DEPOK. Terpilih sebagai Juara 3 lomba MIPA Quran Olympiad yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Mushola Izzatul Islam (LD MII) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) ini tak membuat Muhammad Yasqi Ismanda berbangga diri. Yasqi panggilan akrab mahasiswa Statistika UI angkatan 2017 ini mengatakan bahwa hidupnya adalah Al Quran itu sendiri. Ia mengaku motivasi terbesarnya untuk menghafalkan Quran adalah ingin memahami kandungan yang ada di dalam Al Quran, dan langkah pertama adalah dengan cara menghafal.


Pada perlombaan tersebut, ia mengikuti kategori 3 juz. Dengan sistem melanjutkan ayat yang dibacakan oleh juri ia berhasil melenggang menjadi juara 3. Meskipun tak menjadi perwakilan dalam Quran Olympiad di UI ia tak patah arang. Ia justru berharap generasi muda saat ini lebih mencintai Al-Quran. Ia juga berharap pemuda saat ini lebih meluangkan waktu lagi untuk mengkajinya, membacanya, menghafalnya, menerapkannya, dan juga lebih semangat lagi untuk belajar Bahasa Arab karena semua hal itu ada di Al Quran.


Pria kelahiran Ponorogo, 15 Desember 1998 ini pun mengaku tak memiliki metode apapun dalam menghafalkan Quran. “Yang paling penting sesering mungkin harus berinteraksi dengan Al-Quran dan juga mengulang hafalan”, ujarnya. Saat ditanya terkait kasus terorisme yang kerap disandingkan dengan ajaran Islam dan Al Quran, ia menolak bahwa tindakan tersebut diajarkan di dalam Al Quran. Bahkan menurutnya para teroris tersebut mengamalkan hal-hal yang bertentangan dengan Al Quran. “Di Al Quran kalo misalnya kita mau mengkaji lebih banyak lagi, ada kok aturan bagaimana kita bermasyarakat dengan nonmuslim, bukan malah bertindak ceroboh dengan mengebom”, tutupnya.