak yang berkunjung ke sana. Salah satunya Wahyu. Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) Pasar Minggu, Jakarta, itu mengaku sejak dua tahun terakhir menjadi pengunjung tetap  toko buku yang ada di Barel. “Koleksi lumayan lengkap,” kata Wahyu kepada Retorika Kampus pertengahan April lalu.

 

Selain lengkap, mahasiswa asal Yogyakarta itu mengakui jika harga buku di barel tersebut murah ketimbang di toko-toko seperti Gramedia, Gunung Agung, dan lain-lain. Tak hanya itu, ia mengatakan buku-buku langka yang tak bisa dibeli di Gramedia atau Gunung Agung ada di barel. Beberapa buku keluaran penerbit indie pun terpampang di toko-toko buku di barel. “Di sini (Barel) cukup lengkap, salah satunya buku terbitan Yogyakarta. Di Gramedia saja tidak ada,” ujar Wahyu.

 

Sebetulnya, Wahyu sempat mencari buku yang dimaksud di sejumlah aplikasi online shop. Hanya saja, di toko daring kadang stoknya sudah habis. Lagipula, kata dia, mencarinya cukup memakan waktu karena harus pindah dari aplikasi satu ke aplikasi lain.  “Lebih senang datang ke barel dan gampang tinggal naik kereta,” kata Wahyu.

 

Meski koleksi buku di barel sangat lengkap, Wahyu tak memungkiri jika banyak buku yang ada di sana tidak orisinal. “Di sini banyak buku-buku lama tapi tidak orisinal, hanya fotokopi,” ujar dia. Karena hasil fotokopi, tak heran harganya lebih miring ketimbang di toko-toko resmi seperti Gramedia maupun Gunung Agung.

 

 

Di barel terdapat lima kios buku, salah satunya Toko Buku Erick. Dari sekian jumlah kios buku yang berada di Barel, Toko Buku Erick merupakan toko yang memiliki kios yang lebih luas dibandingkan dengan kios buku lainnya. Soal koleksi tidak usah ditanyakan lagi, pasti lengkap dan sangat banyak.

 

Toko yang namanya terlihat di kereta ketika melintas dari Stasiun UI menuju Pondok Cina ataupun sebaliknya itu, didirikan oleh Rosmaida pada 1990. Ketika itu, Rosmaida harus merogoh kocek sebesar Rp 10 juta untuk membangun usaha tersebut. Semula, ia hanya menjual buku bekas. Belakangan, ia juga menjual buku-buku keluaran terbaru.  

 

Selama 18 tahun, Rosmaida telah melalui pasang surut usaha menjual buku. Toko buku yang menjadi tempat usahanya itu pernah ditertibkan beberapa tahun lalu lantaran berada di area stasiun. Kini, ia tak perlu khawatir digusur kembali karena sudah menetap di barel. Toko Buku Erick mulai buka dari pukul 08:00 pagi sampai pukul 21:30. Sedangkan pada Ahad, toko libur.

 

Rosmaida bercerita, selama berjualan di barel, tokonya tak pernah dicuri. Saat ini, omset penjualan buku di tokonya mencapai Rp 30-50 juta per bulan. Sedangkan penjualan buku di barel secara keseluruhan, menurut dia, terus meningkat. “Grafiknya meningkat, walaupun naiknya pelan-pelan,” kata dia.

 

Saking banyaknya koleksi buku di toko ini, Rosmaida tidak dapat menyebutkan secara detail berapa jumlahnya. “Jumlahnya ribuan buku,” kata dia. Koleksi buku di Toko Erick mulai dari novel, biografi, ideologi, mata kuliah, sampai buku umum. Adapun, harga bukunya mulai dari Rp 10 ribu sampai dengan Rp 1,1 juta.

Deden Nurodin