Mahasiswa Universitas Indonesia membentuk komunitas mendongeng. Tujuannya untuk menumbuhkan kembali tradisi budaya mendongeng anak yang tergerus zaman.

 

Depok— Perubahan zaman menggerus tradisi mendongeng. Di zaman yang semakin melek teknologi seperti sekarang ini, banyak orang tua yang mulai meninggalkan budaya mendongeng untuk anak-anaknya. “Tradisi  mendongeng sudah mulai menipis, sudah mulai jarang ada” kata Ayyubie Cantika Yuranda, mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu dan Budaya  Universitas Indonesia kepada  Retorika Kampus pertengahan April lalu. 

 

Padahal, kata dia, mendongeng merupakan salah satu kegiatan yang dapat memberikan banyak manfaat bagi anak-anak. Melalui kegiatan mendongeng, daya imajinasi anak-anak akan terstimulasi. Tidak hanya itu, kemampuan mendengar dan berkomunikasi anak-anak pun akan terasah seiring diceritakannya kisah-kisah dongeng.

 

Kegiatan mendongeng juga bermafaat bagi emosi anak-anak. Interaksi verbal saat mendongeng akan mempererat hubungan antara anak dengan orang tua. Melalui berbagai cerita dongeng, anak-anak dapat belajar tentang dunia di sekitarnya. Secara tidak langsung, kata Ayyubie, kegiatan mendongeng dapat menjadi media dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini.

 

Sebermula dari keprihatinan dia lantaran semakin memudarnya tradisi mendongeng, Ayyubie bersama dengan teman-temannya dari divisi Pengabdian Masyarakat Ikatan Keluarga Sastra Indonesia (IKSI) FIB UI mendirikan komunitas mendongeng Domikado pada April 2016.  Domikado adalah singkatan dari Dongeng Kami untuk Anak Indonesia.

 

Ia mengatakan domikado merupakan wujud kepedulian mahasiswa sastra Indonesia untuk menjaga budaya mendongeng. Kami melihat anak-anak zaman sekarang sudah lebih banyak memainkan gawai ketimbang bermain bersama teman-temannya sendiri,” kata mahasiswi yang akrab disapa Yubi ini.

 

Selain itu, kata Yubi, Domikado juga didirikan untuk menumbuhkan kesadaran atas pentingnya gerakan membaca. “Kami mau menumbuhkan kesadaran atas pentingnya membaca. Apalagi kami juga melihat bahan bacaan yang berkualitas untuk anak-anak sudah mulai berkurang ,” ujar dia.

 

Menurut dia, mendongeng adalah salah satu wujud gerakan literasi yang penting bagi anak-anak. “Gerakan literasi itu penting buat anak-anak. Dari sana mulanya dibentuk Domikado” kata Yubi.

 

Di usianya yang menginjak 2 tahun, Domikado sudah memiliki anggota sebanyak 46 orang. Semula, Domikado didirikan hanya untuk mahasiswa sastra Indonesia. Seiring berjalannya waktu, Domikado mendapatkan respons positif dari mahasiswa di luar jurusan sastra Indonesia. “Walaupun tergolong komunitas baru, tapi kami sadar bahwa banyak teman-teman di luar fakultas yang juga peduli terhadap anak-anak dan suka mendongeng” ujar Yubi.

 

Tak hanya itu, ada pula beberapa mahasiswa dari luar UI yang ikut mendaftar menjadi anggota Domikado. “Banyak sih teman-teman yang dari luar gabung,” katanya.  Ia menyilakan siapa saja untuk masuk ke komunitas tersebut. Hanya saja, berbagai acara kegiatan Domikado akan tetap digelar di kampus UI.

 

Yubi bercerita awalnya kebingungan mengadakan pertemuan dengan para anggota yang berasal dari luar UI. Namun, akhirnya para anggota komunitas bersepakat memutuskan untuk tetap mengadakan kegiatan pertemuan di UI. “Kami tanya dulu, bisa enggak kalau misalnya kumpulnya di UI karena kita ini sebenarnya komunitas di UI dan setiap ngumpul pasti di sini,” kata Yubi.

 

Yubi mengatakan salah satu kegiatan Domikado adalah mengadakan pelatihan mendongeng bagi para anggotanya. Tujuannya, kata dia, untuk mengasah kemampuan mendongeng agar bisa diterima oleh anak-anak. Kami mencoba dan belajar teknik-teknik mendongeng,” ujar dia.

 

Komunitas kerap diundang sebagai pengisi acara yang pesertanya anak-anak. Cerita yang dibawakan biasanya disesuaikan dengan kondisi anak-anak. Kontennya, kata dia,  untuk menanamkan nilai-nilai tertentu seperti berbuat kebaikan dan motivasi diri.

 

Tak hanya mengadopsi cerita yang ada selama ini, Domikado kerap membawakan cerita karya mereka. “Kami pernah mendongeng buat adik-adik asuhnya anak FEB UI. Nah, kami bawain dongengnya itu tentang motivasi meraih cita-cita setinggi langit.” Maskot Domikado yang bernama Domdom, Si Domba Unyu, menambah kemeriahan mendongeng bagi anak-anak.

 

Domikado berencana mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat pada Mei. Kegiatan tersebut, kata dia, hasil kerja sama dengan Departemen Sosial Masyarakat BEM UI 2018.  “Kami juga pernah melakukan kegiatan pengabdian di berbagai fakultas lain,” ujar dia.

 

Menurut Yubi, salah satu hal yang masih kendala adalah persoalan dokumentasi. Ia bercerita suatu waktu ada yang mau mengundang Domikado mengisi acara di luar namun batal gara-gara belum ada dokumentasi berupa video.

 

Selain Domikado, kata Yubi, ada pula Dosilisa atau Dongeng Edukasi Lio Sehat. Yubi mengatakan bahwa Dosilisa adala Program Kreativitas Mahasiswa di bidang pengabdian Masyarakat berupa program pembelajaran dengan metode mendongeng untuk anak-anak kampung Lio, Depok. “Sekarang sedang diajukan bersama dosen untuk mendongeng di Kampung Lio. Kalau Domikado ikonnya Domdom. Kalau Dosilisa itu Iguana dan Dinosaurus” ujar Yubi.

 

Melalui gerakan mendongeng ini, Yubi dan teman-temannya  berharap orang tua sadar akan pentingnya mendongeng. “Harapan ke depannya semakin banyak orang-orang yang peduli dengan anak-anak, semakin banyak orang yang peduli tentang pentingnya literasi yang ditumbuhkan sejak anak-anak. Sehingga anak-anak Indonesia semakin kaya akan pengetahuan melalui kegiatan literasi,kata Yubi.

Rojali