DEPOK. Februari merupakan bulan yang sepesial bagi Universitas Indonesia, pasalnya tepat 68 tahun silam, di bulan yang sama, yaitu tanggal 2 Februari 1949 kampus perjuangan ini resmi menyandang nama Universitas Indonesia (UI). Selain itu, UI juga memakai slogan Veritas, Probitas, dan Iustitia (kejujuran, kebenaran, dan keadilan). Oleh karenanya, tidak heran jika kampus UI disebut dengan kampus perjuangan, karena UI memang mengemban amanah perjuangan rakyat.


Hal senada dikatakan oleh Achmad Ismail, salah satu dari Alumni UI tahun 70-an. Ia mengatakan bahwa UI adalah kampus perjuangan yang sejatinya menyandang tugas sejarah untuk melahirkan para intelektual untuk kemajuan Bangsa dan Negara Indonesia. Akan tetapi, Ismail sangat menyayangkan terhadap kondisi UI saat ini. Menurutnya selogan Veritas, Probitas, dan Iustitia kini hanya tinggal sebuah ungkapan tanpa makna, seperti narasi sebuah iklan yang tidak akan bisa ditemui kenyataannya.


“Sebuah keprihatinan atas sebuah institusi yg sejatinya menyandang tugas sejarah untuk melahirkan intelektual, ternyata malah bangga menjadi "pabrik tukang",” ujar Ismail.


Almuni UI yang saat ini menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni UI Berbadan Hukum (ILUNI UI BH) tersebut mempertanyakan kemanakah sikap kritis UI yang selama ini sangat disegani dan ditakuti oleh para penguasa negeri ini (Indonesia). Seolah Lembaga Pendidikan sudah menjadi birokrasi. Tepat di perayaan Dies Natalis ke-68 UI, ILUNI UI BH mengatakan “Dies Natalis UI penuh kegelapan, kemanakah sikap ktitismu wahai kaum intelektual. Almamater ku dirundung kegelapan. Cahaya itu hilang, yang ada hanyalah nafsu dan kepentingan sesaat”.